Studi: Anak-anak Bayi Tabung Berisiko Terkena Kanker Langka

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 04/04/2019 08:31 WIB
Studi: Anak-anak Bayi Tabung Berisiko Terkena Kanker Langka Ilustrasi anak-anak (REUTERS/William Hong)
Jakarta, CNN Indonesia -- Teknik in vitro fertilization (IVF) menjadi secercah asa bagi pasangan infertil. Namun, sebuah studi teranyar menemukan bahwa anak-anak yang lahir dari proses bayi tabung lebih mungkin terserang beberapa kanker langka.

"Kanker yang terkait dengan risiko IVF masih sangat jarang," ujar penulis utama studi, Logan Spector, dari University of Minnesota, melansir Reuters.

Secara keseluruhan, anak-anak yang lahir dengan teknologi IVF 17 persen lebih mungkin mengembangkan sel kanker.


Beberapa faktor menyebabkan meningkatnya risiko kanker. Sebut saja soal usia ibu dan faktor kesehatan lainnya.

Peneliti menganalisis data pada 275.686 anak yang lahir dengan proses bayi tabung dan 2,27 juta anak yang lahir dari proses alami selama kurun waktu 2004-2013.

Sebanyak 321 kanker terdeteksi pada anak-anak yang lahir dengan IVF. Sementara 2.042 kanker berkembang dalam tubuh anak-anak yang lahir secara alami. Angka itu sama dengan 0,1 persen di antara anak-anak IVF dan 0,09 persen di antara anak-anak dengan kelahiran normal.

Diketahui pula, anak-anak yang lahir dengan IVF 28 persen lebih mungkin didiagnosis tumor embrional. Meningkatnya tumor ini berjalan seiringan dengan risiko tumor hati yang juga tinggi. Anak-anak dengan IVF dua kali lebih mungkin terkena tumor hati.

Anak-anak yang lahir dengan teknologi IVF juga 41 persen lebih mungkin mengembangkan tumor sistem saraf pusat embrional. Tumor ini terjadi saat sel-sel embrionik tetap berada di dalam otak setelah lahir.

Selain itu, tumor sel germinal atau keganasan dalam jaringan reproduksi seperti testis dan ovarium juga dua kali lebih mungkin diderita anak-anak IVF.

Hasil penelitian yang dipublikasikan pada jurnal JAMA Pediatrics ini merekomendasikan orang tua infertil untuk tetap waspada dan memantau si buah hati.

"Tapi bukan berarti pasangan infertil tidak boleh mencoba untuk hamil dengan cara ini," kata Spector.

Studi ini tak dilakukan dengan eksperimen terkontrol yang dirancang untuk membuktikan bagaimana IVF secara langsung mendorong pengembangan sel kanker. Para peneliti juga tidak membanding hasil dari pasangan infertil yang melakoni praktik IVF dengan pasangan infertil lainnya. Sulit untuk melihat hubungan antara infertilitas dengan potensi kanker langka pada anak.

"Ada kemungkinan kanker disebabkan oleh kelainan kromosom," ujar ahli ginekologi, dr Norbert Gleicher. Seiring bertambahnya usia telur, ketidakstabilan kromosom akan meningkat.

Ketidakstabilan kromosom, kata Gleicher, telah dikenal selama beberapa dekade sebagai penyebab banyak kehamilan abnormal dan keguguran.

"Ketidakstabilan kromosom juga menyebabkan lebih banyak mutasi gen, banyak di antaranya yang mungkin menyebabkan kanker," jelas Gleicher.

Namun, Gleicher mengimbau agar pasangan infertil tak menghiraukan hasil penelitian. Dia menegaskan bahwa bagaimanapun teknik IVF akan menghadirkan risiko.

"Risikonya rendah, lebih sedikit dari potensi keuntungan. Ada risiko dalam bayi tabung, tapi sangat rendah," pungkas Gleicher.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)