Pelajaran untuk Berdamai dengan Patah Hati

CNN Indonesia | Kamis, 28/02/2019 17:42 WIB
Pelajaran untuk Berdamai dengan Patah Hati Ilustrasi (Istockphoto/Ferrantraite)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ditinggal mantan menikah? Anda tidak sendirian. Pil pahit harus ditelan Luna Maya. Aktris ini diketahui sempat menjalin hubungan romantis dengan Reino Barack selama lima tahun terakhir. Namun, Reino akhirnya memilih penyanyi Syahrini sebagai pelabuhan cinta terakhirnya.

Bayang-bayang pilunya patah hati mungkin menghantui Luna dan siapa pun yang mengalaminya. Apalagi Luna dan Syahrini dikabarkan menjalin hubungan pertemanan. Lalu, bagaimana cara tepat untuk mengatasi dan berdamai dengan sakitnya patah hati?

Sebelumnya, seseorang perlu mengenali proses patah hati untuk kemudian beranjak ke tahap pemulihan.


"Sama seperti kedukaan lainnya, perasaan berduka atau bersedih yang diakibatkan oleh satu hal umumnya ada tahapan dalam diri kita (sebelum) pada akhirnya kita menerima kondisi tersebut," jelas psikolog Ayoe Sutomo saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Rabu (27/2).

Umumnya, ada lima tahap yang dialami yakni penolakan (denial), kemarahan, tawar-menawar (bargaining), depresi, dan penerimaan (acceptance).

Pada tahap penolak, seseorang akan melakukan pengelakan dan berpura-pura tidak terjadi apapun. "I'm fine, I'm okay. I'm good. Seolah enggak terjadi apapun," kata Ayoe.

Tahap berikutnya adalah kemarahan. Seseorang akan mulai marah dan menyalahkan orang lain serta lingkungan. Anggapannya, apa yang terjadi pada dirinya disebabkan oleh orang-orang tertentu.

Kemudian pada tahap tawar-menawar, mulai muncul dialog dalam diri. Orang berandai-andai jika dia tidak melakukan sesuatu hal, tentu ini tidak akan terjadi.

"Setelah tahap bargaining, lalu sebagian orang akan depresi. [Seseorang] mengalami kesedihan begitu mendalam seolah-olah dunia akan berakhir, segalanya tidak ada artinya, semua berantakan, hidupku hancur," lanjut Ayoe.

Terakhir adalah saat seseorang mendapat dukungan tepat. Pada fase ini, seseorang biasanya sudah mampu memaknai permasalahan untuk tiba pada tahap penerimaan. Menerima apa yang terjadi dan tidak perlu ada yang diungkit-ungkit lagi. Semua diterima sebagai perjalanan hidup yang harus menjadikan seseorang lebih baik dan kuat.

Peliknya sakit hati ditikung teman

Tak sedikit orang yang memiliki pengalaman soal 'tikung-menikung' oleh teman sendiri. Kondisi itu biasanya terjadi saat mantan kekasih masih berada di lingkaran pertemanan dan membuat proses move on cukup pelik. Menurut Ayoe, kasus seperti ini akan sulit menuju sampai tahap penerimaan.

"Kenapa? Karena biasanya kalau dengan teman atau orang yang kita kenal, kita ada ikatan atau relasi emosi. Dan yang terjadi adalah semakin kita dilukai oleh orang yang punya kelekatan emosi dengan kita lebih dalam, misal teman atau sahabat, rasanya akan lebih menyakitkan," jelas Ayoe. Di sana perasaan dikhianati dan dibohongi bercampur aduk.

Jika sudah begini, ada dua hal yang bisa dilakukan, baik itu dari sisi lingkungan sekitar dan dari diri sendiri.

Seseorang yang mengalami kasus seperti ini bakal memerlukan dukungan sosial yang penuh dari lingkungan sekitar. Hal ini membantu seseorang dalam mengambil pemaknaan positif terhadap kedukaan atau hal buruk.

"Kalau itu (patah hati) terjadi, maka bertemu dan berkumpul dengan keluarga. Temui juga teman yang suportif di luar lingkaran pertemanan yang memang dianggap mengkhianati," ucap Ayoe.

Sedangkan dari sisi diri sendiri, seseorang perlu berlatih untuk menggeser sudut pandang dari yang mulanya berpikir tentang kemalangan menuju keyakinan bahwa ada sesuatu yang baik di balik hal pahit.

"Saya akui tidak mudah dan di situ lagi-lagi peran dukungan sosial sangat bermakna untuk membantu menggeser sudut pandang tersebut," jelas Ayoe.

Kunci dari mengatasi patah hati adalah penerimaan. Caranya barangkali bisa dilakukan dengan menghindari segala hal yang mengandung kenangan romantis bersama mantan kekasih.

Tak ada yang bisa memprediksi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk proses menangani patah hati itu. Hal itu bergantung pada berbagai faktor, mulai dari luka yang ditimbulkan, seberapa besar dukungan sosial yang didapat, dan seberapa besar kemampuan seseorang menggeser sudut pandang terhadap permasalahan yang dihadapi.

Ayoe yakin, secara perlahan seseorang akan berhasil lepas dari kemelut patah hati. Biasanya hal itu ditandai dengan tidak adanya perasaan aneh atau tidak nyaman saat harus bersentuhan dengan hal-hal yang berkaitan dengan mantan kekasih. (els/asr)