Uluwatu, CNN Indonesia -- Uluwatu selalu memberi pengalaman liburan yang menyenangkan bagi saya mulai dari panoramanya, suasana pestanya sampai wisata kulinernya. Di usia yang tak lagi muda ini mencari keramaian yang sesuai umur memang sulit, begitu juga dengan Bali.
Beberapa bulan ini saya sedang sering berkunjung ke Uluwatu, mulai untuk urusan pekerjaan sampai percintaan. Dua hal yang membuat stres itu terasa lebih menyenangkan saat dinikmati di Uluwatu. Tinggal duduk di balkon bisa melihat langsung ke arah Samudera Hindia atau patung Garuda Wisnu Kencana.
Akses di Uluwatu
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi yang baru pertama kali datang ke Uluwatu, kawasan ini bisa dijangkau dengan berkendara selama sekitar 30 menit dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Pilihannya bisa naik taksi
online atau kendaraan sewa, semua tergantung isi dompet.
Jika sudah melihat komplek Universitas Udayana atau Garuda Wisnu Kencana berarti sudah sampai di kawasan Uluwatu, begitu kata supir mobil yang mengantarkan saya ke sana sana.
Dari pengalaman saya berkunung ke sini kawasan Uluwatu terbagi dua, yang pertama bagian Jalan Raya Uluwatu--yang berakhir di Pura Uluwatu tempat menyaksikan Tari Kecak, yang kedua bagian Jalan Labuan Sait--yang berakhir di Pantai Padang Padang.
Kedua bagian tersebut sama-sama menarik dan sama-sama terhubung--melalui Jalan Pantai Suluban selama berkendara sekitar 8 menit.
Tapi jika ingin menghindari kemacetan turis yang menuju atau keluar Pura Uluwatu, sebaiknya tidak melintas di Jalan Raya Uluwatu menjelang dan selepas senja.
Kawasan Uluwatu yang sering saya jelajahi ialah Jalan Labuan Sait, tempat Pantai Padang Padang dan Pantai Thomas berada.
![Santai di Bibir Tebing Uluwatu [EMB]](https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2019/01/25/f7e1fbe7-1a1f-49ad-8b3a-5bcb7a207abc_169.jpeg?w=620) Tari Kecak di Pura Uluwatu, Bali. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa) |
Area Ramai TurisSelain pantai beraneka medan, di sini juga ramai dengan berbagai restoran dan bar yang kekinian.
Jika bertanya tempat makan favorit saya di sini jawabannya ialah La Barraca, Rolling Fork, Suka Espresso dan Drifter Surf Shop Cafe & Gallery.
Sedangkan untuk kongko malam pilihan saya Mango Tree, Single Fin, Ulu Cliff atau Roosterfish Beach Club.
[Gambas:Instagram]Selepas jam sarapan, makan siang, sunset atau pesta, kawasan Uluwatu bisa dibilang sangat lengang, jadi jangan takut dikerubungi turis setiap waktu saat menetap di sini.
Pantai berpasir putih dengan air bening yang dibingkai tebing menjadi magnet utama kedatangan turis ke sini. Yang ingin surfing silakan, yang ingin berjemur dan sambil makan kacang dan minum bir juga silakan.
Tapi yang perlu diperhatikan ialah pantai-pantai di Uluwatu kebanyakan berada di bawah tebing, sehingga turis harus naik turun tangga batu tinggi untuk mencapainya.
 Pantai Padang Padang di siang hari. (Istockphoto/MariusLtu) |
Bagi turis yang jarang berkeringat sebaiknya jangan terlalu ambisius saat naik tangga ketika pulang dari pantai. Sebaiknya melangkah pelan demi menghemat napas.
Walau bagi saya menjangkau Pantai Padang Padang dan Pantai Thomas amat sangat melelahkan, tapi pemandangan di sana amat sangat indah. Khususnya di Pantai Thomas, turis bisa dengan mudah berenang karena ombak dan karangnya tak terlalu menantang seperti di Pantai Padang Padang.
![Santai di Bibir Tebing Uluwatu [EMB]](https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2019/01/25/054b7af0-f4bc-422a-a2c7-e587b9166398_169.jpeg?w=620) Turis menikmati sunset di Pantai Padang Padang, Uluwatu, Bali. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa) |
Artikel masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Pilihan Tempat MenginapSupir mobil saya menyebut kalau Nusa Dua sebagai tempat liburan mewahnya bapak-bapak, sementara Uluwatu sebagai tempat liburan mewahnya mas-mas. Ia dengan yakin mengatakan hal tersebut karena ada hotel yang bertarif Rp35 jutaan per malam di sini.
Tapi jangan takut jangan khawatir, karena turis kelas menengah
ngehe seperti saya juga tetap bisa bermalam di Uluwatu dengan harga terjangkau.
