'Saya Enggak Mau Mati Gara-gara Obesitas'

CNN Indonesia | Sabtu, 26/01/2019 19:00 WIB
'Saya Enggak Mau Mati Gara-gara Obesitas' ilustrasi obesitas (Istockphoto/turk_stock_photographer)
Jakarta, CNN Indonesia -- "150/100, tuh kan kamu sudah kena hipertensi."

Didit sejenak terdiam setelah menirukan apa yang dikatakan dokter dua minggu lalu. Vonis hipertensi alias darah tinggi serasa bagai petir di siang bolong.

Bagaimana tidak? Dia mengalami hipertensi di usianya yang ke-26 tahun. Padahal, hipertensi biasanya identik dengan penyakit orang berusia lanjut.



Sembari tertunduk, dia hanya bisa mengenang kembali kehidupannya di masa sekolah menengah dulu. Kalau saja saat itu dia tak abai dengan kondisi kesehatannya itu, mungkin saat ini dia masih segar bugar tanpa catatan buruk di laporan medisnya.

Pada 2005 lalu, Didit sadar dirinya mengalami pra-obesitas. Berat badannya mencapai 70 kilogram untuk anak usia 15 tahun.

"Bahkan saat SMP kayak enggak punya leher," katanya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com pada Jumat (25/1) malam lalu. 

Namun saat itu dia cuek saja. Asalkan tak sampai jatuh sakit dan masih bisa beraktivitas biasa, itu dianggapnya masih sehat.

Dua tahun berselang. Di suatu pagi di 2007-2008 Didit tiba-tiba terbangun karena betis kanannya kram hebat. Sakitnya tak tertahankan. Dokter mengatakan, kram hebat ini adalah gejala asam urat.

"Masih kelas 2 SMA sudah gejala asam urat. Asam urat tuh penyakit orang tua. Oh ya, mungkin memang harus jaga berat badan," ucapnya. 

Tampaknya, gejala asam urat memang menjadi lampu kuning untuknya. Sejak saat itu dia pun mulai membenahi diri dan menjaga berat badannya.

Dia menyadari bahwa asam urat bisa dipicu akibat obesitas dan kurang bergerak. Didit pun mengusahakan untuk tetap bergerak meski hanya berjalan kaki ke sekolah sejauh satu kilometer dari rumahnya.


Beruntung selama masa kuliah asam urat tak pernah kambuh. Bahkan berat badannya sempat turun 10 kilogram menjadi 74 kilogram.

Sayang, dia terlena dengan 'keberhasilannya' sehingga berat badannya kembali melonjak. Ini pun diperparah dengan kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol dan gejala asam urat. 

Pada 2015, rasa sakit hebat mendera tubuhnya. Namun tak ada yang bisa memastikan penyakit yang dideritanya. Pemeriksaan pun dilanjutkan dengan pengecekan indeks massa tubuh.

Hasilnya, dokter menjeratnya dengan vonis obesitas.

Dokter pun memintanya untuk mengubah gaya hidup. Suka tak suka dan mau tak mau dia harus berubah demi menanggalkan status obesitas. Tubuhnya memang tak besar, namun tak dimungkiri kalau obesitas tak cuma diukur dari indeks massa tubuh saja, tapi juga beberapa faktor lainnya.

Didit sadar kalau kondisi obesitasnya ini juga dipengaruhi oleh tingkat stres, tidur larut malam, makan tidak teratur dan makan nasi Padang bisa ia lakoni tiap hari. Tak tanggung-tanggung, ia selalu memasukkan babat dan cincang (lemak/gajih) dalam menu favoritnya ini. 

"Kalau enggak ubah gaya hidup, kamu enggak punya waktu banyak. Kalau enggak segera, sisa hidup sedikit," ucapnya menirukan sang dokter. 

Ia mengiyakan. Sejak itu, ia berhenti merokok, minum minuman beralkohol dan berusaha olahraga meski hanya jalan kaki. Ada perubahan. Didit merasa lebih sehat dan tak merasakan rasa sakit yang pernah ia alami. 

Masuk dunia kerja, ia sempat menyukai olahraga renang. Berenang rutin ia lakoni seminggu sekali. Namun seiring berjalannya waktu, tekanan pekerjaan dan makin banyak kegiatan, frekuensi berenang mulai berkurang. 

