Danau di Palau Kembali Didatangi Ubur-ubur Emas

CNN Indonesia | Kamis, 17/01/2019 16:06 WIB
Danau di Palau Kembali Didatangi Ubur-ubur Emas Danau Ubur-ubur di Palau. (Istockphoto/shalamov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah Pantai Maya Bay di Thailand yang kembali didatangi kawanan hiu karang, kabar bahagia serupa juga terdengar dari Danau Ubur-ubur di Palau.

Dikutip dari CNN Travel pada Kamis (17/1), kawanan ubur-ubur emas (Mastigias papua etpisoni) kembali mendatangi Danau Ongeim'l Tketau yang merupakan salah satu objek wisata alam populer di Palau.

Danau tersebut kembali dibuka setelah menjalani pemulihan atas kerusakan lingkungan sepanjang tahun lalu.


Pemerintah Palau mengatakan kawanan ubur-ubur emas memang menjadi primadona Danau Ongeim'l Tketau yang menjadi magnet kedatangan turis.

"Pemantauan yang dilakukan oleh Coral Reef Research Foundation (CRRF) menunjukkan bahwa populasi ubur-ubur sekarang pulih kembali setelah mengalami penurunan akibat kekeringan yang dialami Palau pada tahun 2016," kata pemerintah Palau melalui pernyataan resminya.

Danau Ongeim'l Tketau adalah rumah bagi 20 juta ubur-ubur emas tanpa sengat. Populasi mereka mencapai 30 juta pada 2005.

Kawanan ubur-ubur emas menghilang dari Danau Ongeim'l Tketau setelah terjadi kekeringan pada dua tahun yang lalu.

'Kami optimis'

Gerda Ucharm, ahli biologi penelitian dengan CRRF, mengatakan sekarang ada sekitar 630 ribu ubur-ubur emas, menurut survei terakhir yang dilakukan pada Desember 2018.

Walau jumlahnya masih jauh lebih rendah daripada selama tahun-tahun utama danau, para peneliti tetap merasa optimis.

"Berdasarkan angka dari Desember 2018, populasi belum sepenuhnya pulih. Namun setelah hujan kembali turun dengan deras, kami berharap naiknya volume air danau membuat jumlah mereka kembali seperti semula," kata Ucharm.

Danau Ongeim'l Tketau yang memiliki panjang 400 meter dan kedalaman 30 meter adalah bagian dari Koror State Rock Island Southern Lagoon, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO di negara Mikronesia di Samudra Pasifik barat ini.

Kawanan ubur-ubur transparan yang tak menyengat ini merupakan spesies asli dari Palau.

Para ahli menyalahkan El Nino karena menyebabkan penyusutan populasi ubur-ubur sejak tahun 2006, karena kenaikan suhu air danau menghambat pertumbuhan ganggang, sumber makanan utama ubur-ubur.

Selain itu, kunjungan manusia ke danau yang tak jarang meninggalkan sampah dan polutan seperti bahan tabir surya berbahaya juga menjadi penyebabnya.

Pada tahun 2017 penelitian dari Coral Reef Research Foundation juga mencatat bahwa danau tersebut mengandung konsentrat tabir surya tertinggi.

Sejak penelitian tersebut tersebar luas, pengunjung diminta membersihkan diri sebelum menceburkan diri ke dalam danau.

Pemerintah Palau memang tegas dalam menegakkan aturan perlindungan lingkungan.

Sejak tahun lalu, pengunjung yang masuk objek wisata diminta menandatangani perjanjian menjaga kelestarian alam.

Bahkan sebelum ditutup pemerintah pada tahun 2017 karena masalah lingkungan, setahun sebelumnya penduduk Palau telah menutup Danau Ongeim'l Tketau.

"Para tetua menginginkan danau itu ditutup agar kelestarian cepat pulih," kata Chris Lubba, seorang perwakilan dari Palau Dive Adventures, sebuah agen wisata di Palau.

"Setelah danau tercemar, kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena ubur-ubur menjadi atraksi utama di sana. Kembalinya ubur-ubur tentu memiliki efek positif pada pariwisata," lanjutnya.

Palau Dive Adventures telah mulai menyelenggarakan tur sejak sejak Danau Ongeim'l Tketau kembali dibuka untuk umum.

Jumlah pemesanannya bahkan lebih meningkat dibanding Januari tahun lalu.

Saat ini pengunjung yang ingin berenang di danau juga diminta melakukan kegiatan tersebut bersama pemandu bersertifikat, agar tak membahayakan ubur-ubur yang bertubuh rapuh.

Selain Danau Ongeim'l Tketau ada sejumlah danau lain di Palau. Namun hanya peneliti yang boleh masuk.

(agr/ard)