SURAT DARI RANTAU

Turis 'Sandal Jepit' yang Taklukan Laut Bering

Yosea Riyadi Permana, CNN Indonesia | Minggu, 06/01/2019 16:31 WIB
Pemandangan kota Skagway di Alaska. (Dok. Yosea Riyadi Permana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kecintaan saya terhadap petualangan memang tak pernah bisa dibendung. Hanya bermodalkan tas dan sendal saya bisa nekat menghampiri tempat-tempat yang bisa memuaskan hasrat batin dan visual.

Bertahun-tahun saya bangga dengan titel 'turis backpacker'. Tapi sebagai maniak wisata yang tak punya penghasilan tetap, saya punya kekhawatiran tidak bisa menjelajahi seluruh sudut dunia. "Uang dari mana?" batin saya.

Memang pasti ada saja kesempatan untuk memenangkan kuis atau mendapat undangan dari sponsor. Tapi saya tak suka menunggu hal yang tak pasti.


Saya langsung memutar otak. Mencari pekerjaan di luar negeri yang gajinya bisa ditabung untuk biaya jalan-jalan menjadi rencana pertama.

Sempat berpikir untuk menjadi pemetik buah di Australia atau Kanada, namun pekerjaan sesederhana itu memiliki syarat yang rumit, terutama untuk imigran.

Pernah juga saya merencanakan untuk bekerja di Timur Tengah, tapi rencana itu kandas karena sekolah saya tidak 'tinggi'.

Rencana A dan B sudah tidak mungkin dilakukan, tapi masih ada rencana C dalam benak saya: kembali ke bangku sekolah, mengambil jurusan perhotelan, dan bekerja di kapal pesiar.

Pikir saya, selama saya bekerja di kapal pesiar saya tak perlu keluar uang untuk jalan-jalan. Gaji yang saya dapat nantinya malah bisa ditabung untuk jalan-jalan saat cuti.

Jika membuat rencana masuk dalam kategori hobi, saya terbilang mahir melakukannya, karena saya cuma berencana kerja di kapal pesiar dan tidak berpikir panjang membayangkan seperti apa kesibukan di sana, bagaimana rasanya jauh dari keluarga dan keselamatan selama di tengah lautan. Pokoknya yang penting pergi saja dulu.

Hampir dua tahun saya menggantungkan tas dan sendal yang biasa saya pakai backpacking karena saya harus kembali duduk di bangku sekolah perhotelan.

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, apalagi jika harus kembali membuka buku, menghapal materi dan menyelesaikan tugas bersama teman-teman sekelas yang rata-rata baru lulus SMA. Seragam sekolah tak membuat tampang saya jadi lebih muda seperti mereka hahaha...

Lulus sekolah saya sudah diterima bekerja di sebuah kapal pesiar. Tapi saya belum bisa naik, karena banyak dokumen yang harus diurus, terutama visa Amerika Serikat, negara yang rutenya paling sering disambangi.

Percayalah, bahwa tidak ada orang yang gemar mengurus visa, karena ketidakpastian bisa membuat pengajuan ditolak sewaktu-waktu.

Beberapa bulan saya menunggu resmi juga seluruh dokumen bekerja saya. Hari keberangkatan yang selama ini selalu menjadi doa sebelum tidur saya akhirnya terwujud juga. Hore!

Turis Sandal Jepit yang Taklukan Laut BeringPenulis saat berada di Alaska. (Dok. Yosea Riyadi Permana)

Pengalaman penulis Surat dari Rantau masih berlanjut ke halaman berikutnya...

(ard)
1 dari 2