Lagi-lagi dia terlena karena terpaksa. Pekerjaan kadang menuntutnya untuk mengambil shift malam, kerja mulai dari jam 9 malam hingga jam 6 pagi. Saat selesai shift, rasa lapar membuatnya menyantap mi instan plus nasi jika ada. Mi instan bahkan sudah jadi kawan karibnya sejak sekolah dasar.

"Ibu belum masak kan sepagi itu, ya mi instan yang cepat (dimasak). Selesai makan tidur," imbuhnya. 


Semua tak terasa hingga akhirnya pada 2017 ada rasa sakit di dada sebelah kiri. Rasa sakit ini serasa menembus hingga ke punggung. Keringat dingin dan sulit berdiri. 

Ada yang salah dengan jantung? Beruntung dokter berkata jantung masih berfungsi normal. "Faktornya ada macam-macam kata dokter. Bisa karena asam lambung naik dan menekan jantung," imbuhnya. 

Hingga pada akhir 2018, dia mengalami batuk plus demam. Batuk sempat sembuh tiga hari kemudian muncul lagi hingga 16 Januari 2019. Ada kecurigaan akan timbul TBC. kekhawatiran ini pun mendorongnya untuk pergi ke dokter. 

"Vonisnya agak sedikit mengejutkan. Kena hipertensi," katanya dengan tatapan kosong. 

Semua berawal dari keluarga

Pertanyaan pun bermuara pada satu hal. Kenapa bisa obesitas? 

Didit bercerita ada anggapan keliru yang dulu dianut sang ibu. Ibunya pernah bercerita dengan bangga bahwa dirinya tiap cek ke posyandu berat badannya selalu naik satu kilogram. Ia lahir dengan berat sekitar 3 kilogram dan terus bertambah hingga usia dewasa. 

Tak ada kebiasaan berolahraga dalam keluarganya. Bahkan sudah jadi rahasia umum ada kasus busa kasur yang menipis gara-gara tubuhnya yang subur. Tak jarang ia pun jadi sasaran bully di sekolah. 


"Obesitasnya karena pemahaman orang tua bahwa gemuk itu sehat, makmur. Padahal kalau gemuk dan berat badan enggak turun kan bahaya," tuturnya. 

Apalagi di rumah sang ibu punya kebiasaan memasak ala warteg alias dalam jumlah besar dan beragam. Pernah ibunya memasak nasi, sayur asem, leunca dan oncom, tahu tempe goreng, sayur bening kesukaan sang ayah dan combro atau gorengan lain. Dia yang selalu diharapkan untuk menghabiskan masakan karena kakak-kakaknya sudah tidak tinggal jadi satu dengan mereka. 

Sejak vonis hipertensi di awal 2019, ia semakin khawatir dengan kondisi jantung. Ia pun rela absen makan nasi Padang selama dua minggu ini. Godaan aroma gulai selalu mengundang untuk disantap, tetapi ia sadar bahwa kesehatannya tetap nomor satu. 

"Saya selalu pegang dada saya. Saya enggak mau mati konyol gara-gara obesitas," ucapnya seraya terkekeh. 

Kini ia berusaha menjaga asupan makanan mulai dari konsumsi nasi merah, ketimun, mengurangi minum kopi dan benar-benar membatasi asupan gula dengan minum teh atau kopi pahit. Mi instan pun sudah ia tinggalkan. 

"Sarapan pasti. Ya yang ada saja di rumah minimal teh. Minum paling tidak dua botol minum (3 liter) sehari. Timun itu diperbanyak, kan bisa menurunkan tekanan darah," imbuhnya. 

Didit mengatakan orang tua perlu menyadari bahwa kesehatan anak tak hanya dipikirkan untuk saat ini tetapi ke depannya juga perlu. Lebih penting lagi menanamkan kecintaan akan aktivitas fisik pada anak. 

Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan dirasakan saat dewasa. 

"Jangan mentang-mentang masih muda terus enggak bakal kena penyakit aneh-aneh. Kalau lagi sakit itu sedih. Tiba-tiba kaki kram kena asam urat.

Mereka yang seusia mungkin ingin mencapai ini itu dalam hidupnya. Saya sehat saja sudah bahagia," ujarnya.
(els/chs)