Vampire Facial Kim Kardashian Disebut Berpotensi Infeksi HIV

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 16/09/2018 20:40 WIB
Vampire Facial Kim Kardashian Disebut Berpotensi Infeksi HIV Kim Kardashian (REUTERS/Eduardo Munoz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Vampire facial masih menjadi topik hangat yang kerap diperbincangkan. Setelah Kim Kardashian memamerkan prosedur facial darah itu pada beberapa tahun lalu, mendadak metode perawatan kulit yang satu itu naik daun.

Prosedur perawatan kulit yang menggunakan darah itu diklaim mampu mengurangi kerutan dan menangkal kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari.

Dalam prosedur ini, terapis akan mengambil darah pasien. Darah itu kemudian dibawa ke dalam centrifuge untuk memisahkan sel darah merah dengan plasma yang kaya akan trombosit. Puncaknya, plasma itu kembali disuntikkan pada wajah pasien.



Kendati berbagai klinik kecantikan beramai-ramai menawarkan prosedur ini, tapi bukan berarti vampire facial hadir tanpa risiko. Sederet dampak buruk dapat ditimbulan akibatnya. Beberapa yang paling mengerikan adalah kemungkinan seorang pasien terinfeksi HIV dan hepatitis.

Sebuah pusat spa di Albuquerque, Meksiko--yang menawarkan vampire facial--membawa pelanggannya pada ancaman sederet penyakit yang diakibatkan proses tranfusi darah. Hal itu disampaikan dalam pernyataan resmi Departemen Kesehatan Meksiko.

Pernyataan itu muncul setelah salah satu pasien klinik spa terinfeksi penyakit akibat tranfusi darah. Dalam sebuah inspeksi, pemerintah menemukan adanya praktik tidak aman yang bisa menimbulkan risiko bagi pasien.


"Salah satu cara penyebaran infeksi ini adalah melalui penyuntikan jarum yang terinfeksi," ujar pakar kesehatan kulit Meksiko, Michael Landen, mengutip Live Science. Hal ini bisa terjadi akibat penyimpanan jarum suntik yang tidak aman.

Pemerintah Meksiko sendiri telah menyetop prosedur vampire facial itu. Mereka juga meminta pelanggan untuk melakukan pemeriksaan untuk HIV, hepatitis B, dan hepatitis C. Namun, mereka tak secara rinci infeksi apa yang diderita pelanggan.

Landen mengaku bahwa penelusuran terkait hal tersebut masih memasuki tahap awal.

"Kami hanya gelisah dan mencoba memberikan informasi ini pada orang-orang," ujarnya. (asr/chs)