Polusi Udara Jadi Biang Kerok Warga China Tak Bahagia

CNN Indonesia | Jumat, 25/01/2019 16:42 WIB
Polusi Udara Jadi Biang Kerok Warga China Tak Bahagia ilustrasi polusi udara (AFP PHOTO / PRAKASH SINGH)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polusi udara bukan hanya bisa menyebabkan penyakit. Di China, polusi udara yang mencekik tenggorokan ternyata menjadi pendorong utama terjadinya blues dan ketidakbahagiaan warga kotanya.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada Senin (21/1) di China. Penelitian ini meneliti tentang hubungan antara obrolan di jejaring sosial dengan tingkat polusi partikel halus di udara.

"Analoginya sederhana," tulis peneliti utara Siqi Zheng, profesor rekanan di MIT dan direktur China Future City Lab kepada AFP.



"Tingkat polusi udara yang tinggi akan menurunkan kebahagiaan masyarakat di negara berpenduduk paling padat di dunia."

Untuk mengukur bagaimana polusi udara perkotaan mempengaruhi suasana hati sehari-hari, Zheng dan rekannya menggunakan algoritma pembelajaran mesin untuk menyisir lebih dari 200 juta pesan dari 144 kota yang diunggah pada 2014 di Weibo, situs mikroblogging terbesar di China.

Pada pertengahan 2018, Weibo, mirip dengan Twitter, memiliki 455 juta pengguna aktif.

Para peneliti merancang "indeks kebahagiaan " berdasarkan kata-kata dan konteks utama, dan kemudian menumpuknya terhadap tingkat polusi PM2.5 yang berfluktuasi.

"Kami menemukan korelasi negatif yang signifikan" - ketika satu naik, yang lain turun, antara tingkat polusi dan kebahagiaan," kata Zheng.

"Wanita lebih sensitif terhadap tingkat polusi yang lebih tinggi daripada pria."

Konsentrasi PM2.5 harian rata-rata adalah 55 mcg /m3 di semua 144 kota - lebih dari dua kali lipat batas WHO - dan beberapa kali lebih tinggi di banyak kota.


Kota yang paling tercemar di China adalah Beijing dan Tianjin. Kepadatan partikelnya bahkan sampai empat kali lebih tinggi dari standar manapun.

"Indeks kami memiliki potensi untuk menjadi alat bagi pemerintah untuk memahami keprihatinan sehari-hari warga negara biasa," kata Zheng.

Pemerintah China, pada kenyataannya, telah lama memantau posting dan percakapan di jejaring sosial untuk melacak opini publik.

Polusi udara bukan satu-satunya penyakit yang mendera kehidupan masyarakat di China. Mereka juga terganggu dengan kenaikan harga rumah, kekhawatiran akan keamanan pangan, dan layanan publik yang buruk.

Soal kesehatan sendiri warga China kesal dengan banyaknya ppotongan mikroskopis dari pembangkit listrik tenaga batu bara yang mengendap di paru-paru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat setidaknya lebih dari satu juta kematian bayi prematur tiap tahunnya dikaitkan dengan tebalnya polusi udara.


Partikel kecil dan besar yang beracun seperti nitrogen dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2) dan ozon (O3) juga dikaitkan dengan kinerja kognitif yang buruk, produktivitas tenaga kerja dan hasil pendidikan.

Ketika pencemaran udara makin tinggi studi menunjukkan bahwa orang-orang juga lebih cenderung terlibat dalam perilaku impulsif dan berisiko yang mungkin disesali. (AFP/chs)