LANCONG SEMALAM

Menguji Fasilitas Kursi Roda di Jakarta

CNN Indonesia | Minggu, 24/02/2019 13:07 WIB
Pelican cross di Thamrin. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi para perantau, modern dan lengkap adalah dua kata yang sering terlintas dibenak untuk menggambarkan Jakarta. Tapi bagi mereka yang membutuhkan fasilitas penunjang untuk melangkah, seperti kaum difabel, julukan tersebut tidak sepenuhnya disepakati.

Jangankan fasilitas penunjang kaum difabel seperti guiding blocks (jalur berwarna kuning dengan huruf braille), secara garis besar trotoar-trotoar di Jakarta bisa dibilang tak layak untuk disebut jalur pejalan kaki; sempit, berlubang dan lebih sering dihadang oleh pot tanaman, pohon atau tiang listrik.

Trotoar nyaman sepertinya cuma ada di kawasan yang dilalui pejabat, seperti kawasan Senayan, Thamrin atau Kuningan. Di kawasan lain, contoh saja di Mampang, trotoar menjadi rebutan pedagang kaki lima, parkir kendaraan sampai pengendara sepeda motor.


Dalam hal menyediakan fasilitas bagi pejalan kaki dan kaum difabel, Jakarta bisa dibilang jauh dari julukan modern.

Via telepon pada Jumat (22/2), saya sempat menghubungi Presiden Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus, untuk bertanya mengenai perkembangan fasilitas umum yang layak di Jakarta.

Ia sependapat bahwa Jakarta belum 100 persen ramah bagi pejalan kaki, terutama untuk kaum difabel. Bukan cuma trotoar, begitu juga dengan fasilitas penunjang lainnya, seperti kursi roda.

Alfred juga mengatakan keberadaan fasilitas penunjang ini kurang diinformasikan, sehingga keberadaannya banyak dianggap mitos.

"Kaum difabel belum bisa mandiri untuk berjalan sendirian di Jakarta, karena kondisi jalan yang belum baik," kata Alfred.

"Sebenarnya sudah ada program dari Dinas Perhubungan bernama PPLL (Petugas Pengatur Lalu Lintas). Petugas ini bertugas untuk mengawasi fungsi fasilitas jalanan seperti trotoar dan membantu para difabel. Mereka biasa beroperasi menggunakan sepatu roda, Segway atau otopet di sekitar jalan Wahid Hasyim dan Suryopranoto, sayangnya hal ini belum diberlakukan di seluruh Jakarta," ujarnya.

Jangan jauh-jauh membandingkan Jakarta dengan kota-kota di Eropa atau Amerika yang ramah kaum difabel. Mari menengok Tokyo.

Kaum tunanetra di sana bisa berjalan sendirian tanpa pengawasan dengan bantuan tongkat mengikuti guiding blocks di sepanjang jalan.

Sudah banyak produk di supermarket Jepang yang memakai huruf braille. Pengelolanya juga menyediakan kursi roda agar orang yang mengalami kesulitan berjalan tetap bisa beraktivitas dengan nyaman, aman dan mandiri.

Berbincang dengan Alfred mengenai kurangnya fasilitas bagi kaum difabel di Jakarta membuat saya ingin terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui sejauh mana fasilitas penunjang seperti guiding blocks dan kursi roda sudah disediakan di sejumlah tempat publik.

10.00 - Naik Bus TransJakarta

Memulai perjalanan dari Halte Bus TransJakarta Tendean, saya mengambil rute menuju Blok M. Sampai di Halte Bus TransJakarta Blok M saya mengambil rute ke Kota Tua.

Beruntung, saya mendapat kesempatan untuk menaiki Bus TransJakarta berwarna merah muda yang dikhususkan untuk wanita.

Nampaknya masih banyak yang belum mengetahui soal aturan naik bus khusus ini. Pasalnya di setiap halte pasti selalu ada penumpang pria yang salah naik.

