HARI GIZI NASIONAL

Orang Tua, Anak yang Menggemaskan Tak Selalu Baik

CNN Indonesia | Sabtu, 26/01/2019 20:21 WIB
Orang Tua, Anak yang Menggemaskan Tak Selalu Baik Ilustrasi bayi (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Orang tua mana yang tak senang saat sang buah hati mengalami tumbuh kembang yang pesat. Apalagi saat perawakan anak terlihat menggemaskan dengan pipi tembam dan badan gempal.

Namun, jangan senang dulu. Sebab, itu adalah bentuk salah persepsi masyarakat. Pipi dan badan yang menggemaskan tak selamanya berarti baik. Tubuh anak yang kelewat gempal bisa berujung pada obesitas dan meningkatkan risiko berbagai penyakit.

"Anak gendut bagus, itu salah persepsi. Bayi yang gemuk 60 persen beresiko obesitas," kata ahli gizi IPB Profesor Hardinsyah kepada CNNIndonesia.com yang ditemui usai temu media memperingati Hari Gizi Nasional di Jakarta, Rabu (23/1). Hari Gizi Nasional diperingati pada tanggal 25 Januari setiap tahunnya.



Pernyataan itu diiyakan oleh ahli nutrisi dan penyakit metabolik, dr Damayanti Rusi Sjarif. Dia menjelaskan, patokan tumbuh kembang anak bukanlah badan yang gemuk, melainkan badan yang sehat.

"Anggapannya (yang benar) sekarang adalah sehat bukan anak yang boleh dicubit, karena obesitas terkait dengan penyakit dan enggak perlu tunggu sampai tua," tutur Damayanti dalam kesempatan yang sama.

Untuk mengetahui kondisi gizi tubuh anak sehat atau obesitas, Damayanti menjelaskan ada beberapa cara yang dapat dilakukan tergantung pada usia anak.

Pengukuran pada anak usia 0-2 tahun mesti dilakukan dengan menggunakan grafik dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang sudah disediakan pada Posyandu dan Puskesmas. Anak usia di atas 2 tahun dapat menggunakan kurva CDC yang diplot berdasarkan usia dan jenis kelamin.

Dari grafik dan kurva itu dapat diketahui status gizi anak seperti kurang gizi, pendek, dan kelebihan gizi atau obesitas. Selain dari kurva, tanda lain yang kasat mata adalah kondisi yang gemuk.


"Sesudah diplot kalau di atas persentil 85 itu tergolong kelebihan berat badan dan di atas 95 itu obesitas. Tanda-tandanya adalah anak gemuk," ucap Damayanti.

Berdasarkan data terbaru dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, jumlah anak yang gemuk atau obesitas di Indonesia mencapai 8 persen. Angka ini menurun dari 2007 sebanyak 12,2 persen dan 2013 sebanyak 11,9 persen.

Dipengaruhi Faktor Lingkungan

Obesitas pada anak kebanyakan disebabkan oleh faktor lingkungan sebanyak 90 persen. Sisanya, sebanyak 10 persen disebabkan oleh faktor genetik.

Dalam hal ini, faktor lingkungan bisa berarti perkara makanan yang serba berlebih. "Faktor lingkungan ini yaitu salah makanan," ujar Damayanti yang sehari-harinya berpraktik di RSCM ini.

Gizi pada anak ini juga dipengaruhi oleh gizi ibu hamil. Misalnya, ibu hamil yang diabetes besar kemungkinan bayi yang lahir akan besar karena banyak asupan gula.

Obesitas pada anak ini dapat menyebabkan berbagai masalah dan penyakit. Mulai dari kadar kolesterol yang tinggi, tekanan darah tinggi, dan kerusakan pada organ tubuh. Dampak ini dapat terasa dalam waktu dekat bahkan sebelum anak beranjak dewasa.

"Enggak usah nunggu di masa depan. Sekarang saja bisa bermasalah karena obesitas. Livernya bisa rusak, paru-parunya rusak, ada banyak lagi," ungkap Damayanti yang juga merupakan dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Jika anak sudah mengalami obesitas, Anda dapat memperbaiki gizi anak dengan mengatur pola makan dan banyak bergerak atau aktivitas fisik. Pada kondisi obesitas yang ekstrem diperlukan tindakan dan perawatan lebih lanjut dari dokter anak. (ptj/asr)