FOTO: Makanan-makanan Menjijikan dalam Museum di Swedia

REUTERS, CNN Indonesia | Kamis, 08/11/2018 16:54 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Museum anyar di Kota Malmo, Swedia, memamerkan rupa-rupa makanan aneh dan menjijikan dari seluruh dunia.

Sebuah museum anyar di Kota Malmo, Swedia tampil gila dengan memamerkan makanan-makanan menjijikan. (TT News Agency/Johan Nilsson via REUTERS)
Museum yang diberi nama Disgusting Food Museum itu resmi dibuka sejak Kamis (1/11) lalu. Di dalamnya, tersimpan aneka kuliner aneh dan menjijikan yang bisa dipandangi pengunjung. (TT News Agency/Johan Nilsson via REUTERS)
Tengok saja wine tikus yang dipamerkan di salah satu sudut museum. Minuman anggur yang berkembang di Korea Selatan dan China ini dianggap ampuh untuk mengobati beberapa jenis penyakit. (TT News Agency/Johan Nilsson via REUTERS)
Pengunjung juga bisa melihat makanan yang terbuat dari fermentasi kacang kedelai dan bakteri Bacillus subtilis. Bakteri ini biasa ditemukan di dalam tanah dan saluran pencernaan manusia. (TT News Agency/Johan Nilsson via REUTERS)
Sementara dari Negeri Lumbung Padi, diboyong makanan berupa rebusan embrio bebek atau 'balut' yang biasa menjadi kuliner pinggir jalan di Filipina. Selain di Filipina, makanan aneh satu ini juga ditemukan di Laos, Kamboja, Thailand, dan Vietnam.  (TT News Agency/Johan Nilsson via REUTERS)
Selain itu, ada pula deep fried tarantula atau laba-laba besar yang digoreng kering. Makanan satu ini jadi camilan populer di Kota Skuon, Kamboja. (TT News Agency/Johan Nilsson via REUTERS)
Yang lebih menjijikan adalah kehadiran casu marzu alias keju busuk di museum ini. Makanan ini merupakan keju tradisional yang terbuat dari susu domba. Orang-orang Sardinia, Italia, membiarkan susu domba itu membusuk hingga menjadi 'rumah' bagi belatung. (TT News Agency/Johan Nilsson via REUTERS)
Melalui museum ini, kurator sekaligus pencetus Disgusting Food Museum, Samuel West, ingin agar orang-orang dapat mengenali dan bahkan mengubah pikirannya mengenai makanan-makanan menjijikan yang menurutnya bersentuhan erat dengan budaya yang berkembang di masing-masing daerah asal. (TT News Agency/Johan Nilsson via REUTERS)