Kisah Para 'Pencuci Paru-paru' Korban Tsunami Banten

CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 13:56 WIB
Kisah Para 'Pencuci Paru-paru' Korban Tsunami Banten Ilustrasi korban tsunami Selat Sunda (ANTARA FOTO/Ardiansyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Saya enggak bisa dengar berita orang mati karena paru-parunya kemasukan sesuatu, sementara saya enak-enak ngopi di Jakarta. Saya enggak bisa tidur."

Dua kalimat singkat itu terucap dari mulut Mohamad Fahmi Alatas, tak lama setelah melakukan tindakan 'cuci paru' pada korban tsunami Selat Sunda.  Fahmi, begitu dia biasa disapa, adalah seorang dokter spesialis paru dari RSUP Persahabatan, Jakarta.

Dia 'meluncur' menuju Pandeglang, Banten, untuk membantu menangani korban yang membutuhkan bantuan bersama dengan rekanan dokter lainnya dari rumah sakit tersebut. 


Saat informasi mengenai pneumonia aspirasi--penyakit yang menyerang korban tsunami--berseliweran di jejaring sosialnya, Fahmi tak kuasa menahan diri. Dia lantas bertekad dan berangkat menjadi relawan.


Pneumonia aspirasi merupakan infeksi paru yang terjadi akibat masuknya zat atau benda asing seperti air, pasir, lumpur, dan sebagainya ke dalam paru-paru.

Awalnya, Fahmi tak menyangka banyak korban tsunami yang terserang pneumonia aspirasi. Betapa tidak, kasus ini jarang sekali ditemukan di Jakarta. Padahal Jakarta dikenal sebagai sebuah wilayah yang getol dihinggapi bencana banjir. Tapi, tak pernah ada laporan pneumonia aspirasi karena tenggelam atau sebagainya.

Baru saat mendengar kabar soal bayi yang meninggal akibat pneumonia aspirasi di Banten, hatinya mulai tergerak. Dia terpanggil untuk membantu korban tsunami lainnya di lokasi bencana. 

Tak tunggu waktu lama, Fahmi tinggalkan semua kegiatan dan pasiennya. Padahal, biasanya dalam satu hari, ada 10 pasien paru yang antre untuk berobat.

"Mereka bisa cari dokter paru lain, tapi korban ini tak bisa menunggu," kata staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia kepada CNNIndonesia.com.


Selain bayi itu, ada banyak korban tsunami Selat Sunda. Baik mereka yang masih berjuang bertahan hidup dari pneumonia aspirasi, atau mereka yang telah tiada akibat penyakit mematikan itu. Pneumonia itu menyerang saat korban diterjang ombak tinggi atau tenggelam dalam waktu lama dan menelan beragam material yang ada.

Bahaya terburuk dari 'menelan' material-material itu jelas kematian. Masuknya material itu membuat korban sulit untuk bernapas.

Penderita pneumonia aspirasi paru mesti mendapatkan pertolongan segera melalui metode 'cuci paru' atau dikenal dengan bronkoskopi. Sayang, peralatan yang ada kurang memadai. RSUD Berkah, Pandeglang, bahkan tak memiliki alat untuk membersihkan paru.

Fahmi bersama beberapa tenaga ahli medis lainnya dari RSUP Persahabatan memboyong tiga alat bronkoskopi beserta sebuah ambulans.

Setibanya di RSUD Berkah Pandeglang, Fahmi langsung menangani dua pasien pneumonia paru. Ada seorang pasien lagi yang juga tengah menunggu giliran.

Dua pasien yang ditangani ini masing-masing berusia 60 dan 35 tahun. Saluran pernapasan keduanya tampak kotor saat dimasukkan alat pembersih berukuran dua milimeter itu.


Yang mengenaskan, dua rongga paru-paru kedua orang itu pun dipenuhi banyak benda asing. Ada berbagai material -yang tak habis pikir bisa masuk ke dalam paru-paru- misalnya lumpur, pasir, dan serpihan lainnya.

"Ada yang bentuknya seperti serabut, ada yang warna hitam, mungkin itu pasir pantai. Kami sedot dan kami bersihkan," ujar Fahmi.

Pneumonia aspirasi pada korban tsunami terbilang lebih berbahaya dibanding pneumonia aspirasi air tawar seperti di kolam renang, misalnya. Material yang masuk terbilang kotor dan butuh waktu untuk menemukannya.

"Mereka tidak tenggelam di laut, tapi pasien ini 'tenggelam' di rumahnya, dihimpit balok saat ada ombak tsunami. Jadi airnya sudah bercampur semua," ungkap Fahmi.

Selama sekitar 30 menit hingga satu jam, Fahmi melakukan prosedur bronkoskopi. Kondisi pasien setelah menjalani prosedur itu langsung membaik dan kembali stabil.


"Ada yang sebelumnya masuk ICU dan setelah dibronkoskopi langsung bisa keluar dari situ," ucap Fahmi.

Pasien ini akan terus dimonitor dengan melakukan rontgen berkala serta pemberian obat dan antibiotik. Rencananya, Fahmi dan tim bakal membantu merawat korban tsunami Selat Sunda hingga akhir pekan ini, bahkan saat dia harus melewatkan agenda ngopi serta pasien-pasien lain yang menunggunya di Jakarta. (asr/asr)