Studi Buktikan Khasiat Aroma Lavender Redakan Stres

CNN Indonesia | Rabu, 24/10/2018 19:03 WIB
Studi Buktikan Khasiat Aroma Lavender Redakan Stres Foto: Istockphoto/nailiaschwarz
Jakarta, CNN Indonesia -- Penggunaan aromaterapi telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu. Dimulai dari China, konon aromaterapi punya segudang manfaat, termasuk salah satunya untuk menangani stres. Lavender adalah salah satu aroma yang paling banyak ditemui.

Bukan cuma isapan jempol, sebuah penelitian menemukan bahwa aroma lavender terbukti berkhasiat meredakan stres.

Peneliti dari Universitas Kagoshima, Jepang melakukan analisis terhadap aroma linalool. Nama yang terakhir merupakan alkohol beraroma yang ditemukan pada ekstrak bunga lavender. Peneliti memberikan aroma ini pada tikus putih untuk uji coba.


Hasilnya, tikus yang terpapar aroma lavender menunjukkan gejala kecemasan yang lebih sedikit daripada mereka yang tidak terpapar.


Salah seorang penulis studi, Hideki Kashiwadani, menuturkan bahwa dalam dunia medis, aroma lavender memang telah lama dipercaya mampu mengobati kecemasan.

"Dalam studi, kami menemukan bahwa linalool memiliki efek anxiolytic (anticemas) pada tikus normal," kata Kashiwadani, mengutip The Independent.

Paparan aroma lavender memberikan efeknya pada tikus dengan indera penciuman yang normal. Ini mengindikasikan bahwa penurunan kecemasan pada tikus terpicu oleh aroma lavender.

Aroma lavender berbeda dengan obat-obatan yang mampu memberikan efek candu seperti benzodiapines. Alkohol atau obat-obatan semacam ini dapat menimbulkan efek samping berupa rasa lemas atau gangguan gerakan pada tubuh. Sementara lavender tidak memberikan efek samping pada tikus-tikus.


Akan tetapi, efek anticemas itu hilang ketika tikus diberikan flumazenil. Itu merupakan zat yang menghambar GABAARS atau sel penerima pada otak yang menjadi target benzodiazepines.

Kendati demikian, para peneliti mengatakan bahwa studi yang dipublikasikan di Frontiers in Behavioural Neuroscience ini masih memerlukan uji keamanan dan efektivitas sebelum uji klinis dilakukan pada manusia. (els/asr)