Meskipun di dalam bus disediakan tempat khusus pengguna kursi roda, bus TransJakarta belum sepenuhnya ramah pengguna kursi roda, karena untuk masih banyak halte dengan tangga susun bukan tangga landai.

Jembatan penyebrangan Tosari sebelum dibongkar. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

11.30 - Kota Tua

Kota Tua dikembangkan menjadi destinasi wisata utama di Jakarta. Harapannya, kawasan wisata ini bisa mendatangkan lebih banyak wisatawan, terutama dari mancanegara.

Tapi mungkin yang membuat kebijakan lupa bahwa ada juga kaum difabel yang ingin berwisata. Pasalnya fasilitas penunjang bagi mereka di sini hampir tidak ada. Papan informasi atau petugas yang bisa ditanyai juga tak ada.

Sesampainya di Kota Tua, saya mengamati jalanan dan tidak menemukan guiding blocks

Pemandangan Kota Tua, Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Saya menghampiri pos berwarna oranye dengan tulisan 'Pesona Indonesia' di tengah-tengah Kota Tua. Saya bertanya kepada penjaga dengan seragam berwarna abu-abu mengenai keberadaan fasilitas kursi roda.

Ia membawa saya ke belakang pos dan menunjukkan satu kursi roda yang keadaannya lebih cocok sebagai properti film horror; reyot dan rusak.

Mencicipi Fasilitas Kursi Roda di JakartaKursi roda sebagai fasilitas difabel di Kota Tua, Jakarta, pada Jumat (22/2). (CNNIndonesia/ Dwiarti R Fauziah)

Usai terkaget-kaget dengan kursi roda horror itu saya melangkahkan kaki ke Museum Wayang dan Museum Fatahillah.

Ada beberapa area yang ramah dengan pengguna kursi roda, tapi hanya di lantai dasar. Jangan harap bisa nyaman berkeliling lantai dua, karena anak tangganya bersusun.

Puas berkeliling Kota Tua, saya menuju halte pemberhentian City Bus untuk menuju Monumen Nasional.

14.00 - Monumen Nasional (Monas)

Sampai di Monas saya turun di gerbang Selatan dekat dengan area kulinernya, Lenggang Jakarta. Guiding blocks sudah terlihat di tepian pejalan kakinya, tapi saat melihat petugas keamanan saya langsung bertanya mengenai keberadaan fasilitas kursi roda.

Guiding blocks yang tersebar di penjuru Monas. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Ia mengarahkan saya ke tenda hijau yang jadi tempat para petugas keamanan berteduh. Di sana pemandangan dua kursi roda horror kembali saya temui. Tapi mungkin yang ini bentuknya masih lebih lengkap walau sama-sama tidak layak pakai.

Sang petugas menyarankan untuk bertanya ke pos penjaga pintu masuk utama (dekat Patung Arjuna Wijaya), karena katanya ada kursi roda yang lebih layak di sana.

Karena sudah melewatkan makan siang saat di Kota Tua saya menyempatkan menyantap Kerak Telor di Lenggang Jakarta.

Di sini saya harus membayar makanan saya dengan uang elektronik agar terhindar dari "harga getok" alias harga tipu-tipu, meski masih ada saja pedagang yang mengaku bahwa mesin uang elektronik mereka rusak sehingga tetap memungut uang tunai dari pembeli.

Usai makan, saya menaiki mobil odong-odong yang mengantarkan saya ke pintu masuk utama Monas.

Di sana saya bertanya lagi tentang ketersediaan kursi roda. Dan ternyata benar, dua kursi roda di sini lebih manusiawi, yang satu berbahan besi yang satu berbahan plastik.

Petugas mengatakan di dalam tugu Monas juga terdapat lift khusus pengguna kursi roda lainnya untuk menjangkau lantai paling atas.

"Nanti bisa kami antarkan sampai masuk ke tugu Monas kalau ada yang pakai kursi roda," kata sang petugas.

Lanjut ke halaman berikutnya...

Mencicipi Fasilitas Kursi Roda di Jakarta

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2