Melewati Tujuh Sungai Demi Pesta Demokrasi Suku Polahi

CNN Indonesia | Rabu, 17/04/2019 17:02 WIB
Melewati Tujuh Sungai Demi Pesta Demokrasi Suku Polahi Foto udara permukiman suku Polahi di tengah perbukitan dan hutan di Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemilihan Umum 2019 sedang berlangsung hari ini, Rabu (17/4). Bukan hanya di Pulau Jawa dan luar negeri, pemilu serentak juga digelar hingga ke pelosok Indonesia.

Kisah mengenai penyelenggaraan pemilu di pedalaman masih menarik untuk disimak. Salah satunya yang terjadi di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Sembilan hari jelang pemilu 2019, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kupang masih berjibaku mendistribusikan logistik Pemilu 2019 untuk daerah yang sulit dijangkau dengan akses transportasi.


Mengutip Antara, Senin (15/4), setidaknya ada delapan kecamatan di Kupang yang menjadi prioritas KPU dalam pendistribusian logistik Pemilu 2019 yaitu Amfoang Timur, Amfoang Utara, Amfoang Selatan, Amfoang Barat Laut, Amfoang Barat Daya, Amfoang Tengah.

Selain itu dua kecamatan di Pulau Semau yaitu Kecamatan Semau Utara dan Semau Selatan, yang juga sulit dijangkau transportasi laut apabila terjadi cuaca buruk.

Ketua KPU Kabupaten Kupang, Eliaser Lomi Rihi, menuturkan pendistribusian logistik pemilu yang dilangsungkan pada masa tenang dengan menggunakan transportasi darat. Dengan catatan tidak terjadi hujan lebat di kawasan pegunungan Timau dan Amfoang.

Namun, ia melanjutkan, apabila terjadi cuaca buruk maka distribusi logistik pemilu dilakukan melalui jalur laut dengan menggunakan fasilitas kapal milik ASDP maupun TNI/Polri.

Kisah menyelenggarakan pemilu penuh perjuangan tak hanya terjadi di Kupang.

Suku bernama Polahi yang tinggal jauh di dalam perbukitan dan hutan Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, juga menjadi contoh bahwa proses demokrasi harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan merata.

Untuk menjamin agar Suku Polahi mengetahui pemilu dan menggunakan hak suaranya, tiga orang Relawan Demokrasi harus menjelajah perkebunan, melewati tujuh sungai, dan menembus lebatnya hutan demi memberikan sosialisasi kepada mereka.

Butuh waktu sembilan jam dengan medan yang ekstrim untuk mencapai permukiman Suku Polahi dari Limboto, ibukota Kabupaten Gorontalo.

Tak hanya medan dan jarak, bahasa pun menjadi kendala untuk kegiatan sosialisasi Pemilu 2019.

Menembus Tujuh Sungai Demi Pesta Demokrasi Suku PolahiRelawan melakukan sosialisasi pemilu serentak kepada Suku Polahi. (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

Meski demikian untuk dua pulau di Indonesia yang berdekatan dengan negara tetangga, yakni Alor (Provinsi Nusa Teggara Timur) dan Morotai (Provinsi Maluku Utara), persiapan pemilu 2019 dirasa sudah mencukupi.

Anggota DPRD Kabupaten Alor, Denny Lalitan, menuturkan tidak ada kendala yang berarti menjelang pemilu 2019. Bahkan seluruh masyrakat Alor sudah menyambut datangnya pemilu 2019 dengan riang dan damai.

"Kendala di Alor hanya jika hujan deras, karena ada beberapa kawasan yang rawan banjir. Tapi itu hanya beberapa daerah di pedesaan saja. Selebihnya tidak ada halangan. Kami siap berpesta demokrasi di sini," ujar Denny kepada CNNIndonesia.com.

Sementara itu, dalam wawancara yang berbeda Kepala Seksi Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Morotai, Assyura Oemar, memberikan contoh antusiasme warga Desa Ngele-Ngele sangat besar untuk menyambut momen pemilu.

Menurutnya warga desa binaan Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Morotai itu melakukan banyak kegiatan dalam menyambut pemilu 2019.

"Warga di pesisir Ngele-Ngele tak hanya menyiapkan TPS dan terlibat aktif dalam proses sosialisasi Pemilu 2019, tapi mereka juga melakukan beragam kegiatan seperti beach clean up hingga bakti sosial," ujar Assyura saat dihubungi CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

(agr/ard)