Kisah Pilu Pelelangan Tuna Terakhir di Pasar Tsukiji

Tim, CNN Indonesia | Senin, 08/10/2018 12:09 WIB
Kisah Pilu Pelelangan Tuna Terakhir di Pasar Tsukiji ilustrasi (REUTERS/Issei Kato)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sabtu (6/10) dini hari di Tokyo sudah dimulai dengan riuhnya suara para produsen ikan segar.

Mereka berkumpul sebelum fajar untuk ikut serta dalam pelelangan tuna terakhir di Pasar Tsukiji yang legendaris sebelum akhirnya 'pintu pasar' ditutup dan pindah.

Pagi itu adalah saat yang emosional untuk para veteran di pasar, jantung dari kuliner Tokyo selama beberapa dekade. Namun sampai pada akhirnya banyak orang mengeluh tentang keterbatasan berbagai sarananya untuk mendukung operasi raksasa mereka.



"Saya hampir menangis," kata Hisao Ishii, pensiunan juru lelang seafood, dikutip dari AFP.

"Hari ini adalah hari yang menyedihkan. Tsukiji berusaha untuk tetap memenuhi tugasnya sepanjang waktu, namun sudah semakin tua."

"Saya datang ke sini hari ini, untuk memberi tahu Tsukiji, terima kasih dan selamat tinggal."

Di pagi hari itu, para pedagang masuk ke sebuah gudang pelelangan ikan tuna terakhir. Ritual pelelangan ini sangat penting untuk dunia kuliner Tokyo. Tak cuma itu, pasar ini juga mendatangkan turis yang besar untuk Jepang.

Ratusan tuna segar dan beku diberi label berat dan pelabuhan asal mereka. Tuna-tuna ini ditata dalam gudang berpendingin. Pria bersepatu bot karet pun diam-diam memeriksa tuna satu per satu.

Di bawah suhu dingin mereka menyorokan senter ke bagian dalam ikan sebelum pelelangan mulai. Tujuannya, agar mereka yakin ikan ini sehat dan aman untuk dikonsumsi.

Pukul 06.00 waktu Tokyo, lonceng penanda lelang mulai berbunyi. Sontak suara pembeli, sang calon pemilik tuna-tuna besar dan gemuk ini berlomba-lomba untuk menawar. Jari-jari mereka tak mau kalah dengan suara kerasnya, mencoba untuk menawarkan harga tertinggi.


Sabtu itu, tuna sirip biru yang lezat dan berdaging tebal namun menjadi salah satu spesies terancam, terjual dengan harga 4,4 juta yen. Ikan ini memiliki berat 162 kg dan tertangkap di Aomori, Jepang Utara.

Harga jual ini sebenarnya masih jauh di bawah rekor sebelumnya yaitu 155,4 juta yen di tahun 2013.

Pasar Tsukiji yang dikenal sebagai 'dapur Jepang' ini akan dipindahkan ke Toyosu, Tokyo Timur pada 11 Oktober 2018.

"Ini akan menjadi langkah besar pertama dalam sejarah kami," kata Hiroyasu Ito, ketua asosiasi pasar.

"Kami akan bersatu untuk melaluinya."

pasar TsukijiPasar Tsukiji (REUTERS/Issei Kato


Harapan dan Ketakutan

Langkah pemerintah setempat untuk memindahkan pasar Tsukiji ini tak cuma berpengaruh pada pedagang ikan, tapi juga sayur dan buah, restoran, serta toko-toko lainnya.

"Saya akan merindukannya karena Tsukiji sudah menjadi rumah saya selama 15 tahun," kata penjual sayur Tsukasa Kujirai.

Dia mengakui bahwa pasar memang harus pindah karena berbagai alasan. Namun dia sendiri merasa pikiran dan hatinya terbelah antara harapan dan ketakutan. (chs)