Sekilas Sejarah Busana Berkabung Kerajaan Inggris

CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 21:11 WIB
Dalam masa berkabung, setiap anggota keluarga Kerajaan Inggris harus mengikuti aturan berpakaian yang ketat. Ilustrasi. Dalam masa berkabung, setiap anggota keluarga Kerajaan Inggris harus mengikuti aturan berpakaian yang ketat. (iStockphoto/dragana991)
Jakarta, CNN Indonesia --

Berpulangnya Pangeran Philip, Duke of Edinburgh pada 9 April lalu membawa duka bagi keluarga Kerajaan Inggris.

Dalam masa berkabung tersebut, setiap anggota keluarga kerajaan harus mengikuti aturan berpakaian yang ketat, terutama untuk Ratu Elizabeth. Sang ratu akan mengenakan pakaian serba hitam selama dua minggu sebagai tanda masa berkabung atas kepulangan suaminya, Pangeran Philip.

Sementara keluarga kerajaan lainnya menghindari pakaian berwarna cerah, dan diwajibkan mengenakan pakaian serba hitam saat pemakaman pada 17 April.


Perempuan akan mengenakan gaun sepanjang lutut berwarna hitam, lengkap dengan topi yang formal. Sementara laki-laki akan mengenakan mantel hitam, lengkap dengan dasi dan medali.

Hitam telah lama jadi warna pilihan untuk berkabung dan sudah populer sejak abad pertengahan. Pakaian hitam juga jadi simbol visual kesedihan dan rasa duka.

Menurut tradisi di Inggris, warna hitam juga berfungsi sebagai penunjuk status, rasa, dan tingkat kesopanan sang pemakai.

Dipopulerkan Ratu Victoria

Seorang penulis buku yang juga pengamat sejarah mode, Kate Strasdin mengatakan, gaun hitam sebagai tanda berkabung dipopulerkan oleh Ratu Victoria sendiri.

Saat kematian suaminya, Pangeran Albert pada 1861, sang ratu secara terang-terangan mengungkapkan kesedihannya dengan mengenakan pakaian hitam setiap hari hingga kematiannya sendiri.

Gaun hitam panjang yang dikenakan Ratu Victoria disebut sebagai 'gaun janda'. Gaun ini dilengkapi dengan kain hitam tipis yang mentupi wajah, yang sekaligus jadi pertanda seorang istri yang baru saja kehilangan suami.

"Victoria lah yang mempopulerkan nuansa mode kesedihan dengan mempertahankan identitasnya sebagai 'janda abadi'," kata Strasdin, dikutip dari CNN, Jumat (16/4).

Pada era Victoria tersebut, detail pakaian dapat jadi tanda seseorang sedang berkabung.

Pakaian berkabung juga menunjukkan status kekayaan dan derajat seseorang di masyarakat. Semakin hitam dan bagus kainnya, semakin tinggi derajatnya.

Tak hanya itu, pakaian berkabung juga tak bisa dibeli sembarang orang karena harganya yang cukup mahal.

Di era ini pula, seorang janda diharapkan mengenakan pakaian berkabung dengan nuansa hitam dari kepala hingga kaki, tanpa hiasan atau riasan. Saat kesedihannya memudar, warna pakaiannya pun kembali berwarna cerah.

"Pakaian setengah berkabung bisa dikenakan dalam warna abu-abu, putih, kuning pucat, atau ungu lavender," kata Strasdin.

Meski era Victoria sudah terlewat, aturan mengenakan pakaian serba hitam masih dipertahankan oleh Kerajaan Inggris.

Pada 1982, potret Putri Diana mengenakan gaun hitam dan topi terekam saat pemakaman Putri Monaco Grace Kelly. Kemudian pada 1997, potret Pangeran Philip, Pangeran William, Pangeran Harry, Pangeran Charles, juga mengenakan pakaian serba hitam dalam sebuah pemakaman kerabat kerajaan.

(mel/asr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK