Studi: Perut Kian Berlemak, Otak Kian Menyusut

CNN Indonesia | Jumat, 11/01/2019 11:56 WIB
Studi: Perut Kian Berlemak, Otak Kian Menyusut Ilustrasi (REUTERS/Toby Melville)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lemak perut dianggap mengganggu tubuh. Namun, tak cuma mengganggu tubuh, lemak pada perut juga disebut mengganggu fungsi otak.

Penelitian teranyar menemukan keterkaitan antara lemak pada perut dan penyusutan volume materi abu-abu dalam otak. Materi abu-abu mengandung sebagian besar sel saraf otak.

Studi dilakukan dalam dua tahap. Pertama, peneliti mengukur indeks massa tubuh (BMI) dan rasio pinggang-pinggul pada 9.652 orang paruh baya di Inggris. Hampir satu dari lima peserta penelitian ditemukan mengalami obesitas.


Selanjutnya, para peneliti melakukan tes MRI untuk memindai volume otak peserta. Para peneliti memperhitungkan faktor usia, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan tekanan darah tinggi, yang semuanya menjadi faktor pendorong menurunnya volume otak.

Hasilnya, orang dengan angka BMI dan rasio pinggang-pinggul yang tinggi memiliki volume materi abu-abu yang lebih rendah. "Penurunan ukuran otak meningkat secara linear karena lemak di bagian tengah tubuh (perut) lebih besar," ujar penulis studi, Mark Hammer, melansir CNN.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology pada Rabu (9/1) ini menunjukkan kelebihan berat badan terkait dengan penyusutan di daerah tertentu dalam otak seperti pallidum, nucleus accumbens, putamen, dan caudate. Semua bagian otak ini terlibat dalam mengatur motivasi dan penghargaan diri.

"Tidak jelas apakah kelainan pada struktur otak menyebabkan obesitas atau apakah obesitas menyebabkan perubahan struktur otak," ujar Hammer.

Meski bukan barang baru, namun hasil penelitian dianggap kuat dengan adanya sampel penelitian yang mencapai hampir 10 ribu orang.

"Hubungan antara penurunan volume otak dan lemak pada perut ini menunjukkan adanya peran dari faktor-faktor inflamasi dan vaskular," ujar ahli psikiatri, Cara Bohon, dari Stanford University.

Meski penyebab hubungan antara volume otak dan obesitas belum bisa dipastikan, Bohon menduga hal tersebut dipengaruhi oleh faktor nutrisi yang secara langsung menjadi penyebab obesitas.

Bohon mengatakan, penelitian di waktu yang akan datang harus mengeksplorasi unsur inflamasi, nutrisi, dan kesehatan jantung untuk lebih memahami potensi hubungan antara kesehatan otak dan obesitas.

Penelitian Bohon sebelumnya menunjukkan bahwa penurunan berat badan dapat memperbaiki perubahan struktur otak. Penelitian menunjukkan, saat seseorang kehilangan berat badan, volume otak secara tidak langsung akan meningkat. (asr/asr)