Bahaya Abu Vulkanik Letusan Anak Krakatau Bagi Kesehatan

CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 11:45 WIB
Bahaya Abu Vulkanik Letusan Anak Krakatau Bagi Kesehatan ilustrasi gunung anak krakatau (ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa waktu terakhir Gunung Anak Krakatau mengeluarkan abu vulkanik berupa asap hitam dan awan panas. Abu vulkanik yang tebal namun berukuran sangat kecil itu berbahaya dan dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.

Dokter ahli paru Agus Dwi Susanto menjelaskan abu vulkanik hasil letusan gunung api mengandung partikel debu yang sangat halus dan dapat terbawa mencapai jarak berkilo-kilo meter jauhnya. Komponen halus itu mempunyai sifat iritatif dan korosif karena memiliki kandungan asam. Debu inilah yang berisiko menyebabkan masalah kesehatan pada manusia.

Paparan abu vulkanik dalam jangka waktu singkat akan menyebabkan masalah pada kulit. Agus mengungkapkan bahwa kulit dapat mengalami iritasi dan menimbulkan gejala berupa gatal dan kemerahan jika terkena debu vulkanik.



Iritasi ini juga dapat terjadi pada mata. Agus menyebut abu vulkanik yang mengenai mata dapat mengakibatkan gejala gangguan melihat berupa mata perih dan mata berair.

Selain itu, ukuran abu vulkanik yang sangat halus seperti di bawah 10 mikron dapat terhirup ke saluran pernapasan atas. 

"Kalau masuk ke saluran atas bisa iritasi juga dan memunculkan banyak gejala," ucap yang merupakan Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) kepada CNNIndonesia.com, Jumat (28/12).

Gejala yang timbul berupa gatal di hidung, hidung berair, dan tenggorokan terasa panas atau sakit.

Ukuran yang lebih kecil lagi yakni di bawah 5 mikron bahkan dapat masuk ke dalam paru-paru.

Debu vulkanik bisa masuk ke dalam saluran pernapasan bawah dan menyebabkan batuk-batuk. Pada konsentrasi yang tinggi, batuk dapat disertai dengan dahak, sakit dada, dan sesak napas.

Masyarakat yang terpapar dengan debu vulkanik harus segera mengungsi agar paparan debu abu vulkanik tak makin membahayakan tubuhnya.

Pasalnya, dalam paparan jangka panjang, artinya seseorang terpapar debu abu vulkanik secara terus-menerus dalam jangka waktu berbulan-bulan maka risiko penyakit kronis bakal mengintai.


Agus menuturkan penyakit kronis yang muncul dapat berupa peradangan kronis, penurunan fungsi paru, dan bronkitis kronis.

ilustrasi debu vulkanik saat meletusnya Gunung Sinabungilustrasi debu vulkanik saat meletusnya Gunung Sinabung (Foto: ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)

"Ini terjadi dalam jangka panjang karena selalu berada dekat dari abu vulkanik yang tiap hari menghirup abu itu dalam jangka waktu yang lama," ucap Agus.

"Jika terpapar pada manusia akan mudah terjadi iritasi dan korosi pada organ yang terkena," kata Agus

Lalu siapa yang paling berisiko terdampak akan bahaya debu abu vulkanik?

Agus mengungkapkan bahwa sebenarnya abu vulkanik ini dapat mengenai dan membahayakan siapa saja. Namun risiko akan lebih tinggi pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, orang yang sudah memiliki penyakit kronis seperti asma, paru, dan jantung.

Salah satu cara tepat untuk menghindari paparan debu vulkanik adalah dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika hal tersebut tak memungkinkan, Anda sebaiknya waspada dan melindungi diri dengan menggunakan proteksi seperti baju panjang, kacamata, dan masker. (ptj/chs)