Kisah Bumil Bertahan Hidup di Venezuela Tanpa Obat dan Dokter

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 12:00 WIB
Kisah Bumil Bertahan Hidup di Venezuela Tanpa Obat dan Dokter ilustrasi melahirkan (hepatocyte/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Melahirkan memang jadi pertarungan hidup dan mati seorang ibu. Namun di Venezuela, bayangan kematian saat melahirkan jauh lebih berisiko dan lebih besar dibanding di tempat lain.

Yoli Cabeza misalnya. Dia harus menahan rasa sakit sebelum melahirkan. Tak cuma itu dia juga harus menahan sakit selama dirujuk dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.

Wanita berusia 37 tahun itu didiagnosis dengan kehamilan berisiko tinggi. Namun risiko tinggi itu tak juga membuat dia bebas dari 'rolet' medis Venezuela. Rolet medis sendiri merupakan proses operan atau merujuk pasien dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain karena kurang personel, persediaan obat, atau kondisi sanitasi yang bermasalah.



Cabeza mengatakan kepada AFP bahwa dia sudah diajak tur keliling rumah sakit di daerah Ciudad Guyana sebelum dia kembali dibawa ke rumah sakit tempat dia periksa pertama kali, yaitu unit bersalin Negra Hipolita.

Berbeda dengan Cabeza, Yusmari Vargas, ibu hamil yang mengalami preeklampsia juga menemui masalah.

Ketika dia berada di unit bersalin, unitnya ditutup. Makin lama kontraksinya makin kuat, dia akhirnya melahirkan bayinya di lorong lantai rumah sakit. Hal ini menyebabkan kepalanya benjol.

"Ketika dia lahir, tak ada yang membantu saya, tak ada yang bisa memotong tali pusarnya. Itu berantakan,"katanya.

Tingkat kematian bayi meningkat

Beda cerita dengan Carolina Rojas. Dia hampir kehilangan putrinya setelah operasi caesarnya ditunda beberapa kali.

"Satu hari tak ada spesialis, hari berikutnya tak ada dokter anak, dan lainnya, ahli anestesi tak muncul."

Akibatnya, putrinya pun menelan cairan ketuban dan dirawat delapan hari di rumah sakit setelah dia lahir.

Jangan dulu merasa kasihan hanya pada Cabeza, Vargas, atau Rojas. Pasalnya mereka hanyalah satu dari banyaknya perempuan Venezuela yang mengalami masalah ini. Kasus ini bukan kasus langka dan aneh di Venezuela.


Di awal November lalu, seorang perempuan terpaksa melahirkan putranya sambil berjongkok di rumah sakit terbesar di Bolivar.

Yang lebih menyedihkan, di rumah sakit tersebut juga mengharuskan pasiennya menahan sakit sendiri. Tak ada ahli anestesi, tak ada bahan untuk pembedahan.

"Pasien harus berpaling (tidak melihat bagian yang dibedah),"kata Silvia Bolivar, perawat di Concepcion Palacios, unit bersalin terbesar di Caracas.

Ibu hamil juga terkadang diharuskan untuk membawa tas desinfektan dan kantong sampah mereka sendiri dari rumah.

Perlengkapan operasi caesar sendiri dijual US$100 di pasar gelap.

Kondisi ini menyebabkan angka kematian bayi meningkat 30 persen pada 2016 dengan angka 11.466 bayi dalam satu tahun.

"Tahun ini adalah tahun yang mengerikan bagi ibu hamil," kata Yohanni Guarayote, ibu hamil di Venezuela lainnya.

Penyebab

Ironi di Venezuela ini disebabkan karena kondisi negara tersebut yang berada di tengah krisis ekonomi. PBB mengatakan bahwa ada sekitar 2,3 juta orang sudah meninggalkan Venezuela sejak 2015. Sebagian besar dari mereka adalah dokter.

Berdasar data berbagai organisasi nirlaba, sekitar 22 ribu dokter, lebih dari separuh jumlah total dokter di Venezuela beremigrasi pada 2012-2017,.

Selain itu, ada lebih dari 6 ribu perawat dan 6,6 ribu teknisi laboratorium meninggalkan negaranya. Sementara ada 90 persen obat-obatan dan persediaan lain yang dibutuhkan.

(chs/chs)