Sama seperti kawasan Seminyak atau Canggu, ada banyak tempat menginap berharga murah meriah yang bisa diinapi. Tak sedikit juga tempat penginapan berkonsep hostel, karena banyaknya turis yang datang seorang diri atau bergerombol hanya untuk berselancar di sini.
Pokoknya dengan dana mulai dari Rp250 ribuan turis sudah bisa bermalam di Uluwatu. Kalau masih ingin lebih murah datang beramai-ramai dan sewa vila dengan dua atau tiga kamar seharga Rp1 jutaan per malam.
Dalam perjalanan ke Bali kemarin, saya menyempatkan liburan ke Uluwatu dan bermalam di Renaissance Bali Uluwatu Resort & Spa.
 Suasana hotel di malam hari. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Meski judulnya bintang lima namun tarif bermalam hotel yang masih berada dalam jaringan Marriott International ini masih terbilang bersahabat, apalagi saat ini mereka masih memberi banyak harga promo.
Kamar paling murah bertipe Deluxe Room seharga Rp2,3 juta per malam. Fasilitasnya kasur ukuran king, bathtub dan balkon.
Sedangkan kamar paling mahal bertipe Presidential Villa seharga Rp20 juta per malam. Fasilitasnya dua kali lipat dari kamar tipe Deluxe Room plus kolam renang.
Apapun jenis kamarnya, seluruh tamu bisa menikmati fasilitas serba memanjakan di sini.
 Kolam renang berkonsep tanpa batas. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Yang ingin berenang ada dua kolam renang untuk diceburi. Tinggal memilih mau pemandangan tebing atau bukit. Kedua memiliki konsep tak berbatas alias infinity pool.
Kolam renang yang berpemandangan bukit merupakan sudut favorit saya di sini. Selain suasananya lebih syahdu terdapat juga bar di tepinya dengan bartender yang seru diajak berbincang.
[Gambas:Instagram]Bagi yang masih ingat menjaga kesehatan ada ruang olahraga yang buka 24 jam dan ruang spa.
Sedangkan yang membawa anak kecil ada taman beserta ruang bermainnya.
Jangan takut kehausan atau kelapan, karena Renaissance Bali Uluwatu Resort & Spa memiliki empat pilihan tempat makan yakni Pool Bar, R Bar, Clay Craft dan Double Ikat.
Pool Bar dan R Bar dikhususkan bagi mereka yang ingin ngopi atau nyemil.
Sementara itu Clay Craft dan Double Ikat dikhususkan bagi mereka yang ingin makan berat. Clay Craft biasa dibuka untuk sarapan dan makan siang, Double Ikat dibuka untuk makan malam.
 Suasana restoran Clay Craft. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Selain makan-makan, tamu juga mengikuti kelas pembuatan tembikar yang seru di Clay Craft. Tembikar dari tanah liat bukan cuma sekadar pajangan, karena sebagian besar peralatan makan di sini terbuat dari tembikar yang berbentuk unik.
Jika Clay Craft punya tembikar, maka Double Ikat punya tema kain tenun. Seluruh ruangan di sini dirancang bagai dalam pabrik tenun, mulai dari taplak meja sampai sekat antar mejanya.
![Santai di Bibir Tebing Uluwatu [EMB]](https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2018/11/06/20994405-ef64-4924-810e-168b19f37700_169.jpeg?w=620) Suasana restoran Double Ikat. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Soal rasa Double Ikat sudah pasti juaranya. Bagi yang selama ini pesimis dengan rasa makanan Indonesia di hotel berbintang maka perlu mampir ke sini.
Untuk menikmati sepiring lengkap Sup Buntut, pengunjung harus merogoh kocek Rp200 ribu. Namun porsi dan rasanya sangat setara dengan uang yang harus dibayarkan.
Di setiap mejanya juga disediakan cobek beserta ulekan, sebagai atraksi bikin sambal yang diperagakan langsung oleh para pelayan Double Ikat.
Tinggal dipilih jenis sambal yang ingin dinikmati dan tingkat kepedasannya, maka mereka dengan senang hati membuatkannya sekaligus memberikan informasi mengenai makanan apa saja yang cocok dipadukan dengan sambal tersebut.
Menginap dua hari satu malam di Renaissance Bali Uluwatu Resort & Spa menjadi pengalaman yang mengesankan bagi saya selama berwisata di Uluwatu.
Keramahan staf dan kelengkapan fasilitas di dalamnya juga membuat hotel megah nan teduh ini terasa bagai rumah yang nyaman untuk diinapi.
Sebagai informasi, selain di Indonesia jaringan hotel ini juga membuka cabang di Thailand, Jepang, Mesir, Jerman, Spanyol, Inggris sampai Kepulauan Karibia.