Penderita Skizofrenia Bukan Orang Gila

CNN Indonesia | Sabtu, 13/10/2018 09:46 WIB
Penderita Skizofrenia Bukan Orang Gila Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama ini, gangguan kesehatan jiwa berat seperti skizofrenia kerap mendapatkan stigma negatif dari masyarakat. 'Gila' adalah satu kata yang melekat pada pandangan umum terhadap orang-orang penderita skizofrenia. Tak ayal, penderita jadi kerap terasingkan dan tak mendapat pengobatan yang memadai.

Padahal, jika sederet dikenali sejak dini dan mendapat pengobatan yang tepat, penderita skizofrenia bisa menjalani kehidupan yang produktif seperti manusia normal lainnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah memastikan bahwa skizofrenia dapat diobati dan dikendalikan.

Skizofrenia menyerang sekitar lebih dari 23 juta orang di dunia. Sementara di Indonesia, prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai sekitar 400 ribu orang.



"Skizofrenia adalah penyakit jiwa terberat dan kronis yang mengganggu proses pikiran," ujar ahli kesehatan jiwa, dr Eka Viora, dalam Southeas Asia Mental Health Forum 2018 di Jakarta, Kamis (30/8).

Proses pikiran yang terganggu itu ujung-ujungnya menimbulkan halusinasi, delusi, pikiran yang tidak jelas, serta tingkah laku atau cara bicara yang tak wajar.

Gejala ini dikenal sebagai gejala psikotik yang menyebabkan penderita sulit berinteraksi dengan orang lain bahkan menarik diri dari aktivitas luar. "Gejala yang paling mudah itu ketika terjadi perubahan pikiran, perilaku dan perasaan. Mudah, ingat saja 3P," kata Eka.

Gejala-gejala itu bisa muncul pada siapa saja tak kenal jenis kelamin, usia, dan kelas sosial. Biasanya, gejala pertama bakal muncul saat remaja atau dewasa muda. Dalam beberapa kasus, gejala juga muncul pada orang berusia di atas 40 tahun. Semakin dini penanganan gejala skizofrenia, hasil pengobata akan semakin baik.


Skizofrenia adalah penyakit kambuhan. Gejala ini seringkali muncul secara berulang. Semakin lama, kekambuhan itu semakin sulit dikendalikan. Kekambuhan itu biasanya terjadi jika penderita tak patuh berobat.

Pengobatan atau terapi skizofrenia mesti dilakukan dengan melibatkan kerja sama tim medis dan keluarga penderita. Namun, pengobatan itu juga dikombinasikan dengan psikoterapi yang bertujuan untuk membuat penderita menerima keadaannya.

Pengobatan jenis itu, dinilai WHO, efektif untuk penderita skizofrenia untuk menjalani kehidupan yang produktif dan berbaur dengan masyarakat.

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan skizofrenia. Eka menyebut, banyak faktor yang bersama-sama berkontribusi pada skizofrenia seperti genetis, pra-kelahiran, cedera otak, trauma, tekanan sosial, stres, dan pemakaian narkoba.

(ptj/asr)