Jakarta Fasion Week 2019

Dongeng Empat Kesatria di Panggung Penutup JFW 2019

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Sabtu, 27/10/2018 14:31 WIB
Dongeng Empat Kesatria di Panggung Penutup JFW 2019 Model memeragakan headpiece rancangan Rinaldy Yunardi bertajuk Heroes pada Dewi Fashion Knights yang menutup rangkaian perhelatan Jakarta Fashion Week 2019, Jakarta (26/10). (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun demi tahun Dewi Fashion Knights mencuri perhatian para pecinta mode Indonesia sebagai gelaran penutup Jakarta Fashion Week, dan tahun demi tahun nyaris tak ada yang kecewa dengan hasil kurasinya.

Demikian pula pada Jumat (26/10) malam, ketika keglamoran empat 'kesatria' membuat mata para redaktur majalah mode, desainer, atau selebriti terpukau.

Mengangkat tema Heroes, DFK mendaulat brand Sejauh Mata Memandang, Byo, Rinaldy A. Yunardi dan Sean Sheila sebagai aksi penutup.


Margaretha Untoro, editor in chief Dewi Magazine, keempat perancang dipilih karena memiliki gaya yang sangat berbeda satu sama lain sehingga interpretasi pahlawan pun memiliki nuansa berbeda. 

Label Sejauh Mata Memandang besutan Chitra Subyakto membuka parade kemarin malam di Fashion Tent, Senayan City. Seluruh material yang ia gunakan berasal dari batik tulis maupun batik cap.

Chitra kepada CNNIndonesia.com menuturkan bahwa koleksinya kali ini terinspirasi dongeng klasik 'Timun Mas'.

"Kan (Timun Mas) bawa empat bekal saat melarikan diri (yakni), garam, duri, terasi dan biji timun. Cutting serba empat bekal ini," kata dia saat ditemui jelang pertunjukan di press lounge JFW 2019 pada Jumat (26/10).

Di mata Chitra, sosok pahlawan sendiri merupakan ibu-ibu pengrajin batik yang terus menjaga kelestarian kain tradisional dengan karya-karnyanya.

Chitra menghadirkan 15 look busana wanita dengan warna kuning mustard, merah, hitam dan detail motif rata-rata berwarna putih.

Sejauh Mata Memandang banyak memainkan lilitan kain baik untuk atasan maupun bawahan. Namun Chitra tak menutup kemungkinan bermain dengan siluet modern seperti tank top dengan detail kancing di depan, celana longgar tanggung, celana panjang lebar atau palazo, serta outer.

Kilau Empat Kesatria di Panggung Penutup JFW 2019Busana karya Sejauh Mata Memandang di gelaran Dewi Fashion Knights. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Kilau Empat Kesatria di Panggung Penutup JFW 2019Busana karya Sejauh Mata Memandang di gelaran Dewi Fashion Knights. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Kilau Empat Kesatria di Panggung Penutup JFW 2019Busana karya Sejauh Mata Memandang di gelaran Dewi Fashion Knights. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Dari yang serba klasik, penikmat mode lalu diajak untuk ke dunia serba modern dan penuh aplikasi teknologi terkini.

Label Byo yang digagas oleh Tommy Ambiyo Tedji dianggap mewakili sosok ksatria yang berjiwa muda, kreatif dan mampu menghadirkan karya 'kekinian'. Ia menghadirkan material berupa polyester baru.

"Siluetnya atletik, ada eksperimen baru dengan tekstur tapi tetap wearable," kata Tommy soal koleksinya itu.

Ia memang hanya menghadirkan blok-blok warna yang terlihat biasa seperti baby blue, pink, hijau, beidge serta cokelat. Namun jika diperhatikan lagi, Tommy berani bermain dengan tekstur.

Di atas siluet serba oversized antara lain atasan, celana, rok, outer maupun jumper, ia menyematkan detail berupa potongan polyester sehingga memberikan kesan 3D atau timbul. Detail lain yang tak kalah apik ialah anyaman pada beberapa bagian busana.

Detail anyaman tak semata-mata dibuat penuh tetapi ada bagian yang menyisakan lubang.

Tommy sendiri mengambil corak khas Sumatera, tanah kelahirannya, dalam koleksi yang ia tampilkan tadi malam.

"Karya terinspirasi dari Sumatera, di mana darah Palembang dan Riau mengalir di tubuh saya. Tema heroes kembali mengingatkan saya akan pentingnya sebuah dukungan. Orang tua, keluarga dan sahabat terdekat adalah heroes bagi saya," katanya.

