Tagih Pasien Ratusan Juta, RS di San Francisco Dikritik

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 27/01/2019 05:16 WIB
Tagih Pasien Ratusan Juta, RS di San Francisco Dikritik Ilustrasi. (Istockphoto/OgnjenO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah kecelakaan sepeda tahun lalu, ambulans membawa Nina Dang ke ruang gawat darurat di rumah sakit umum di San Francisco. Beberapa bulan kemudian, tagihan tiba: US$20.243 (sekitar Rp284 juta).

Isu mengenai tingginya biaya medis di Amerika Serikat (AS) selama setahun terakhir sedang diulas oleh situs Vox.

Liputan Vox memicu perdebatan nasional selama berminggu-minggu. Saat ini pihak rumah sakit akhirnya setuju untuk mengurangi tagihan menjadi US$200 (sekitar Rp2,8 juta), Vox melaporkan pada hari Kamis (24/1).


Kisah tersebut menggambarkan kompleksitas sistem kesehatan Amerika, jaringan rumah sakit publik dan swasta yang kusut, ketidakjelasan peraturan dari lokal dan federal, praktik asuransi yang membayar cakupan secara berbeda jika rumah sakit merupakan "rekanan" atau "bukan rekanan", meskipun reformasi perawatan kesehatan sudah disahkan selama kepresidenan Barack Obama.

Di AS, memiliki asuransi kesehatan tidak menjamin ketenangan pikiran.

Pasien harus terus-menerus mencari tahu apakah asuransi mereka akan mencakup prosedur tertentu, atau jika mereka dapat melihat dokter tertentu atau dirawat di rumah sakit tertentu sesuai dengan cakupan mereka.

Cakupan sering tidak lengkap, dan pasien dibiarkan menebak berapa jumlah yang akan mereka bayar pada akhirnya.

Dalam kasus Dang, asuransinya hanya mencakup sebagian kecil dari tagihan dari ruang gawat darurat, sekitar US$ 3.800 (sekitar Rp53 juta) dari total US$ 24.000 (sekitar Rp337 juta).

Kasus tersebut terjadi karena perusahaan asuransi tidak memiliki kontrak pertanggungan dengan rumah sakit, yang bernama Zuckerberg San Francisco General Hospital, setelah sang pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, melakukan donasi ke sana.

Namun rumah sakit itu dianggap "bukan rekanan" bagi semua perusahaan asuransi swasta, sebuah kebijakan yang digambarkan Vox sebagai "mengejutkan," dan yang menghasilkan tagihan yang jauh lebih tinggi bagi banyak pasien.

Vox, yang telah mengumpulkan sekitar 2.000 tagihan yang dikirim pembaca dan menunjukkan tagihan medis selangit, juga menemukan bahwa kunjungan bayi ke UGD di rumah sakit yang sama menghasilkan tagihan US$18 ribu (sekitar Rp253 juta).

Di tempat lain, seorang wanita di Kentucky ditagih US$12 ribu (sekitar Rp168 juta) setelah perusahaan asuransinya menolak membayar untuk kunjungan UGD-nya, mengatakan sakit perutnya tidak pantas untuk keadaan darurat.

Kisah-kisah seperti itu telah menggugah pembuat undang-undang untuk membuat peraturan baru demi membebaskan penduduk AS dari biaya medis yang mencekik.

Beberapa rancangan undang-undang telah diajukan, dan tanggal sidang ditetapkan sebagai upaya untuk mengubah praktik-praktik seperti ini.

Rumah Sakit Zuckerberg hingga saat ini belum mengumumkan perubahan kebijakan, di luar penyesuaian tagihan untuk pasien tertentu, seperti Dang.

"Sangat menyenangkan hal-hal berjalan dengan baik untuk pasien ini! Tetapi, meminta wartawan menyelidiki tagihan medis adalah cara yang sangat buruk untuk menjalankan sistem perawatan kesehatan," cuit Sarah Kliff, jurnalis Vox yang ditugaskan untuk proyek tersebut.

(ard)