CATATAN PERJALANAN

Gua Batu Cermin, Wisata ke Perut Bumi di Labuan Bajo

CNN Indonesia | Minggu, 14/04/2019 13:23 WIB
Gua Batu Cermin, Wisata ke Perut Bumi di Labuan Bajo Gua Batu Cermin. (Istockphoto/Goddard_Photography)
Labuan Bajo, CNN Indonesia -- Saat memutuskan untuk pergi berwisata ke Labuan Bajo, NTT, sebagian besar pasti sudah membayangkan tentang keindahan pantai, keindahan bawah laut serta pulau-pulau yang ada di wilayah tersebut, termasuk Pulau Komodo.

Tak bisa dipungkiri bahwa Labuan Bajo memang terkenal dengan pantainya, keindahan pemandangan bawah lautnya, hingga gugusan pulau-pulau kecil yang mengelilinginya.

Namun, ternyata Labuan Bajo juga menyimpan wisata lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Salah satunya, Gua Batu Cermin.


Saya bersama rombongan Kementerian Wisata pada akhir pekan kemarin berkesempatan untuk menikmati secara langsung keindahan dari Gua Batu Cermin tersebut.

Sebelum masuk, saya mesti lebih dulu membeli tiket masuk. Tarif yang dipatok terbilang tak terlalu mahal, Rp20.000 untuk wisatawan lokal dan Rp50.000 untuk wisatawan mancanegara.

Saya bersama rombongan pun kemudian bersiap untuk menjelajahi keindahan Gua Batu Cermin, ditemani oleh seorang pemandu wisata bernama Mario.

Di dekat tempat pembelian tiket masuk, terdapat sebuah gapura kecil yang terbuat dari kayu bertuliskan 'Welcome Batu Cermin'. Gapura itu menjadi tanda pintu masuk menuju ke arah Gua Batu Cermin.

Dari situ, saya dan rombongan berjalan kurang lebih sekitar 250 meter. Meski cukup jauh, namun sepanjang jalan itu telah dilapisi con block sehingga nyaman bagi para pengunjung. Sementara itu, di sisi kanan kirinya masih terdapat kebun bambu sehingga suasana pun cukup rindang.

Yang menarik, saya bahkan sempat melihat beberapa kera ekor panjang yang berkeliaran dengan bebas di area itu. Tapi tenang, monyet-monyet tersebut tidak mengganggu para pengunjung kok.

Tak sampai 10 menit berjalan kaki, saya dan rombongan pun tiba di depan sebuah bukit batu yang lumayan tinggi. Mario, selaku pemandu wisata kami pun segera mengarahkan kami menuju ke pintu masuk.

Ada sebuah anak tangga yang terbuat dari semen, yang akan memudahkan pengunjung untuk menuju ke pintu masuk gua. Anak tangga itu dibuat di antara celah batu-batuan gua tersebut.

Konon katanya, jutaan tahun lalu Gua Batu Cermin itu dulunya berada di dasar laut. Namun, akibat aktivitas gempa bumi yang terjadi wilayah itu akhirnya membuat gua menjadi naik ke atas dan kini posisinya lebih tinggi dari pantai.

Mario menuturkan dulunya ada seorang arkeolog yang juga pastor asal Belanda bernama Theodore Verhoven. Dari penelitian dialah diketahui bahwa ada sejumlah fosil yang membuktikan bahwa dulunya gua itu berada di bawah laut.

Di sejumlah bagian dinding gua, kata Mario, terdiri dari batuan karang. Hal itu, menjadi salah satu tanda bahwa Gua Bati Cermin dulunya sempat berada di bawah laut.

"Batu karang itu dibuktikan dengan tumbuhnya pohon-pohon, karena batu karang kan berpori-pori, jadi menyimpan air untuk tumbuhnya pohon," papar Mario.

Gua Batu Cermin, Wisata ke Perut Bumi di Labuan BajoTitik awal Gua Batu Cermin. (Istockphoto/Goddard_Photography)

Setelah menaiki tangga, saya dan rombongan pun segera diajak untuk masuk ke dalam sebuah lorong.

Di dekat pintu masuk lorong, terdapat sejumlah helm yang memang dipersiapkan bagi para pengunjung. Fungsinya untuk menjaga kepala agar terlindungi dari batuan stalaktit.

Saya pun mengambil satu helm untuk dipakai di kepala saya, ya tujuannya agar kepala saya aman selama menyusuri gua.

Selain memakai helm, kami juga diminta untuk menghidupkan lampu flash dari handphone kami. Tujuannya untuk membantu penerangan selama menyusuri bagian dalam gua.

