Cegah Perubahan Iklim dengan Atasi Obesitas dan Kurang Gizi

CNN Indonesia | Rabu, 06/02/2019 08:54 WIB
Cegah Perubahan Iklim dengan Atasi Obesitas dan Kurang Gizi Ilustrasi (REUTERS/Juan Carlos Ulate)
Jakarta, CNN Indonesia -- BPerubahan iklim tak cuma membuat cuaca jadi tak menentu, tapi juga berhubungan erat dengan masalah gizi seperti obesitas dan kelaparan.

Laporan internasional teranyar menyatakan pemerintah di setiap negara di seluruh dunia harus mengatasi masalah obesitas dan kekurangan gizi sembari menangani perubahan iklim.

Laporan yang baru saja dipublikasikan dalam jurnal Lancet pada Minggu (27/1) menyebutkan solusi yang harus dilakukan dengan cepat sebelum planet Bumi hancur akibat perubahan iklim. Solusi itu saling terkait dalam menangani obesitas, kurang gizi, dan perubahan iklim.


Rekomendasi ini didapat berdasarkan hasil penelitian dari The Lancet Commission yang terdiri dari 43 ahli dari 14 negara.

Seperti diberitakan CNN, salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah pemerintah memberi perhatian lebih pada transportasi umum. Hal ini akan membuat masyarakat lebih nyaman sehingga dapat menjangkau pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan makanan.

Di saat yang bersamaan, kesadaran masyarakat untuk memilih menggunakan transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi juga dapat mencegah masalah-masalah akibat perubahan iklim. Kebiasaan anyar itu membuat orang banyak bergerak dan dengan sendirinya membantu mencegah obesitas. Selain itu, kurangnya kendaraan pribadi juga berarti lebih sedikit gas rumah kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim.

Rekomendasi lain yang bisa dilakukan adalah mengurangi subsidi pemerintah untuk daging sapi, susu, gula, jagung, beras, dan gandum. Laporan ini menyebut subsidi itu sebaliknya dialihkan ke pertanian berkelanjutan untuk mendapatkan makanan yang lebih sehat. Masyarakat juga berhak tahu setiap kebijakan yang dibuat untuk makanan tidak sehat.

Laporan ini juga menyarankan agar label nutrisi yang jelas tertera di setiap produk. Label itu mesti dilengkapi dengan informasi mengenai seberapa berkelanjutan produk tersebut, termasuk berapa banyak air dan karbon yang dibutuhkan untuk membuatnya.

Investasi dalam energi berkelanjutan juga harus digalakkan. Energi berkelanjutan dapat mengurangi polusi udara yang menyebabkan perubahan iklim. Hal ini dapat membuat orang lebih mudah bernapas, yang berarti dapat berolahraga lebih banyak di ruang terbuka.

Dalam masalah dana, laporan ini menyebut perlu investasi sebesar US$70 miliar selama 10 tahun dalam dana global untuk memberantas kelaparan dan kurang gizi. (ptj/asr)