Gara-gara Brexit, Inggris Butuh Banyak Antidepresan

CNN Indonesia | Rabu, 21/11/2018 09:55 WIB
Gara-gara Brexit, Inggris Butuh Banyak Antidepresan ilustrasi obat (morgueFile/mconnors)
Jakarta, CNN Indonesia -- Obat antidepresan kini menjadi salah satu obat paling diburu di Inggris. Pasalnya penggunaan obat ini meningkat signifikan dibandingkan resep obat lainnya.

Berdasarkan penelitian baru yang dirilis di Inggris, kondisi ini terjadi menyusul dengan adanya keputusan Inggris pada 2016 untuk keluar dari Uni Eropa atau Brexit.

Tak dimungkiri, pro-kontra Brexit menmang menjadi pembicaraan politik di Inggris selama lebih dari dua tahun. Ketidakpastian dan kondisi politik akibat Brexit ini juga ternyata memengaruhi kesehatan mental penduduk.



Berdasarkan penelitian di King's College London menemukan bahwa berdasarkan data resep bulanan resmi untuk antidepresan di 326 daerah pemilihan di Inggris. Mereka membandingkannya lagi dengan kelas obat lain dalam dalam jangka waktu hingga referendum 23 Juni 2016 dan minggu-minggu lainnya.

Hasil brexit ini dianggap sebagai kejutan yang menyebabkan ketidakpastian cukup besar terhadap ekonomi Inggris. Hanya saja, penelitian tersebut dilakukan untuk meneliti apakah ada pengaruhnya dengan penggunaan antidepresan yang lebih besar.

Setelah menghitung dosis harian yang ditentukan, penelitian menyebut bahwa volume antidepresan yang diresepkan meningkat 13,4 persen dibandingkan dengan obat lainnya.

"Ini menunjukkan bahwa resep antidepresan relatif meningkat di Inggris setelah referendum Brexit dibandingkan dengan kelas obat lain yang digunakan sebagai kelompok kontrol," kata Sotiris Vandoros, dosen senior bidang ekonomi kesehatan di King's College London dan profesor di Harvard kepada AFP.

Meskipun sulit untuk secara definitif mengatakan bahwa pemungutan suara brexit ini berkontribusi pada penggunaan antidepresan, namun Vandoros mengatakan bahwa peningkatan obat itu termasuk cukup signifikan.


"Semakin banyak literatur yang menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi bisa memicu efek negatif pada kesehatan mental."

"Kerawanan kerja dan kekhawatiran tentang keuangan di masa depan terkait dengan hasil kesehatan yang lebih buruk. Setiap peristiwa yang memicu ketidakpastian dan kekhawatiran bisa berakibat negatif." (chs/chs)