Mario mengungkapkan di bagian dalam gua memang sengaja tidak dipasang lampu sebagai pencahayaan. Alasannya, sejumlah ahli mengatakan suhu panas yang dihasilkan oleh lampu bisa mempengaruhi atau bahkan mengubah suhu bebatuan di area tersebut.

Setelah perlengkapan siap, kami pun siap masuk ke dalam Gua Batu Cermin. Baru masuk beberapa langkah ke dalam lorong, Mario langsung menginstruksikan kami untuk merunduk bahkan berjongkok guna menghindari batuan stalaktit.

Benar saja, saat saya mencoba akan berdiri, kepala saya langsung terantuk stalaktit. Untung saya sudah menggunakan helm.

Usai berjuang menyusuri lorong dengan berjalan jongkok, kami tiba di sebuah ruangan yang cukup besar. Karena luasnya terbilang besar, maka ruangan itu disebut sebagai ruang utama.

Ada satu hal yang menarik di ruangan tersebut, yakni fosil penyu yang terletak di langit-langit gua.

Jika diamati seksama, fosil tersebut memang sangat mirip dengan seekor penyu. Mulai dari cangkang, hingga kepala penyu, cukup nampak jelas dalam fosil tersebut.

Gua Batu Cermin, Wisata ke Perut Bumi di Labuan BajoBagian dalam Gua Batu Cermin. (Istockphoto/Goddard_Photography)

Berikutnya, saya dan rombongan diajak untuk masuk lebih dalam lagi ke dalam Gua Batu Cermin.

Kali ini, pemandu wisata kami menunjuk ke fosil-fosil aneka terumbu karang. Jika disorot dengan lampu senter atau lampu flash handphone, fosil aneka terumbu karang itupun dapat terlihat lebih jelas.

Puas menikmati fosil terumbu karang tersebut, Mario segera mengajak kami ke lokasi yang menjadi alasan mengapa gua itu dinamakan sebagai Gua Batu Cermin.

Setelah kembali melewati lorong sempit, kami tiba di sebuah lorong yang ukurannya lebih luas. Di lorong inilah, nama gua tersebut diambil.

Mario menjelaskan jika kita berdiri di lorong atau celah tebing tersebut, sinar matahari yang berasal dari celah batuan di atas bisa langsung masuk ke area tersebut. Alhasil, tanpa bantuan pencahayaan pun, ruangan tersebut terlihat terang akibat pantulan sinar matahari.

Sejumlah anggota rombongan pun bergantian mengambil foto di lorong tersebut. Dan benar saja, hanya dengan pantulan sinar matahari saja, gambar yang diambil melalui kamera handphone menghasilkan sebuah foto yang terang, layaknya foto yang diambil dengan bantuan flash kamera.

Setelah puas berfoto-foto di lokasi itu, kami pun bergegas untuk keluar dari gua. Namun, Mario saat kembali melewati ruang utama, Mario meminta kami untuk berhenti sebentar. Di situ, ia meminta kami untuk mematikan semua cahaya dari lampu senter maupun lampu flash handphone.

Ia mengajak saya dan rombongan untuk menikmati sesaat bagaimana sunyinya Gua Batu Cermin itu. Tak hanya itu, Mario juga meminta kami untuk berteriak, tujuannya untuk melihat apakah akan terjadi gema atau tidak.

Pasalnya, jika kita tengah berada di dalam sebuah gua, jika kita mengeluarkan suara keras pasti akan bergema ke segala penjuru. Namun, hal itu tidak terjadi di Gua Batu Cermin. Mengapa?

Mario menyebut hal itu dikarenakan, batuan di Gua Batu Cermin merupakan batu karang sehingga tidak menghasilkan gema suara.

"Tidak bergema karena karakter karang itu berpori-pori, bagus memantulkan cahaya, tapi tidak memantulkan suara," jelas Mario.

Setelah menikmati keindahan dan keunikan Gua Batu Cermin, saya dan rombongan pun akhirnya keluar dari area gua. Kami pun keluar dan kembali melewati jalan setapak berkonblok seperti yang kami lalui tadi.

Gua Batu Cermin bisa menjadi salah satu pilihan wisata yang menarik saat berkunjung ke Labuan Bajo. Di sini, kita bisa belajar sejarah sekaligus menikmati keindahan batuan gua yang berasal dari batuan karang.

Gua Batu Cermin menjadi salah satu bukti, bahwa Labuan Bajo tak hanya melulu menyajikan wisata pantai dan keindahan alam bawah lautnya. Namun, wisata sejarahnya pun cukup menarik untuk dikunjungi.

(dis/ard)