Pesta Seafood 'Brutal' Tiga Hari Tiga Malam di Cimaja

Agung Rahmadsyah, CNN Indonesia | Minggu, 05/08/2018 14:40 WIB
Pesta Seafood 'Brutal' Tiga Hari Tiga Malam di Cimaja Ikan asam manis di salah satu warung kawasan Pantai Sunset, Kabupaten Sukabumi. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Cimaja, CNN Indonesia -- Menghabiskan tiga malam di kawasan Cimaja yang dekat laut membuat saya tidak mungkin menghilangkan hidangan laut dari opsi makan malam.

Saya dan dua orang teman sengaja memilih makan malam karena ingin mendengarkan debur ombak sembari melihat gemerlap lampu dari kapal nelayan dan bagang. Selain itu, kami menghindari paparan sinar matahari.

Sejauh yang saya tahu, setidaknya ada tiga lokasi makan malam untuk menu hidangan laut di kawasan Cimaja. Lokasi pertama adalah kawasan Pantai Citepus, Pantai Sunset, dan Pantai Karang Hawu.



Malam pertama saya memilih kawasan Pantai Sunset, jarak pantai ini sekitar tiga kilometer dari Pantai Cimaja. Tempat ini adalah lokasi untuk belajar surfing karena ombaknya yang landai namun cukup bertenaga. Tak heran jika banyak papan selancar berukuran besar atau long board berjejer di sepanjang warung.

Saya dan dua orang teman langsung kalap ketika sang pemilik warung menyodorkan menu. Ikan asam manis, ikan bakar, cumi goreng tepung, udang saos padang, dan cah kangkung adalah pilihan kami pada malam itu. Tentunya dengan tambahan nasi dan minuman, demi pemuas nafsu belaka.

Cimaja dan Kisah Makan Malam yang 'Brutal'Menu makan malam di sebuah warung kawasan Pantai Sunset. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)

Sembari menunggu sajian tiba, kami menikmati suara debur ombak yang menemani. Lokasi rumah makan ini memang tidak jauh dari pantai, karena hanya berjarak kurang dari 10 meter dari 'ombak'.

Setelah menunggu lebih dari 40 menit, akhirnya pesanan kami pun tiba menjelang pukul 20.00 WIB. Cukup lama untuk menunggu makanan ini, tapi berhubung semua menu yang disajikan benar-benar segar, kami tak keberatan untuk menunggu sedikit lama.

Menu yang pertama menggoda kami adalah ikan asam manis. Siraman bumbu asam manis yang kental dipadu dengan potongan nanas membuat menu ini terasa istimewa.

Sang pemilik warung, Unang, menuturkan menu ini adalah idola pengunjung Pantai Sunset. Khususnya warga negara asing yang sedang belajar surfing. Karena menurutnya tidak semua orang asing menyukai rasa yang berlebihan.

"Sebenarnya tidak ada menu paling favorit, semua menurut seleranya. Tapi orang-orang bule suka ikan asam manis," ujar Unang, saat saya temui di dapur warungnya, Jumat (27/7).

Harga yang ditawarkan pun bisa digolongkan tidak mahal, untuk satu porsi ikan bakar berukuran satu kilogram dapat ditebus dengan harga Rp90 ribu. Sedangkan satu porsi cumi goreng tepung yang jumlahnya memenuhi piring, hanya dibanderol Rp50 ribu.

Hanya ada satu kejanggalan di tempat ini, cah kangkung tidak terkesan natural. Rasanya terbilang cukup 'menyesakkan' karena rasa bumbu penyedap dan penguat rasa yang terlalu berlebihan. Sayang sekali, cah kangkung membuat "ibadah kuliner" kami menjadi tidak mabrur.

Malam kedua sungguh mengesankan

Pantai Karang Hawu adalah salah satu kawasan wisata bagi masyarakat umum saat berkunjung ke Pelabuhan Ratu. Sebenarnya pasir di pantai ini tidak putih, melainkan hitam. Namun susunan bebatuan yang alami, membuat aura pantai terasa eksotis.

Sebagai kawasan yang padat wisatawan, pilihan tempat makannya pun beragam. Malam itu saya memutuskan untuk berlabuh di salah satu warung sebelum lokasi petilasan Nyi Roro Kidul yang terdapat di bukit karang.

Tidak jauh dari tempat ini, masih di kawasan Pantai Karang Hawu, beberapa hari lalu serentetan ombak besar datang menyapu semua bangunan warung semi permanen di tepi pantai. Bersih tanpa ampun.

Tentu saja hal tersebut membuat saya agak was-was saat itu, meskipun ombak sudah muai tenang namun tingginya gelombang tidak bisa ditebak waktu kedatangannya.


Berbeda dengan malam sebelumnya, kali ini saya dan dua orang teman memilih menu makanan yang lebih flamboyan, tapi masih tetap sama-sama seafood.

Kepiting lada hitam, kerang dara saos tiram, ikan kakap goreng, dan cumi bakar adalah beberapa fauna yang kami konsumsi malam itu. Tidak lupa kami memesan beberapa butir kelapa muda dengan es untuk melenyapkan dahaga.

Cimaja dan Kisah Makan Malam yang 'Brutal'Kepiting lada hitam. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)

Ketika kepiting lada hitam tiba, teman saya dengan cekatan memotongnya dengan alat yang disediakan.

"Widiiih, nih kepiting dagingnya empuk banget. Bumbunya juga mantap," ujar seorang teman dengan nada perilaku yang "kurang beradab" di meja makan.

Usai kepiting kandas, menu lainnya tidak luput dari jumputan tangan kami. Cumi bakar yang ditambahi bumbu menjadi sajian favorit kedua kami. Meskipun tidak ditambahi bumbu macam-macam, namun saya merasa bumbu resep warung ini sudah sangat pantas diacungi jempol.

Karena penasaran dengan bumbunya, akhinya saya pun menuju dapur untuk 'menginterogasi' petugasnya.

"Cuma rempah-rempah biasa aja, kang. Tapi ya yang cocok sama makanan laut. Gak ada bumbu khas sih kalau di sini, sama kaya daerah lainnya. Asam manis, saos padang, saos tiram. Gitu-gitu aja kok," ujar Ida, salah seorang juru masak di rumah makan itu, Sabtu (28/7).

Satu hal yang membuat kami senang malam itu adalah seporsi kerang dara saos tiram yang sengaja kami lumat terakhir, dengan maksud menikmati pantai sembari membuat mulut sibuk bekerja.

Malam ini saya sengaja memesan cah kangkung lagi, dengan tujuan mengobati rasa kecewa di malam sebelumnya. Benar saja, kangkung yang hadir benar-benar juara. Masih segar dan yang terpenting tidak menandung rasa bumbu mi instan.

Hanya saja, kami harus rela untuk menebus makanan ini dengan harga yang lebih mahal. Tapi tak mengapa, toh rasa makanannya juga lebih sedap. Untuk setengah kilogram kepiting lada hitam kami dikenakan harga Rp100 ribu. Sedangkan ikan kakap goreng berukuran 6,5 ons dibanderol dengan harga Rp98 ribu.

Namun harga itu masih dalam batas wajar menurut kami, mengingat lokasi ini adalah kawasan wisata. Malam ini kami sangat puas dengan apa yang dikonsumsi, kami optimis kualitas tidur akan meningkat dengan drastis.


Pesta seafood, lagi dan lagi

Daerah terakhir yang kami singgahi untuk mengonsumsi hidangan laut malam hari adalah Pantai Citepus. Di tempat ini memang dikenal sebagai lokasi kuliner khas hidangan laut untuk keluarga.

Kami memilih sebuah rumah makan dua lantai yang cukup besar demi menuntaskan malam terakhir kami di Cimaja.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, dan saya langsung memilih lantai dua untuk melakukan ritual makan malam terkahir.

Selain kami ada dua meja yang sudah terisi. Satu rombongan wisatawan dari jazirah Arab, dan satu lagi rombongan wisatawan asal Jepang.

Kali ini kami memutuskan untuk memesan ikan kuwe bakar, ikan sebelah saus padang, dan cumi goreng mentega. Seporsi sup iga nampaknya cukup mampu menggoda iman seorang teman untuk mencicipinya.

Cimaja dan Kisah Makan Malam yang 'Brutal'Ikan kue bakar. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)

Dari ketiga lokasi makan malam, nampaknya tempat ini yang paling cepat dalam waktu penyajian. Tidak sampai 20 menit kami menunggu, semua menu sudah tersedia di meja. Wajar saja, ini adalah rumah makan yang besar dan nampaknya menjadi rujukan makan malam wisatawan mancanegara.

Meski demikian, harga di tempat ini benar-benar bersahabat. Untuk ikan sebelah saus padang dengan berat 6 ons, hanya dibanderol dengan harga Rp90 ribu. Sedangkan seporsi cumi goreng mentega hanya seharga Rp48 ribu. Hal ini jelas berbeda dengan malam sebeumnya.

Hal yang menambah kebahagiaan kami di tempat ini adalah, ikan kuwe di tempat ini benar-benar membuat perut kami sesak karena ukuran jumbonya. Meskipun bumbunya kurang terasa jika dibanding tempat sebelumnya, namun kepadatan dagingnya mampu mengobati rasa lapar kami yang menyerupai serigala beringas.

Sedangkan ikan sebelah saus padang kami beri nilai enam dari 10, lantaran bumbunya yang kurang berani. Untuk bumbu saus padang, rasanya justru cenderung asam seperti asam manis.  Padahal seharusnya, bumbu saus padang harus lebih kuat pada rasa pedasnya.

Namun kesegaran dua ekor ikan ini patut saya acungi jempol.

Saat saya bertanya kepada salah seorang juru masak di tempat ini, ia menuturkan rahasia agar ikan tetap segar adalah membelinya langsung dari nelayan dan segera masukkan ke dalam lemari pendngin.

Mungkin membeli ikan segar dari nelayan bukan masalah bagi mereka yang berada di kawasan Teluk Pelabuhan Ratu, lantas bagaimana dengan mereka yang hidup di lokasi yang jauh dari pesisir?

"Ya pilih ikan yang segar di pasar tradisional aja, mas. Kalau ke supermarket kadang udah lama dimasukin freezer," ujar seorang juru masak yang enggan menyebutkan namanya, Senin (30/7).

Tiga malam berada di Cimaja, dan tiga hari berturut-turut pula kami pesta seafood di kawasan wisata ini. Kami pun puas makan seafood dan siap kembali ke Jakarta.  (chs)