Tari Ratoh Jaroe Aceh yang Memukau di Opening Asian Games

Kemenpar, CNN Indonesia | Senin, 20/08/2018 16:59 WIB
Tari Ratoh Jaroe Aceh yang Memukau di Opening Asian Games Tarian Ratoh Jaroe dari Aceh membuka perhelatan Asian Games 2018 dengan gempita. Apa beda tarian ini dengan Saman yang lebih dikenal luas? (Dok. Kementerian Pariwisata)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pembukaan Asian Games 2018 berlangsung gegap gempita. Pujian mengalir, salah satunya untuk Tari Ratoh Jaroe Aceh yang pertama kali membuka acara.

Tari Ratoh Jaroe ditampilkan secara kolosal. Koreografer tarian ini adalah Denny Malik, mantan penari dan penyanyi yang pernah populer dengan lagu Jalan-Jalan Sore (JJS) di era 90-an.

Kemegahan tarian ini salah satunya terlihat dari jumlah penari yang dilibatkan, yang mencapai 1.600 penari yang terdiri dari siswa SMA se-DKI Jakarta.
Di tangan Denny Malik, tari Ratoh Jaroe memukau dengan koreografi yang luar biasa.Sekilas, tarian ini mirip dengan Tari Saman yang lebih dikenal luas, gerakannya pun serupa. Namun, ada perbedaan mendasar dari kedua tarian asal Aceh ini.


Umumnya Tari Saman dilakukan pria dalam jumlah ganjil. Tarian ini mengkombinasikan tepukan tangan dan tepukan dada. Selain itu, penari Saman dipimpin oleh beberapa penari yang duduk di tengah. Saman adalah tarian yang murni diiringi oleh syair yang dilantunkan para penarinya.

Sedangkan Tari Ratoh Jaroe pada umumnya dilakukan oleh perempuan dalam jumlah genap. Gerakan Tari Ratoh Jaroe tak banyak melibatkan tepukan dada. Selain itu, Tari Ratoh Jaroe dikendalikan oleh dua orang yang duduk di luar formasi penari. Ratoh Jaroe juga diiringi musik eksternal, atau di luar para penarinya.
Keberhasilan Tari Ratoh Jaroe dalam balutan kolosal membuat Menteri Pariwisata Arief Yahya bangga. Menurutnya, tarian tersebut mempromosikan kekayaan budaya Indonesia.

"Tarian ini sangat luar biasa. Dibawakan dengan sangat indah dan kompak. Dan menjadi cermin kekayaan budaya Indonesia yangan sangat beragam. Tarian Ratoh Jaroe menjadi pembuka yang luar biasa. Apalagi kemudian tarian-tarian lain ikut ditampilkan," paparnya.

Menurut Arief, dalam kegiatan akbar seperti ini, Indonesia harus mampu menggerakkan semua sektor.

"Termasuk pariwisata. Sebab, inilah saatnya menjual, mempromosikan kekayaan pariwisata Indonesia ke pentas dunia," paparnya. (stu)