Yang Terjadi di Tubuh Saat Proses Cuci Darah

CNN Indonesia | Kamis, 03/01/2019 13:36 WIB
Yang Terjadi di Tubuh Saat Proses Cuci Darah ilustrasi cuci darah (Istockphoto/Akiromaru)
Jakarta, CNN Indonesia -- Prosedur cuci darah beberapa waktu belakangan menjadi pembicaraan banyak orang. Pasalnya calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyebut bahwa RSCM memakai satu selang cuci darah untuk 40 pasien.

Terkait hal ini, RSCM pun sudah membantahnya.

"Kami sejak 2012 sudah menggunakan single use, satu kali untuk satu pasien," ucap Direktur Medik dan Keperawatan RSCM Sumariyono.



Cuci darah dalam bahasa medis disebut juga sebagai hemodialisis. Hemodialisis berasal dari dua kata yaitu hemo (darah) dan dialisis (pemisahan zat terlarut). Sehingga hemodialisis sendiri berarti proses pembersihan darah dari zat-zat yang tak terpakai.

Dokter spesialis penyakit dalam RS Siloam Semanggi Tunggul Situmorang menjelaskan bahwa cuci darah memiliki dua metode. Pertama, hemodialisis atau metode cuci darah menggunakan mesin dan melalui perut yang dikenal denggan CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis).

Tunggul menyebut terapi dialisis ini dilakukan pada orang dengan gagal ginjal atau fungsi ginjalnya berada pada tahap lima atau kronis. Terapi dialisis dilakukan saat pasien tak lagi bisa diobati secara konservatif melalui diet dan obat-obatan. Pada tahap ini, pasien biasanya mengalami gejala seperti sesak, mual, muntah. 

Saat ginjal tak lagi berfungsi, ginjal tak bisa membuang racun di dalam tubuh. Racun inilah yang dibuang melalui proses hemodialisis. 

"Pada pasien gagal ginjal, banyak toksik yang bertumpuk di dalam tubuh dan harus dibuang agar kualitas hidup pasien membaik," kata Tunggul kepada CNNIndonesia.com, Kamis (3/1).

Namun, proses cuci darah ini dilakukan dengan bantuan mesin bernama dialiser. Bantuan mesin cuci darah atau hemodialisis dilakukan karena ginjal manusia mengalami masalah atau gangguan sehingga tak lagi bisa menjalankan fungsinya untuk menyaring zat-zat sampah.


Mesin ini akan menggantikan peran ginjal untuk mencuci darah dan membersihkannya.

Proses pembuangan ini dilakukan dengan menggunakan tiga komponen utama yakni mesin hemodialisis, selang hemodialisis (blood tubing), dan dialiser (ginjal buatan).  Ginjal buatan itu memiliki kapiler-kapiler harus untuk memisahkan racun dari darah.

Lalu apa yang terjadi dalam proses pencucian darah?

Tunggul menjelaskan metode hemodialisis ini dilakukan dengan mengalirkan darah dari tubuh pasien, biasanya paha atau leher dengan selang menuju dialiser dan dikembalikan lagi ke dalam tubuh. Darah itu dialirkan dengan kecepatan 200-250 cc per menit. 

"Darah dialirkan ke ginjal buatan, dibersihkan melalui cairan, dan dimasukkan kembali ke dalam tubuh," ucap Tunggul yang merupakan konsultan ginjal dan hipertensi. 

Proses ini berlangsung selama lima jam dan dilakukan selama dua atau tiga kali dalam sepekan.

Mengutip berbagai sumber, saat pencucian darah, darah dikeluarkan dari tubuh dan masuk ke dalam mesin dialisis. Alur darah ini disalurkan ke dalam mesin dari tubuh dengan menggunakan jakur buatan antara pembuluh arteri dan vena yang disebut fistula arteriovenosa lewat operasi. Darah pun dipompa ke dalam mesin dan diberi zat antibeku, heparin.

Darah yang ada di dalam mesin tersebut akan dicuci, prosesnya mirip dengan yang dilakukan ginjal dalam tubuh.

Di sini proses penyaringan darah dari berbagai zat sampah yang tak berguna akan dilakukan lewat penyaringan selaput semipermiabel dan proses difusi serta ultrafiltrasi.

Darah yang sudah bersih dan bebas dari sampah akan dialirkan kembali ke dalam tubuh. Mengingat banyaknya jumlah darah dalam tubuh manusia, maka proses pencucian darah pun juga berlangsung cukup lama.


Tunggul menyebut peraturan dan prosedur yang berlaku mengharuskan selang itu sekali pakai saja. Sedangkan dialiser dapat digunakan lebih dari satu kali untuk satu pasien yang sama.  Dialiser itu dianjurkan digunakan hingga sembilan kali dengan beberapa persyaratan seperti tidak bocor dan tidak ada pembekuan.

"Ini sudah dibuktikan secara ilmiah bahwa dan sangat bisa dipertanggungjawabkan pemakaiannya," ujar Tunggul.

Tunggul menyebut dalam setiap unit dialisis itu ada seorang konsultan ginjal dan hipertensi, spesialis penyakit dalam, internis, dokter umum, dan perawat yang memastikan proses hemodialisis berjalan sesuai prosedur. 

Untuk diketahui, proses hemodialisis ini memakan biaya yang cukup besar karena alat yang digunakan cukup mahal. Rata-rata biaya satu siklus hemodialisis berkisar Rp800 ribu hingga Rp1,2 juta.


(ptj/chs)