Menguak Rahasia Nikmatnya Tahu Yun Sen Asli Bandung

CNN Indonesia | Senin, 05/11/2018 04:17 WIB
Menguak Rahasia Nikmatnya Tahu Yun Sen Asli Bandung ilustrasi tahu (Istockphoto/Diane Labombarbe)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bandung adalah salah satu tujuan utama warga Jakarta yang ingin liburan akhir pekan.

Bukan hanya wisata alam dan deretan distro untuk tempat shopping, kulinernya pun selalu menjadi alasan warga untuk berpelesiran ke Kota Kembang, Bandung.

Tak cuma brownies, pisang bolen, tahu susu, sampai bakso cuanki Bandung yang jadi incaran. Tahu Yun Sen juga incaran perburuan kuliner khas Bandung.



Tahu Yun Sen sendiri dikenal juga sebagai Tahu Talaga.

Untuk menuju ke lokasi pabrik tahu ini tidak sulit. Dari arah Jalan Asia Afrika ambil saja ke arah barat menuju Jalan Jenderal Sudirman.

Jika Anda melintas pada sebuah lorong sempit di antara dua bangunan besar di Jalan Sudirman 227, di situlah pabrik Tahu Talaga berada.

Jangan heran ketika tiba di lokasi, akan tercium bau menyengat khas kunyit dan kedelai yang sedang diolah. Begitu masuk ke dalamnya, hamparan tahu berwarna putih dan kuning yang empuk dan kenyal terlihat menggoda selera.

Uap panas di atasnya memperlihatkan bahwa tahu ini baru saja selesai diolah dan siap dikemas. Di pabrik ini, Anda bisa menyaksikan setiap proses pembuatan tahu dari awal sampai akhir.

"Kami di sini memang sengaja membuatnya sebagai pusat turisme. Sebagai pusat pembuatan tahu satu-satunya berdiri di dalam kota, kami selalu menjaga kehiginiesan tahu yang diproduksi," kata Hendra Gunawan, pemilik Tahu Talaga saat ditemui CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.


Hendra tak menampik bau kunyit dan kedelai akan dirasakan orang-orang saat melintas Tahu Talaga. "Karena kami memakai bahan yang alami saja, isinya kedelai, air, garam lokal, dan kunyit untuk tahu kuning," jelasnya.

"Makanya pabrik kami bisa dilihat semua orang supaya mereka mengetahui tahu kami ini dibuat fresh (segar) dengan bahan alami," tutur Hendra sambil melahap tahu kuning yang memang bisa langsung disantap tanpa harus digoreng atau diolah terlebih dahulu itu.

Ciri khas utama tahu di sini ialah teksturnya yang lembut di lidah. Isi tahunya juga padat. Hendra mengatakan bahwa rahasia tahu ini terletak pada bumbu kunyitnya yang alami. 

"Kalau bukan kunyit (tapi pakai pewarna) maka bagian dalamnya akan ikut kuning. Warna kuningnya juga akan menempel di tisu setelah digoreng."

Bila ingin membawa tahu ini sebagai oleh-oleh, tahu bisa bertahan selama lima hari. Syaratnya, tahu harus disimpan di dalam kulkas. Tidak perlu direndam, cukup disimpan ke dalam wadah lalu dibersihkan dengan air. Tahu pun bisa langsung dimasak.

"Tapi kalau mau dibawa ke luar kota, tinggal divakum pack. Tahunya bisa tahan hingga dua minggu," ujarnya.

Pabrik Tahu Talaga buka dari pukul 6 pagi hingga pukul 4 sore. Selain pabrik, Tahu Talaga juga menyediakan olahan tahu yang dijual di sebuah toko.

Setelah puas melihat pembuatan tahu, Anda juga bisa mampir ke warung yang menyajikan berbagai hidangan ringan (cemilan) tahu.

Beberapa di antaranya yang patut dicoba adalah tahu bodo yang rasa pedasnya sangat menantang, tahu kriuk yang renyah dan masih banyak hidangan lain seperti nasi bakar bodo, nasi goreng kuning, bebek komplit, dan hidangan lainnya.

Foto: CNN Indonesia/Huyogo Simbolon

Bisnis Keluarga

Hendra, generasi ketiga dari pemilik bisnis tahu ini mengatakan, pabrik tahu didirikan pada 1923 oleh Liauw Phak Phin dan Mak Ilot dari Talaga, Cikijing, Jawa Barat. Dulu pabrik itu namanya tahu Yun Sen, artinya selalu sukses. 

Seiring perkembangan usahanya, nama produk itu ditambahkan kata Talaga, merujuk asal pendirinya. Pada tahun 2000, estafet bisnis diteruskan kepada Hendra.

"Nenek kan asli orang Talaga. Baik kakek dan nenek, masing-masing berbeda cara pembuatan tahunya dan itu yang kemudian disatukan. Terutama warna kuning yang saya percaya asli Indonesia," ujarnya.

Semenjak dikelola Hendra, pengolahan tahu tidak lagi menggunakan cara tradisional seperti di era awal berdirinya pabrik tahu itu.


"Kami mulai meninggalkan peralatan-peralatan tradisional seperti meninggalkan peralatan dari kayu yang diganti bahan stainless, fiber dan sebagainya. Itu dilakukan supaya prosesnya lebih higienis," jelas Hendra.

Meskipun nama berubah dan peralatan yang digunakan sudah baru, rasa dan tekstur tahu ini tetap sama.

"Peralatannya diganti tanpa mengurangi kualitas dan rasa. Nantinya supaya lebih sedikit interaksi dengan tangan, akan semakin higienis lagi," ujarnya.

Tahu Talaga mempergunakan bahan-bahan alami dengan proses pemilihan, penyimpanan hingga pengolahan bahan baku yang sangat teliti. Dapurnya,  yang terbuka terlihat sangat bersih. Pekerjanya pun selalu mempergunakan sarung tangan,

"Kedelai yang dipakai impor dan lokal untuk tahu kuning biasa. Kalau untuk tahu organik khusus kedelai lokal. Kenapa pakai impor? Jadi petani lebih suka menanam beras daripada kedelai karena untung mungkin lebih banyak dan enggak terlalu capek."

Sampai di saya harga mereka juga enggak berbeda jauh dengan yang impor malahan saya tanya ke petani langsung entah apa yang membuat mahal saya curiganya bibitnya. Saya pakai distributor karena kacang lokal harganya enggak jauh beda dengan impor Rp100-200," paparnya.

Mulai dari tahu tipis, tahu kuning, tahu putih, tahu pong, dan tahu sutra. Berbagai ukuran. Harga yang dijual cukup murah, sepotong tahu kuning hanya Rp 3 ribu. Sedangkan tahu organik Rp 5 ribu.

Menurut Hendra, tahu ini diproduksi sekitar 6 hingga 7 kuintal dalam sehari. Kualitas tahu, kata dia, harus benar-benar selalu segar.


(hyg/chs)