Paris Larang Implan Payudara Pemicu Kanker Langka

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 05/04/2019 09:08 WIB
Paris Larang Implan Payudara Pemicu Kanker Langka Ilustrasi implan payudara (Istockphoto/BranislavP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Prancis dikabarkan bakal melarang jenis implan payudara yang berisiko menimbulkan kanker langka.

Sebagaimana diberitakan AFP, France's National Agency for Medicine and Health Products (ANSM) telah memberikan imbauan pada produsen tentang rencananya untuk melarang pembuatan, distribusi, impor, ekspor, promosi, dan pemakaian payudara implan.

Bukan apa-apa, implan payudara dengan permukaan yang bertekstur dipercaya dapat menimbulkan bahaya serius berupa kanker limfoma sel besar anaplastik (BIA-ALCL).


ANSM telah melacak pemakaian implan payudara sejak 2011 lalu. Pada November 2018, ANSM mencatat 53 kasus BIA-ALCL terjadi akibat pemakaian implan payudara.

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) melaporkan peningkatan kasus kanker langka akibat implan payudara. Pada Februari 2019 lalu, FDA menerima total 660 laporan BIA-ALCL. Rata-rata kasus terjadi pada wanita dengan payudara implan bertekstur.

Mengutip Live Science, BIA ALCL merupakan jenis kanker yang menyerang sel sistem kekebalan tubuh. Saat kanker menyerang wanita dengan implan payudara, kanker akan muncul di jaringan parut implan.

Beberapa gejala yang meliputi di antaranya pembesaran ukuran payudara yang tak dapat dijelaskan, bentuk payudara asimetri, benjolan pada payudara dan ketiak, ruam, dan pengerasan payudara.

Kini, sejumlah wanita berjuang melawan BIA ALCL. Sekitar 70 ribu wanita bergabung dalam grup Facebook Breast Implants Illness and Healing by Nicole. Kesemuanya mengalami gejala yang sama.

"Banyak yang berjuang selama bertahun-tahun tanpa mengetahui bahwa implan adalah penyebabnya," ujar salah seorang pengguna payudara implan sekaligus pasien BIA-ALCL, Nadia Dara Diskavets, mengutip CNN.

Seseorang yang menginginkan implan, kata Diskavets, penting untuk mengetahuinya betul-betul. "Jika mereka mengalami gejalanya, mereka dapat sembuh melalui eksplan," katanya.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)