Penanganan Kanker yang Terus Berputar di Pusaran

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 05:20 WIB
Penanganan Kanker yang Terus Berputar di Pusaran Ilustrasi pengidap kanker (REUTERS/Khaled Abdullah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perkembangan kanker di Indonesia kian mengerikan. Tren penyakit mematikan ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis Globocan pada 2018, angka kanker di negara berkembang meningkat 50 persen dibanding tahun 1990.

Tercatat, kematian akibat kanker mencapai 9,6 juga orang pada 2018. Sebanyak 57,3 persen di antaranya berasal dari Asia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, terdapat 348 ribu kasus baru dan 207 ribu kematian.



Data BPJS Kesehatan juga menunjukkan beban biaya akibat kanker yang kian melonjak. Biaya akibat kanker pada 2017 berada pada peringkat kedua tertinggi, naik tiga peringkat dibanding 2014.

Penanganan kanker di Indonesia ini dinilai lebih sulit teratasi ketimbang negara berkembang lainnya lantaran adanya beberapa masalah dan hambatan.

"Secara umum masalah utamanya populasi dan luas wilayah kita jauh lebih banyak, sehingga sulit mengelola kanker," kata Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Aru Wisaksono Sudoyo saat temu media di Jakarta, Rabu (31/10).

Menurut Aru, kondisi Indonesia yang luas dan terpisah oleh banyak lautan mempersulit penanganan kanker. Hal ini menyebabkan timbulnya masalah lain, yakni akses pada obat dan fasilitas kesehatan yang tidak merata.


Penderita kanker di daerah pelosok dan terpencil sulit mendapatkan pelayanan dan obat-obatan. Belum lagi obat penghilang rasa nyeri atau opioid seperti morfin sulit didapatkan karena terhalang regulasi.

"Obat nyeri ini padahal merupakan hak bagi penderita kanker. Tapi karena regulasi melarang, (obat) sulit didapatkan dan dokter tidak berani meresepkan," ucap Aru yang juga merupakan profesor ahli kanker.

Masalah lain yang juga disorot adalah kurangnya informasi dan edukasi mengenai kanker, termasuk dari tenaga medis. "Dokter pun banyak yang tidak tahu karena tidak semua dipelajari," ujar Aru.

Untuk mengatasi masalah penanganan kanker di Indonesia, Aru menyebut YKI bakal menerapkan hasil resolusi dari pertemuan World Cancer Congress 2018 yang digelar oleh UICC pada 1-4 Oktober lalu.


Pertemuan itu menghasilkan rekomendasi langkah penanganan kanker di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Pertama, Aru menyebut, YKI bakal mengadvokasi pemerintah untuk meningkatkan data kasus kanker untuk keperluan kesehatan publik. YKI juga akan meningkatkan akses masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini dan diagnosis yang tepat. Serta, memberikan pelatihan paliatiaf kepada caregiver pasien kanker. (ptj/asr)