Model memeragakan busana koleksi BYO yang bertajuk Heroes pada Dewi Fashion Knights. Model memeragakan busana koleksi BYO yang bertajuk Heroes pada Dewi Fashion Knights. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Kilau Empat Kesatria di Panggung Penutup JFW 2019Model memeragakan busana koleksi BYO yang bertajuk Heroes pada Dewi Fashion Knights. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Kilau Empat Kesatria di Panggung Penutup JFW 2019Model memeragakan busana koleksi BYO yang bertajuk Heroes pada Dewi Fashion Knights. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Kritik Lewat Karya

Busana tak hanya soal cerminan kepribadian tetapi juga media penyampaian kritik.

Konsep ini ditampilkan Sean Sheila oleh Sheila Agatha dan Sean Loh yang mendaulat lingkungan hidup dan fotografer Chris Jordan sebagai pahlawan versi mereka. Busana-busana yang dibawa lalu seolah berubah menjadi 'tamparan keras' bagi manusia yang tak peduli kelestarian lingkungan dengan limbah-limbah organik.

Jordan sendiri memang dikenal dengan karya seni berupa foto-foto yang fokus pada limbah dan kritiknya terhadap konsumerisme.

Sheila dan Sean pun menterjemahkannya ke dalam aneka look yang rata-rata mengaplikasikan bahan plastik. Proses dekomposisi seolah mengangkat 'derajat' plastik-plastik menjadi busana seperti atasan, outer, rok bahkan celana plastik.

"Kami menggambarkannya sebagai slow motion apocalypse," ujar Sheila.

Mereka pun tak segan memanfaatkan bubble wrap sebagai detail. Efek 'robekan' bahkan detail lain berupa patchwork pun mereka aplikasikan.

Model memeragakan busana koleksi Sean Sheilladan yang bertajuk Heroes pada Dewi Fashion KnightsModel memeragakan busana koleksi Sean Sheilla yang bertajuk Heroes pada Dewi Fashion Knights. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Kilau Empat Kesatria di Panggung Penutup JFW 2019Model memeragakan busana koleksi Sean Sheilla yang bertajuk Heroes pada Dewi Fashion Knights.  (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Kilau Empat Kesatria di Panggung Penutup JFW 2019Model memeragakan busana koleksi Sean Sheilla yang bertajuk Heroes pada Dewi Fashion Knights.  (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Akhirnya, karya desainer aksesori Rinaldy A. Yunardi hadir menjadi 'gong' pertunjukan. Pertunjukannya kali ini seakan menjawab kerinduan publik akan penampilannya di DFK, yang memang terakhir kali tampil 2015.

Mengambil tema 'The Faces', Rinaldy menghadirkan belasan karya yang ditujukan untuk wanita, sosok yang ia anggap pahlawan.

"Faces itu aneka ragam. Saya ingin menyampaikan pesan bahwa kita enggak boleh menghakimi seseorang dari wajah. Wajah beda-beda tapi satu pencipta," kata dia jelang pertunjukan.

Kilau Empat Kesatria di Panggung Penutup JFW 2019Model memeragakan headpiece rancangan Rinaldy Yunardi bertajuk Heroes pada Dewi Fashion Knights.(CNN Indonesia/Hesti Rika)

Kilau Empat Kesatria di Panggung Penutup JFW 2019Model memeragakan headpiece rancangan Rinaldy Yunardi bertajuk Heroes pada Dewi Fashion Knights. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Model memeragakan headpiece rancangan Rinaldy Yunardi bertajuk Heroes pada Dewi Fashion Knights.Model memeragakan headpiece rancangan Rinaldy Yunardi bertajuk Heroes pada Dewi Fashion Knights.(CNN Indonesia/Hesti Rika)


Penonjolan pada aksesori pada wajah, kepala hingga pundak membuat para model tak mengenakan busana 'neko-neko', cukup terusan hitam. Aneka kreasi topeng dan hiasan kepala dibuat dari beragam bahan mulai dari kristal, mutiara, juga besi.

Beberapa look mengingatkan pengunjung akan sosok-sosok yang familiar seperti badut, tokoh Rita Repulsa alias musuh bebuyutan Power Ranger 'Mighty Morphin', serta sosok manusia serigala.

Sebagai penutup, pria yang akrab disapa Ko Yung Yung ini menghadirkan sosok bersayap hitam dengan detail kepala berwarna merah. Ia seolah sosok malaikat maut yang siap mencabut nyawa seseorang. (vws/vws)


BACA JUGA