Tahapan Penting untuk Proses Bayi Tabung

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Rabu, 29/08/2018 16:39 WIB
Tahapan Penting untuk Proses Bayi Tabung ilustrasi bayi (Pixabay/RitaE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Program bayi tabung dapat menjadi pilihan bagi pasangan yang kesulitan mendapatkan buah hati. Proses pembuahan di luar rahim ibu atau in vitro fertilization (IVF) ini memerlukan serangkaian tahapan agar membuahkan hasil yakni si jabang bayi.

Di Indonesia, program bayi tabung pertama kali dilakukan pada 1988. Kini, bayi tabung dapat dilakukan di banyak klinik dan rumah sakit di beberapa kota besar di Indonesia.

Ahli embriologi Profesor Arief Boediono menjelaskan program bayi tabung merupakan pemanfaatan teknologi reproduksi berbantu dengan cara mengawinkan sperma dalam jumlah tertentu dengan sel telur yang dilakukan di luar tubuh manusia. 



Arief menjelaskan untuk menjalani program IVF, pasangan harus memenuhi beberapa persyaratan administrasi. Mulai dari tidak boleh pada pasangan yang belum menikah, tidak menggunakan ibu pengganti, tidak boleh menggunakan bank sperma, hingga tidak boleh pada pasangan yang sudah meninggal dunia.

"Yang ikut program harus mempersiapkan buku nikah sipil, yang siri tidak diterima," kata Arief yang juga Direktur Laboratorium di Klinik Morula IVF dalam temu media, Kamis (23/8) lalu.

Setelah melewati proses administrasi, pasangan suami istri bakal melalui beberapa pemeriksaan kesehatan, pengecekan sperma serta konseling untuk persiapan mental.

"Ada tim konseling untuk pasien karena ini penting sekali untuk melalui proses yang naik turun selama program bayi tabung," kata CEO Klinik Morula IVF Ivan Sini.


Setelah pemeriksaan kesehatan dan kesiapan mental, Ivan menjelaskan tim dokter bakal menentukan tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi suami istri tersebut. Tindakan ini meliputi program masa subur, pembuahan alami dengan bantuan obat-obatan, inseminasi hingga bayi tabung. Program bayi tabung biasanya dipilih karena pasangan infertil atau kurang subur.

"Kami melihat beberapa kondisi, seperti keadaan sperma dan kondisi sel telur. Bayi tabung dipilih jika infertil atau tidak dapat dibantu dengan cara lain," ujar Ivan.

Tahapan bayi tabung

Pembuahan di luar rahim ibu dilakukan di dalam laboratorium berteknologi tinggi. Arief, sebagai direktur laboratorium, menjelaskan proses mengawinkan sperma dan sel telur itu terjadi dalam sebuah cawan yang berisi medium tertentu.

Pertama kali, tim laboratorium di Morula IVF bakal meminta sperma ayah. Di klinik itu tersedia ruangan khusus untuk untuk menyalurkan sperma langsung ke laboratorium. Dokter dan tim laboratorium bakal memilih sperma yang terbaik.


"Sperma yang sudah diambil lalu dicuci dan diperiksa di laboratorium. Jika memungkinkan, sebelum bayi tabung dilakukan inseminasi dengan memasukkan sperma tersebut ke rahim ibu," kata Arief.

Metode inseminasi ini dicoba hingga dua atau tiga kali. Jika tak berhasil, program akan berlanjut ke bayi tabung.

Dokter lalu bakal mengambil bebera sel telur ibu untuk dibuahi di laboratorium. Arief menyebut dokter bakal melakukan teknik Intra Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI) atau bantuan menyuntikkan satu sel sperma ke dalam sel telur.

Dalam tiga sampai lima hari setelah pengambilan sel telur, dokter akan melakukan inkubasi untuk memantau terjadinya pembuahan norma hingga membentuk embrio. Jika berhasil, embrio itu bakal kembali ditanam ke dalam rahim ibu. Ibu akan menjalani proses hamil seperti perempuan pada umumnya.

"Program ini kurang lebih berlangsung selama dua pekan," ucap Arief.

Selama masa itu, calon ibu diberikan beberapa vitamin dan obat-obatan untuk menjaga kondisi badan.

Ivan menjelaskan rata-rata keberhasilan ptogtam bayi tabung mencapai 36-37 persen di dunia. Sementara di klinik Morula IVF, Ivan menyatakan keberhasilan mencapai 40 persen. 

"Harus disampaikan bahwa kita tidak bisa menjanjikan kehamilan, tapi bisa meningkatkan peluang kehamilan 15 kali lipat lebih tinggi daripada berhubungan normal," kata Ivan. (chs)