Penyanyi di 'Hutan Bunuh Diri' Berharap Calon Korban Pulang

AFP, CNN Indonesia | Jumat, 21/12/2018 20:47 WIB
Penyanyi di 'Hutan Bunuh Diri' Berharap Calon Korban Pulang Kyochi Watanabe, sang "penjaga" Hutan Aokigahara. (Behrouz MEHRI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di bawah langit malam di pinggiran 'Hutan Bunuh Diri' di Jepang, Kyochi Watanabe menyanyikan lagu Imagine karya John Lennon sambil berharap lirik lagu tersebut bisa mengetuk pintu hati orang yang sedang berencana bunuh diri.

Sejak delapan tahun yang lalu musisi berusia 60 tahun ini selalu melakukan kegiatan tersebut demi mencegah orang datang ke hutan untuk bunuh diri. Sekaligus ia ingin mengubah citra buruk hutan yang sebenarnya berpemandangan indah itu.

Namun ia sekarang merasa cemas bahwa usahanya tidak membuahkan hasil.


Hutan Aokigahara menjadi perbincangan di dunia setelah seorang Youtuber, Logan Paul, merekam video sedang berada di dalamnya sambil menyorot korban gantung diri di salah satu pohonnya.

Video itu tentu saja memicu kemarahan Watanabe, warga yang lahir dan besar di pemukiman dekat Hutan Aokigahara.

Sejak kecil ia menghabiskan hari-harinya bermain di tengah hutan, hingga suatu hari semakin banyak orang yang datang ke sana untuk bunuh diri.

"Ini adalah hutan alam. Ini adalah hutan pemberian Tuhan. Ini bukan tempat semacam itu," katanya.

"Apakah orang ingin membuat hutan ini menjadi neraka?" lanjutnya sambil mengatakan kalau dirinya merasa sedih hutan kenangan masa kecilnya itu saat ini digambarkan begitu suram.

Watanabe kini tinggal di sebuah rumah kecil di tepi Hutan Aokigahara yang namanya berarti ladang pohon-pohon biru.

Saat malam tiba, ia menyalakan pengeras suara di luar rumahnya untuk memperdengarkan musik. Jika tak sedang memetik gitar untuk bernyanyi, terkadang ia memutar lagu hip hop dengan tingkat suara yang sangat tinggi.

Ia percaya musik adalah cara untuk menjangkau hati orang-orang yang sedang dilanda kekacauan. Tak sedikit orang yang putar balik tak jadi datang ke hutan karena mendengar suara yang gaduh dari rumahnya.

Kalau musik tak memberi pengaruh, ia sering turun tangan untuk mencegat orang-orang yang datang ke hutan untuk bunuh diri.

Salah satu pengalamannya ialah saat dirinya mengajak berbincang seorang pria asal Osaka yang meyakinkannya untuk kembali ke rumah.

"Dia kembali ke rumah dan sampai sekarang dia masih mengirim saya pesan di Facebook," katanya.

Tingkat bunuh diri tertinggi

Sejarah panjang Hutan Aokigahara berawal dari pertengahan abad kesembilan, ketika Gunung Fuji meletus dan lava menutupi daerah-daerah luas yang telah berubah menjadi hutan seluas 30 kilometer persegi.

Penduduk setempat telah lama memuja hutan dan sekitarnya sebagai tempat suci yang konon menjadi tempat tinggal seekor naga.

Pepohonan di hutan ini sangat lebat, sehingga medannya dilapisi banyak akar dan lumut.

Sejak tahun 1970-an hutan ini menjadi inspirasi kisah fiksi sebagai tempat bunuh diri dalam karya sastra, serial televisi sampai film.

Penggambaran tersebut malah alasan semakin banyak "turis bunuh diri" yang datang ke sini.

Pihak berwenang sudah berhenti menghitung korban yang ditemukan di dalam hutan ini. Namun setiap tahunnya ada saja selusin pria dan wanita yang ditemukan tak bernyawa di sini.

Di pintu masuk hutan ada tanda peringatan: "Hidup adalah hal yang berharga yang diberikan oleh orang tua Anda. Pikirkan lagi dengan tenang tentang orang tua, saudara dan anak-anak Anda. Jangan khawatir sendirian. Pertama bicara kepada kami" dan ditambahi nomor telepon lembaga kesehatan mental terdekat.

Hutan Aokigahara di Jepang. (Jordy Meow via Wikimedia Commons (Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported license))


Jepang memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di kelompok G7, dengan lebih dari 20 ribu orang mengakhiri nyawanya per tahun.

Dan tingkat bunuh diri di Prefektur Yamanashi, di mana Hutan Aokigahara berada, adalah yang terburuk di Jepang selama delapan tahun hingga 2014.

Hampir setengah dari mereka yang bunuh diri di wilayah itu berasal dari tempat lain, menunjukkan bahwa hutan ini menjadi destinasi mengakhiri nyawa terfavorit.

Dalam beberapa tahun terakhir penduduk setempat mengatakan jumlah korban tampaknya menurun. Banyak yang berharap bahwa tidak ada lagi korban di dalam hutan.

Tapi harapan itu harus pupus setelah video Logan Paul beredar dan ditonton oleh 6 juta orang, meski kini video tersebut telah dihapus dan dirinya telah meminta maaf kepada khalayak.

'Ini tugas saya'

"Dulu hutan ini populer karena media massa, sekarang oleh media sosial," kata Watanabe.

"Sekarang seluruh dunia tahun tentang hutan ini, mereka kembali berdatangan."

Video Logan Paul bukan satu-satunya faktor yang membumbui reputasi buruk tempat itu dalam beberapa tahun terakhir.

Namun Watanabe mengatakan video Logan Paul tampaknya telah menarik pengunjung yang mencari wisata kengerian.

"Beberapa pengunjung asing bahkan bertanya padaku di mana mereka bisa melihat orang mati."

Di balik citranya sebagai hutan bunuh diri dan hutan angker, Hutan Aokigahara masih menjadi destinasi wisata menarik bagi turis umum.

Watanabe tahu dia menghadapi perjuangan berat untuk mengubah citra Hutan Aokigahara, tetapi mengatakan dia terus berkomitmen untuk melakukannya.

"Karena saya lahir di sini, saya harus melindungi tempat ini," katanya.

"Saya penjaga gerbang. Saya merasa ini seperti tugas yang harus saya emban."


Masalah kesehatan mental jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Komunitas Save Yourselves https://www.instagram.com/saveyourselves.id, Yayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi https://pijarpsikologi.org/konsulgratis. 
(ard)