Patung-patung di Pulau Paskah Diserang 'Kusta'

REUTERS, CNN Indonesia | Senin, 11/03/2019 19:31 WIB
Patung-patung di Pulau Paskah Diserang 'Kusta' Patung-patung Rapa Nui di Pulau Paskah. (AFP PHOTO / MARTIN BERNETTI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jika tak dijaga, dalam 100 tahun mendatang patung-patung batu lambang "penjaga" garis pantai Easter Island (Pulau Paskah) diperkirakan akan menjadi bebatuan tak berguna, kata pakar konservasi.

Patung kepala berukuran raksasa, yang diukir berabad-abad lalu dan dianggap mewakili leluhur masyarakat Polinesia Pulau Paskah, Rapa Nui, telah menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO.

Lusinan patung raksasa 'Moai' berdiri di lereng bukit pulau itu. Namun saat ini patung-patung tersebut menghadapi ancaman yang digambarkan oleh penduduk setempat sebagai kusta; berupa bintik-bintik putih yang bertebaran pada badan patung.


Disebabkan oleh lumut, perkawinan jamur dan alga, kusta tersebut menggerogoti patung-patung yang dikhawatirkan menghancurkan bebatuan yang menjadi bahan dasarnya.

Patung-patung itu juga harus bertahan dari erosi pantai, naiknya permukaan laut, angin kencang dan kerusakan akibat kotoran ternak yang dibiarkan bebas berkeliaran.

"Saya membayangkan bahwa dalam satu abad mendatang Moai ini hanya akan menjadi batu tak bertekstur," Tahira Edmunds, penasihat untuk National Forestry Corporation (CONAF) Chile, yang turun tangan dalam usaha membersihkan lumut-lumut di badan patung ikonik tersebut.

Sonia Haoa, seorang arkeolog dan penduduk asli Pulau Paskah, memperkirakan sekitar 70 persen dari sekitar 1.000 patung terinfeksi lumut yang akut.

Turis yang datang ke situs sejauh 3.500 kilometer dari daratan Chile itu juga mulai melihat dampak dari kerusakan.

Tapi Haoa mengatakan masih mungkin untuk melakukan usaha penyelamatan, melalui pembersihan rutin dan pelapisan dengan bahan kimia untuk mengikat kelembaban dan mencegah batuan vulkanik berpori ini berubah lembek seperti tanah liat.

Kelompok Moai yang paling terkenal, seperti Ahu Tongariki, berupa 15 patung yang disusun di pesisir, dan yang berupa reruntuhan di sekitar Ranu Raraku, tempat bebatuan berasal, sudah mendapat perawatan oleh kelompok konservasi dan masyarakat adat Taman Nasional Rapa Nui.

Tetapi setidaknya ada 30 ribu situs arkeologi yang tersebar di pulau seluas 166 kilometer persegi ini yang masih menunggu untuk diselamatkan.

Untuk melindungi semua patung bisa memakan biaya sebanyak US$500 juta.

"Anda tidak akan pernah bisa sepenuhnya mencegah dampak waktu atau cuaca, tetapi Anda bisa menahannya, sehingga akan lebih banyak orang yang bisa menikmati warisan sejarah ini," kata Haoa.

[Gambas:Instagram]

Duta Besar untuk Iuran

Tanpa dana pemerintah yang secara khusus didedikasikan untuk melestarikan peninggalan pulau, masyarakat menyisihkan sebagian besar pendapatan dari pariwisata untuk perbaikan dan tindakan perlindungan patung-patung di Pulau Paskah.

Namun bantuan internasional sangatlah dibutuhkan.

Walikota Pulau Paskah menyarankan solusi inovatif: mencari pembayaran royalti dari negara-negara yang penjelajahnya mengambil beberapa patung Pulau Paskah pada berabad-abad yang lalu.

Di antara patung yang diambil adalah Hoa Hakananai'a, patung setinggi 2,13 meter yang menjadi salah satu pameran paling populer di British Museum sejak dipindahkan dari pulau oleh para pelaut Inggris lebih dari 150 tahun yang lalu.

Otoritas Pulau Paskah dan pemerintah Chile mengirim delegasi ke London pada bulan November untuk meminta pengembalian patung seberat empat ton itu.

Pihak museum menjawab bahwa dengan senang hati akan mempertimbangkan pinjaman jangka panjang untuk Moai.

Walikota Pedro Edmunds Paoa sebaliknya menyarankan Hoa Hakananai'a dapat bertindak sebagai "duta besar" untuk Pulau Paskah, dan Inggris dapat mempertahankannya sambil memberikan "iuran" rutin untuk menjaga kawan-kawannya yang masih tertinggal di Pulau Paskah.

Sonia Paoa setuju, mengatakan bahwa patung yang telah menjadi "selebriti" bisa menyumbang kunci untuk keberhasilan pemeliharaan situs arkeologi Pulau Paskah lainnya.

"Apa yang akan Anda tinggalkan untuk turis dan generasi di masa depan jika Anda tidak menyelamatkan mereka? Ini satu-satunya sumur minyak yang kita miliki," kata Paoa.

British Museum mengatakan mereka menantikan untuk melanjutkan percakapan "hangat, ramah dan terbuka" yang dimulai di London dengan kunjungan potensial ke Pulau Paskah.

"Museum ingin bekerja secara kolaboratif dengan mitra dan komunitas di seluruh dunia dan menyambut diskusi yang diusulkan ini seputar proyek-proyek bersama dengan Rapa Nui," katanya dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke Reuters.

[Gambas:Instagram]

[Gambas:Video CNN]

(ard)