Mengenal Kanker pada Rongga Mulut

CNN Indonesia | Selasa, 18/12/2018 16:09 WIB
Mengenal Kanker pada Rongga Mulut Ilustrasi. (Istockphoto/Cylonphoto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sel kanker dapat tumbuh di mana saja, termasuk di rongga mulut. Meski terbilang ganas dan mematikan, kanker rongga mulut dapat dicegah sejak dini. Namun, selama ini banyak penderita terlambat mendapatkan diagnosis dan sulit disembuhkan.

"Padahal, apabila dideteksi dini, kanker mulut dapat dicegah," kata Ketua Ikatan Spesialis Penyakit Mulut Dokter Gigi, Rahmi Amtha saat diskusi media di Jakarta, Kamis (13/12).

Kanker rongga mulut terjadi karena adanya pertumbuhan massa atau jaringan pada jaringan lunak di rongga mulut yang tidak bisa dikendalikan.


Berdasarkan data global, insiden kanker mulut pada 2016 menempati peringkat keenam jumlah kanker terbanyak di dunia. Setiap tahunnya, terdapat 300 ribu kasus kanker mulut baru di dunia dan separuh dari itu meninggal dunia.


Sebanyak 50 persen kejadian itu didominasi oleh negara Asia, dengan Asia Tenggara--yang di dalamnya termasuk Indonesia--menyumbang 11 persen.

Rahmi menyebut, angka harapan hidup penderita kanker rongga mulut terus menunjukkan peningkatan. Pada 2009, angka bertahan hidup hanya sekitar 13 bulan. Pada 2016 meningkat menjadi 24 bulan dan saat ini sudah berada di angka 30 bulan.

Deteksi dini

Kanker rongga mulut ini dapat dikenali sejak dini. Berdasarkan penelitian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker mulut berkembang dari lesi yang muncul di jaringan lunak mulut. Lesi merupakan segala bentuk perubahan pada jaringan mulut dari segi warna, bentuk, ukuran, tekstur, dan kekenyalan.

Lesi yang muncul itu dapat berupa warna putih, merah, atau keduanya. Bisa pula berupa tonjolan atau titik-titik di rongga mulut. Lesi ini dapat tumbuh di bibir, lidah, dasar lidah, gusi, dasar mulut, langit-langit mulut, belakang pipi, dan kelenjar liur.

"Sebelum jadi kanker, hampir selalu muncul lesi," ucap Rahmi. Penelian menunjukkan, sebesar 64,9 persen kanker mulut bisa dicegah jika keberadaan lesi ini disadari sejak dini. "Ini angka yang sangat tinggi," tambahnya.


Namun, lesi kerap kali diabaikan karena tak menimbulkan rasa sakit. Kebanyakan orang beranggapan lesi sama seperti jamur dan sariawan yang dapat sembuh dengan sendirinya. Padahal, dalam banyak penelitian, lesi bisa berubah menjadi kanker dalam waktu 3-10 tahun.

Faktor risiko

Kanker rongga mulut juga dapat dicegah dengan menghindari faktor risiko. Faktor risiko itu meliputi kebiasaan merokok, alkohol, mengunyah pinang sirih, genetik, pola makan, infeksi jamur, dan stres. Virus HPV 16--penyebab kanker serviks--juga dapat menimbulkan kanker rongga mulut melalui aktivitas seks oral.

"Penyebab utama yang sudah diteliti oleh WHO adalah rokok, alkohol, dan mengunyah pinang sirih," ujar Rahmi yang juga merupakan pengajar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti.

Mengunyah pinang sirih merupakan salah satu faktor terbesar. Pasalnya, pinang mengandung empat zat karsinogenik yang dapat memicu kanker.

Selain itu, banyak mengonsumsi antioksidan yang didapat dari sayur dan buah-buahan dapat mencegah perkembangan sel kanker. (ptj/asr)