Peneliti Temukan Partikel Polusi Udara di Plasenta Ibu Hamil

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 18/09/2018 13:47 WIB
Peneliti Temukan Partikel Polusi Udara di Plasenta Ibu Hamil Ilustrasi ibu hamil (Pexels/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para ilmuwan baru saja menemukan sampel pertama partikel polusi udara di plasenta wanita hamil. Partikel itu masuk melalui paru-paru menuju plasenta dan berpotensi sampai ke janin.

Penelitian yang baru saja dipresentasikan di European Respiratory Society International Congress, Paris ini merupakan studi pertama yang memeriksa partikel polusi udara di dalam plasenta.

"Kami tidak tahu apakah partikel yang kami temukan juga bisa bergerak ke janin, tetapi bukti kami menunjukkan bahwa ini memang mungkin," kata peneliti dari Queen Mary University, London, Norrice Liu dalam sebuah pernyataan, seperti diberitakan CNN.


Liu juga menekankan bahwa partikel polusi udara itu tak harus masuk hingga ke janin. Pasalnya, saat berada di dalam plasenta, partikel polusi udara mulai menimbulkan bahaya.

Plasenta merupakan organ dalam kandungan pada masa kehamilan yang berfungsi memasok oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin melalui tali pusat. Plasenta berfungsi membuang racun yang tidak diperlukan janin.


"Kita juga tahu bahwa partikel tidak perlu masuk ke tubuh bayi untuk menciptakan efek buruk, karena pada plasenta saja, akan berdampak langsung pada janin," ucap Liu.

Partikel polusi udara di plasenta ini ditemukan setelah peneliti menganalisis lima perempuan yang sedang mengandung di Inggris. Lima perempuan yang tinggal di London ini bukanlah perokok. Kelimanya melahirkan bayi sehat secara sesar.

Peneliti mengamati makrofag plasenta, bagian dari sistem kekebalan tubuh yang menangani partikel berbahaya seperti bakteri dan polusi. Sel ini juga membantu melindungi plasenta.

Peneliti menemukan bahwa sebanyak 60 sel mengandung 72 area gelap, yang diyakini merupakan partikel karbon.


"Penelitian anyar ini menunjukkan kemungkinan mekanisme bayi dipengaruhi oleh polusi saat berada di rahim. Kita membutuhkan kebijakan yang lebih ketat untuk udara yang lebih bersih demi mengurangi dampak polusi pada kesehatan," kata Presiden European Respiratory Society, Mina Gaga mengomentari penelitian ini.

Meski penelitian ini masih merupakan tahap awal, peneliti yakin polusi udara pada ibu hamil berhubungan dengan kematian bayi, kelahiran prematur, dan berat badan rendah.

Hasil penelitian di London ini juga meningkatkan kekhawatiran terhadap ibu hamil di Indonesia, mengingat Indonesia juga memiliki polusi udara yang tinggi. Apalagi kualitas udara di Jakarta jauh lebih buruk dibanding London.

Berdasarkan Air Quality Index, kualitas udara di Jakarta mencapai 132 dan dapat dikategorikan sebagai 'tidak sehat'. Angka itu terpaut jauh dari London dengan indeks kualitas udara 23 atau 'berkualitas baik'. (ptj/asr)