Cerita Rahasia Dapur Brendi Khas Prancis

CNN Indonesia | Senin, 12/11/2018 09:28 WIB
Cerita Rahasia Dapur Brendi Khas Prancis Konyak, minuman brendi khas Prancis. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada banyak jenis minuman beralkohol yang beredar di pasaran. Sebut saja bir, wine, wiski, margarita, termasuk cognag atau konyak.

Konyak merupakan jenis brendi khas Prancis. Penamaan itu diambil dari nama kota Cognac, Prancis, sebagai salah satu daerah penghasil brendi di Eropa.

Prancis sendiri memiliki beragam label konyak kenamaan, salah satunya Hennessy. Nama Hennessy diambil dari nama sang pendiri sekaligus pemilik perusahaan, Richard Hennessy.



Bagi produsen konyak, musim gugur menjadi awal waktu untuk panen anggur. "Setelah panen, perusahaan mulai destilasi di Februari. Masuk musim semi, proses menanam lagi, begitu seterusnya," ujar Brand Manager of Hennessy Indonesia, Andrianto Surohadikusumo, di sela tur bersama media di Pasific Place, SCBD, Jakarta, Selasa (30/10).

Setelah panen, anggur bakal menjalani proses destilasi alias penyulingan. Proses inilah yang membuat konyak masuk ke dalam kelompok brendi.

Brendi atau brandy berasal dari kata 'brandewijn'. Kata itu berarti 'anggur yang dibakar' sebagaimana konyak.

Proses destilasi terjadi dua kali demi memperoleh 'eaux de vile' atau bila diartikan secara harfiah menjadi 'air kehidupan'.

Anggur dibuat menjadi serupa jus, dipanaskan dalam suhu 95 derajat Celcius. Uap dari gelembung panas jus anggur didinginkan untuk kemudian menjadi tetesan air anggur hasil penyulingan.

Namun, tak sembarang orang bisa menentukan apakah hasil penyulingan itu layak atau tidak menjadi 'air kehidupan'. Hanya ahli rasa atau master blender yang bisa mengetahuinya. Dia juga bertugas mencecap konyak yang sudah tersimpan lama.


Gentong kayu 'oak' memperkaya rasa

Proses selanjutnya adalah penyimpanan hasil penyulingan. Air hasil penyulingan dipindahkan ke dalam tong yang terbuat dari kayu oak.

Pembuatan tong pun tak boleh sembarangan. Tong harus dibuat dengan tangan, tanpa paku maupun lem perekat. Papan-papan kayu disatukan dengan cincin atawa lempeng besi.

"Di sini terjadi interaksi antara eaux de vie dengan kayu oak," ujar Andri. Umumnya, kayu yang dipakai berasal dari pohon oak berusia 100-150 tahun. Perusahaan bekerja sama dengan Pemerintah Prancis untuk mereservasi perkebunan oak.

Eksistensi tong dari kayu oak dalam proses pembuatan ini bakal memperkaya rasa konyak. Ia bakal menghadirkan aroma vanilla-smokey dalam konyak.

Selain itu, tong dari kayu oak juga memberikan warna bagi konyak. Jus anggur hasil destilasi hanya berbentuk air bening tanpa warna. Namun, tong kayu oak membuatnya berwarna cokelat keemasan.

Tong dari kayu oak tempat penyimpanan konyak.Tong dari kayu oak tempat penyimpanan konyak Hennessy. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)

Air hasil destilasi itu baru bisa disebut konyak setelah melalui tahap penyimpanan minimal selama dua tahun.

Sebenarnya, alur proses sedemikian rupa adalah cara umum yang dilakukan di setiap produsen brendi di Prancis. Lalu, apa yang membuat Hennessy istimewa?

"Master blender perusahaan ini berasal dari satu garis keturunan yang sama, yakni keluarga Jean Fillioux," kata Andri.

Setiap hari tepat pukul 11.00, delapan orang master blender akan berkumpul di sebuah ruangan untuk meracik campuran konyak terbaik. Kolaborasi dua keluarga--Hennessy dan Fillioux--menjadi rahasia mengapa rasa konyak konsisten hingga kini.

Ragam tingkatan rasa

Sebagai pemula dalam dunia konyak, Anda patut mengetahui tingkatan rasa yang dimilikinya. Dikutip dari berbagai sumber, ada tiga tingkatan rasa konyak. Pertama adalah VS alias 'very special' yang merujuk pada konyak dengan minimal masa penyimpanan dua tahun.

Kedua adalah VSOP atau 'very superior old pale'. Di tingkat kedua ini, paling tidak konyak disimpan selama empat tahun. Dan terakhir adalah XO atawa 'extra old' di mana konyak disimpan selama empat tahun.


Jika ingin mencecap konyak dengan cita rasa eaux de vie yang kuat, Anda bisa mencoba jenis XO. Hennessy memiliki tipe XO dengan lama penyimpanan sekitar 12-30 tahun.

Mencecap konyak tak jauh berbeda dengan wine. Pertama, cium sensasi aromanya. Konyak memiliki aroma cukup kuat dan manis. Cecap sedikit dan rasakan sensasi 'terbakar' di lidah serta kerongkongan.

"Kalau minum, jangan lupa dihembuskan untuk merilis alkoholnya," ucap Andri.

Tak cuma itu, penyimpanan konyak dalam tong kayu pun memberikan pengaruh. Rasa mirip kayu, cokelat, dan sedikit rempah akan terasa di sana.

Lantaran kandungan alkoholnya yang cukup tinggi, minuman ini hanya disarankan untuk mereka yang berusia 21 tahun ke atas. (els/asr)