Studi: Jatuh Cinta Bisa Bikin Anda Sehat

CNN Indonesia | Kamis, 15/11/2018 14:35 WIB
Studi: Jatuh Cinta Bisa Bikin Anda Sehat ilustrasi jatuh cinta (Condesign/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- 'Jatuh cinta berjuta rasanya', potongan lirik lagu milik Project Pop ini tampaknya mampu mewakili mereka yang sedang jatuh cinta. Meski kerap diidentikkan dengan tingkah laku 'ajaib', rupanya jatuh cinta terbukti memberikan manfaat buat kesehatan tubuh. 

Sebuah studi menyebut bahwa jatuh cinta mampu menurunkan tekanan darah dan melawan infeksi. 

Kok?



Menurut para peneliti di University of Western Virginia, California, Amerika Serikat menjelaskan bahwa jatuh cinta menyebabkan adanya aktivitas pada 12 area otak. Mereka mengatakan perubahan aktivitas otak dimulai dalam seperlima detik. 

Studi yang diterbitkan dalam Annals of Behavioral Medicine juga menyebut adanya pelepasan hormon seperti dopamin yang membantu mengatur repons emosional dan oksitoksin yang dikenal sebagai 'cuddle hormone' atau hormon yang membuahkan rasa percaya dan menurunkan kehawatiran. 

"Pentingnya kejadian dalam hidup, seperti jatuh cinta, memiliki efek psikologis seperti halnya efek emosional. Sistem imun, hormon dan banyak faktor lain turut terlibat," kata Profesor Sir Cary Cooper, psikolog di Universitas Manchester dikutip dari Daily Mail

Aktivitas sentuhan memainkan peranan penting dalam pelepasan hormon. Kulit terhubung dengan otak melalui saraf vagus. Stimulasi vagus memicu peningkatan hormon oksitoksin. 

Di samping itu, jatuh cinta memiliki efek untuk melawan infeksi. Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology, penelitian melibatkan 50 wanita yang merasakan jatuh cinta dalam dua tahun terakhir. Mereka terbukti menunjukkan perubahan genetik yang berhubungan dengan semakin tingginya konsentrasi komponen yang mampu melawan virus. 

Peneliti menganggap peningkatan kadar dopamin berhubungan dengan sistem saraf dan imun.  


Sementara itu, rasa cinta juga mampu melawan rasa sakit pada tubuh. Peneliti dari Standford University, California menggunakan brain scan untuk mengukur respons otak apda rasa sakit. Partisipan diminta untuk melihat foto orang yang mereka cintai. 

Hasilnya, partisipan yang diminta melihat foto orang yang dcintai dilaporkan mengalami penurunan rasa sakit hingga 40 persen. Peningkatan kadar hormon dopamin saat melihat foto si dia menjadi alasan di balik turunnya rasa sakit. Dopamin jadi semacam 'pain-killer'.  (els/chs)