Menelisik Mitos Konsumsi Gula buat Anak Jadi Hiperaktif

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 25/04/2019 08:42 WIB
Menelisik Mitos Konsumsi Gula buat Anak Jadi Hiperaktif Ilustrasi anak-anak (REUTERS/William Hong)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak orang beranggapan bahwa konsumsi gula membuat anak menjadi hiperaktif. Akibatnya banyak orang tua mengkhawatirkan efek konsumsi gula pada si buah hati.

Padahal, anggapan itu mitos belaka. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA menganalisis 16 penelitian tentang efek gula pada anak. Hasilnya disimpulkan bahwa gula tak memengaruhi perilaku atau kinerja kognitif anak.

Seperti orang dewasa, beberapa anak sensitif terhadap lonjakan gula darah. Hal ini berarti gula membuat anak mudah terangsang.


"Sebagian kecil anak dengan gangguan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) lebih sensitif terhadap gula. Perilaku mereka berubah ketika memakan gula," ujar ahli gizi anak, dr Jill Castle, melansir CNN.

Mengonsumsi gula, kata Castle, membuat anak-anak dengan ADHD menjadi lebih agresif dan membuat orang tua sulit.

Menurut Castle, kelebihan gula sama dengan kelebihan konsumsi pewarna serta perasa makanan yang menimbulkan masalah bagi anak dengan ADHD.

Sampai saat ini belum ada bukti yang menunjukkan kaitan antara gula dan tingkat agresi anak. "Apakah ini masalah hormon? Entahlah. Nutrisi adalah hal yang sangat individual," kata Castle.

Gagasan tentang hubungan antara gula dan hiperaktif pada anak bermula sejak tahun 1970-an. Saat itu, seorang ahli gizi meresepkan diet Feingold untuk mengurangi gejala ADHD pada anak.

"Dietnya menghilangkan pemanis buatan semacam gula dan pengawet," ujar ahli gizi anak lainnya, Kristi L King.

King menduga, diet Fiengold membuat orang tua beranggapan bahwa gula adalah biang keladi perilaku hiperaktif pada anak.

"Hanya dengan berpikir bahwa anak-anak mereka mengonsumsi gula menyebabkan para ibu menganggap anak mereka akan lebih hiperaktif," kata King.

Perilaku hiperaktif pada anak, kata King, berhubungan dengan pelepasan hormon adrenalin.

Kurangi Konsumsi Gula

Meski tak semua anak memiliki sensitivitas terhadap gula, bukan berarti gula baik untuk kesehatan si buah hati.

Makanan dan minuman manis memberikan kalori tanpa nutrisi. Terlebih, makanan tinggi gula meningkatkan risiko jantung, obesitas, dan tekanan darah tinggi sejak dini pada anak.

Untuk menjaga anak agar tetap sehat, American Heart Association merekomendasikan konsumsi gula kurang dari enam sendok teh atau 24 gram pada anak usia 2-18 tahun. Angka itu setara dengan satu batang cokelat 1,55 ons. Sementara satu kaleng minuman bersoda umumnya mengandung sekitar 40 gram gula.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)