SURAT DARI RANTAU

Pesta Politik 'Kalem' di Belanda

Mia Romlano, CNN Indonesia | Sabtu, 02/03/2019 16:20 WIB
Pesta Politik 'Kalem' di Belanda Ilustrasi. Surat suara Pemilu 2019. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Kapan menikah?"

Kalau ditanya mengenai alasan saya hijrah ke Belanda, pertanyaan di atas ialah jawabannya. Belanda juga menjadi tujuan saya yang sudah merasa jenuh dengan rutinitas kota Jakarta.

Di umur yang tidak lagi muda memang rasanya "melarikan diri" dari Tanah Air bukan hal yang tepat.


Namun semangat mencari peruntungan dan semangat dari cerita kawan yang telah berhasil di negeri orang yang membuat saya punya tekad kuat untuk mengadu nasib di luar negeri.

Bulan Maret tahun 2008 saya resmi meninggalkan Indonesia dan tinggal di Belanda. Modalnya cuma panggilan pekerjaan dan doa dari orang tua. Uang pun tak seberapa.

Ini menjadi tahun ke-11 saya tinggal di Belanda, tepatnya di Amsterdam. Belasan tahun di sini bukan tanpa perjuangan. Saya harus bekerja keras selama enam tahun sebelum akhirnya menduduki posisi lumayan saat ini.

Sejak meninggalkan Indonesia, saya telah melewati dua kali pemilu. Walau berada di perantauan, saya akan tetap menggunakan hak pilih saya.

Membaca suasana pesta politik di Belanda bisa saya bilang sangat berbeda jauh dengan kehidupan di Indonesia.

Di Belanda, pemilihan umum dilaksanakan empat tahun sekali untuk memilih Perdana Menteri dan para dewan wakil rakyat.

Kampanye dilakukan melalui saluran televisi dan beberapa dilakukan di jalan-jalan dengan memberikan selebaran partai dan kandidatnya.

Suasana kampanye di sini terbilang tertib dan tenang jika dibandingkan dengan pemilu di Indonesia yang serba ramai dan heboh.

Dari pantauan saya, mereka juga jarang melakukan kampanye di media sosial yang sampai menimbulkan drama debat antar pendukung.

Meski kampanye terbilang sepi, namun suasana pemilu yang ramai bakal terasa saat penduduknya datang ke tempat pemungutan suara.

Berkaitan dengan pemilu di Indonesia, bisa dibilang kerabat Indonesia saya di Belanda tidak begitu tertarik untuk berkampanye, meski ada saja kelompok warga negara Indonesia (WNI) yang melakukan kampanye kecil-kecilan untuk mempromosikan calonnya.

Beberapa minggu yang lalu, sekelompok WNI yang mendukung calon tertentu sempat melakukan kampanye di alun-alun kota, tepatnya di Dam Square, Amsterdam.

Tapi saya dan kawan-kawan tidak sempat datang karena lebih memilih untuk bekerja.

Karakter penduduk Belanda yang kalem mungkin membuat saya juga ikutan kalem dalam menyikapi pemilu Indonesia tahun ini. Saya harap "virus kalem" ini bisa menular juga ke Indonesia sehingga bisa tercipta suasana pesta politik yang kondusif dan lancar, tidak saling benci dan tidak saling tuding.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com
(syf/ard)