Perjuangan Seorang Anak Melawan Gagal Ginjal Kronis

CNN Indonesia | Jumat, 16/11/2018 06:44 WIB
Perjuangan Seorang Anak Melawan Gagal Ginjal Kronis Viara Hikmatun Nisa, anak penderita gagal ginjal kronis bersama kedua orang tuanya dalam diskusi media di Kementerian Kesehatan, Jakarta. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gadis itu duduk di atas kursi roda. Dia sedikit lemas karena sehari sebelumnya baru saja menjalani hemodialisis atau lebih dikenal dengan terapi cuci darah.

Perempuan bernama lengkap Viara Hikmatun Nisa itu merupakan satu dari sedikit anak yang menderita gangguan ginjal kronis. Penyakit ini membuat perawakan Viara tampak kecil, padahal usianya sudah memasuki 14 tahun.

Penyakit ginjal kronis memang kebanyakan menyerang orang dewasa. Tapi, bukan berarti menutup kemungkinan bisa menyerang anak.


Secara global, insiden gangguan ginjal pada anak mencapai 33,7 persen dengan angka kematian 13,8 persen. Sementara di Indonesia, data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 2017 mencatat sebanyak 212 anak dari 19 rumah sakit yang terdata mengalami gangguan ginjal.


Jumlah penderita gangguan ginjal kronis yang terus meningkat membuat penyakit ini mesti diwaspadai anak.

Gangguan ginjal pada anak terbagi atas akut dan kronis. Gangguan akut merujuk pada kerusakan ginjal secara mendadak dan singkat. Sementara gangguan kronis, sebagaimana yang diidap Viara, terjadi lebih dari tiga bulan dan sering kali hingga seumur hidup.

Penyakit ginjal kronis yang diidap Viara telah berlangsung lama. Awalnya, saat masih berusia tujuh tahun, Viara menderita penyakit usus buntu. Ada benjolan berwarna keunguan yang membuat Viara mesti menjalani operasi usus buntu di Situbondo, Jawa Timur.

Enam bulan kemudian, perut Viara kembali kembung. Kali ini, Viara dibawa agak jauh dari kediamannya di Situbondo ke Jember untuk menjalani operasi kedua dengan diagnosis pelengketan usus. Operasi itu tak bisa dibilang sukses lantaran dua bulan setelahnya Viara tak bisa buang air besar dan perutnya kembung lagi.

Viara akhirnya dibawa ke Malang untuk kembali dibedah. Alhasil, sekitar 70 sentimeter usus Viara mesti dipotong karena sudah menghitam. Sayangnya, operasi itu diwarnai banyak kegaduhan dan membuat Viara terbaring dalam kondisi koma di ICU hingga 50 hari.


Bangun dari koma, Viara menjalani rawat jalan dengan kondisi badan yang lemah. Tak lama, saat pemeriksaan rutin dokter menemukan ada kelainan pada fungsi ginjal.

Dari Malang, Viara kembali berpindah rumah sakit ke Surabaya. Saat diperiksa, dokter mendiagnosis Viara menderita penyakit lupus dan divonis gagal ginjal.

"Kemungkinan saat operasi berulang itu, Viara sudah menderita lupus tapi karena masih awal belum ada gejala. Itu sebabnya, imun Viara lemah dan lupus itu menyerang ginjal," kata spesialis anak yang kini merawat Viara, dr Eka Laksmi Hidayati saat berbicara dalam diskusi media di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (13/11).

Lupus memang menjadi salah satu penyebab gagal ginjal. Dari keseluruhan, sebanyak 14,6 persen gagal ginjal pada anak disebabkan oleh lupus. Sisanya disebabkan oleh sindrom nefrotik yang membuat protein bisa lolos ke urine sebanyak 16 persen, hipoplasia atau ginjal kecil 12,3 persen, dan 13,2 persen di antaranya tak diketahui penyebabnya.

Keadaan gagal ginjal membuat Viara harus rutin cuci darah dua kali dalam sepekan. Namun, terapi itu terkendala karena tak ada peralatan hemodialisis khusus untuk anak di Surabaya. Viara hanya satu-satunya pasien hemodialisis di kota Pahlawan itu.


Namun, demi kesembuhan, Viara terpaksa melakukan cuci darah dengan alat yang biasa digunakan orang dewasa. Tak ayal, Viara mengerang kesakitan.

"Setiap 30 menit harus diberhentikan karena si anak kesakitan sekali," ucap sang ayah, Syaihul Hady, dalam kesempatan yang sama. Dua tahun Viara rutin melakukan cuci darah dengan alat untuk orang dewasa itu.

Tak tega, Syaihul lalu membawa Viara pindah ke Jakarta agar bisa menjalani terapi dengan alat yang tepat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Syaihul dan keluarganya pindah menetap di Metropolitan demi mengejar kesembuhan Viara sejak 2015.

Mereka tinggal di Utan Kayu agar tak jauh rawat jalan ke RSCM. Maklum, setidaknya Viara mesti dua kali seminggu menjalani cuci darah. Selain terapi hemodialisis, Viara juga menjalani perawatan untuk meningkatkan berat badan. Saat tiba di RSCM berat badan Viara sempat turun menjadi 12 kg.

Tetap produktif

Walau terkungkung perawatan, bukan berarti Viara tak bisa berkarya. Dia gemar menggambar dan membuat kerajinan tangan.

"Suka menggambar atau buat gelang, kalung," ujar Viara.


Viara bahkan membawa semua peralatan kerajinannya itu saat menjalani hemodialisis di rumah sakit. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk berjualan kepada dokter, suster, dan pengunjung lain di rumah sakit. Empat tahun berobat di RSCM membuat Viara mampu mengumpulkan Rp10 juta dari hasil jualan kerajinan tangan.

"Anaknya aktif sekali. Dia buat kerajinan tangan lalu dijual. Sekarang tabungannya sudah Rp10 juta," ungkap Syaihul.

Selain menjual secara langsung, Viara juga menjual di dunia maya lewat akun Instagram-nya @viarahikni serla platform e-commerce seperti Tokopedia dan Buka Lapak dengan nama Viarashop.

Kini, Viara tengah menunggu antrian BPJS Kesehatan untuk menjalani transplantasi ginjal dari ibunya, Inwaningsih. Rencananya, Viara akan kembali menjalani operasi di RSCM pada Februari 2019. (ptj/asr)