SURAT DARI RANTAU

Doa yang Terjawab di Kanada

Lidheta Sentanu, CNN Indonesia | Sabtu, 29/12/2018 15:17 WIB
Doa yang Terjawab di Kanada Ilustrasi. Gereja Katedral Santo Yoseph di Pontianak. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Leamington, CNN Indonesia -- Dingin dan sepi adalah dua kata yang bisa menggambarkan suasana di Kanada saat saya pertama kali menginjakkan kaki di sana pada 2013. Ketika itu rasanya saya ingin masuk pesawat lagi dan pulang ke Jakarta.

Tapi sebagai perempuan berdarah Jawa, mustahil rasanya mengakui kegagalan. Apalagi jika harus pulang ke Jakarta dan bertemu dengan mantan pacar saya yang menyebalkan.

Ya, rasa patah hatilah yang membawa saya ke Kanada pada lima tahun yang lalu. Tidak ada alasan yang lebih pasti dari itu. Bahkan saya tidak terpikir untuk mencari suami dan beranak pinak di sini.


Tapi nasib memang tidak bisa ditebak, karena yang bisa ditebak hanyalah kuis.

Saya bertemu dengan suami saya yang awalnya menjadi teman di kantor saya. Setelah setengah bulan bekerja bersama dengannya, saya baru paham kalau perhatian yang diberikannya lebih dari perhatian teman.

Ajakan menjadi pacar disambung dengan ajakan menjadi istri setahun berikutnya. Sembilan bulan kemudian lahirlah anak pertama kami.

Sekilas cerita kehidupan saya terdengar menyenangkan, bukan? Tapi kalian yang membaca ini mungkin tidak pernah tahu berapa liter air mata yang sudah saya teteskan sejak pertama menginjakkan kaki di sini.

Kangen ibu, menangis. Kangen ayah, menangis. Kangen adik, menangis. Kangen teman-teman, menangis. Sampai sosok abang bakso yang sering lewat depan rumah pun kadang saya tangisi.

Dua momen yang paling berharga dalam hidup saya, pernikahan dan kelahiran anak, juga penuh haru karena tidak ada kehadiran keluarga. Harga tiket pesawat yang mahal dan urusan visa yang rumit membuat kami harus puas melepas rindu melalui layar telepon genggam.

Doa yang Terjawab di KanadaPenulis bersama anak dan suami. (Dok. Lidheta Sentanu)
Rasa kangen keluarga bukan satu-satunya hal yang memicu tangis saya selama di Kanada. Rasa kesepian juga ikut serta.

Di Kanada saya tinggal di kota kecil Leamington. Tidak seperti Ottawa, kota ini tak terjaga 24 jam. Hari biasa sepi, hari libur semakin sepi.

Jangankan arisan, berbincang dengan tetangga juga jarang kami lakukan. Bukannya menjaga jarak, tapi memang jarang ada yang gemar bersosialisasi di sini. Lima tahun saya tinggal di sini, saya hanya mengenal tiga keluarga yang sesekali saya sapa ketika kebetulan berpapasan.

Rasa kangen Tanah Air biasanya saya obati dengan memasak masakan khas Indonesia yang sederhana, seperti nasi goreng. Video-video lucu Youtuber Indonesia juga kadang membuat saya tertawa-tawa sendiri.

Jika setiap hari sepi, berbeda dengan saat hari libur nasional, seperti Canada Day atau Natal.

Di Canada Day tahun ini saya berkesempatan menatap Perdana Menteri Justin Trudeau yang hadir dalam karnaval. Sama seperti yang dilihat di foto atau video, Pak Trudeau ini memang sangatlah memesona! Suami dan anak saya yang berusia tiga tahun sampai terbengong-bengong saat melihat saya heboh meneriakkan namanya di tengah karnaval.

Karnaval serupa juga digelar lagi menjelang Natal. Keramaian bakal ditambah dengan pasar Natal yang digelar di setiap kota.

Menjelang Natal juga saya bakal lebih sering terlihat seperti mumi dengan pakaian hangat yang berlapis-lapis saat keluar rumah. Kanada mengalami musim dingin mulai bulan November sampai Maret. Dan suhu dingin di Leamington bisa sampai -30 derajat Celcius. Jalan kaki ke supermarket dekat rumah menjadi cobaan terberat saat musim dingin.

Doa yang Terjawab di KanadaPenulis dan suami di tengah guyuran salju Kanada. (Dok. Lidheta Sentanu)
Lima tahun di Kanada memberi saya banyak pengalaman dan pelajaran hidup. Saya juga merasa beruntung bisa tinggal di Kanada, yang pemerintahannya membuat banyak aturan yang melatih penduduknya untuk mandiri, menaati aturan dan menghargai orang lain.

Mungkin pekerjaan polisi bisa terbilang santai di sini, karena seluruh penduduknya taat berlalulintas sampai membayar pajak. Semua elemen di negara ini seakan sadar bahwa kewajiban menjadi warga negara yang baik juga membuahkan kondisi negara yang lebih baik juga.

Bangga dengan negara baru bukan berarti saya sering nyinyir tentang Indonesia. Saya tetap ingin anak saya menguasai bahasa Indonesia dan mengenal budaya Indonesia, terutama Yogyakarta.

Setelah mengajarinya beberapa kata bahasa Indonesia, saat ini saya sering mengajarinya menyanyikan lagu-lagu anak Indonesia. Saya mau saat besar dia juga bangga punya darah Indonesia.

Sebagai wanita karier dan ibu rumah tangga, perjuangan saya untuk hidup enak di Kanada masih panjang. Di tahun baru nanti, saya dan suami berencana untuk mulai disiplin menabung demi kesejahteraan keluarga. Untuk pendidikan dan kesehatan gratis, tapi biaya hidup di Kanada cukup mahal. Kalau ada uang lebih bukan tidak mungkin kami akan pulang kampung ke Indonesia tahun depan.

Bagi yang ingin mencicipi kerja keras di Kanada bisa mencari informasi di situs resmi untuk menghindari penipuan. Mempelajari bahasa Inggris juga menjadi syarat utama.

Jangan langsung membayangkan dapat pekerjaan di posisi tinggi, sebaiknya tekuni pekerjaan sederhana hingga mendapat posisi yang lebih baik. Posisi saya sebagai marketing di salah satu greenhouse terbesar di Amerika Utara juga berawal dari usaha sana sini.

Dan satu hal penting lagi ialah terus berdoa agar terus mendapat semangat dari Yang Maha Kuasa.

[Gambas:Instagram]

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

(ard)