Studi: Teh Tak 'Jodoh' dengan Gula

CNN Indonesia | Kamis, 02/05/2019 12:18 WIB
Studi: Teh Tak 'Jodoh' dengan Gula Studi mengungkapkan bahwa sebenarnya teh tak butuh gula agar bisa terasa nikmat dan menyegarkan. (Istockphoto/bhofack2)
Jakarta, CNN Indonesia -- Es teh manis adalah minuman 'sejuta umat.'

Setiap kali pesan makan, minuman yang paling umum dipesan adalah es teh manis. Segar, manis, dan pastinya ramah di kantong.

Tak cuma saat makan, saat puasa teh manis hangat bakal meredakan haus seharian. Sekalipun enak dan segar, teh dengan tambahan gula bukanlah pasangan yang ideal. Menurut sebuah studi, teh sebenarnya tak butuh gula. 


Studi analisis yang dilakukan oleh peneliti dari University College London dan University of Leeds. Sebanyak 64 partisipan turut dalam penelitian. Peneliti melihat kebiasaan minum teh partisipan yang terbiasa minum teh dengan gula ini. 


Mereka pun diminta untuk minum teh tanpa gula, ada pula yang diminta mengurangi asupan gula pada teh dan ada yang tetap melanjutkan minum teh dengan gula seperti biasa. Kelompok ini yang menjadi kelompok kontrol penelitian. 

Setelah empat minggu riset, peneliti menemukan mereka yang mengurangi gula atau tidak menambahkan gula pada teh mereka tetap bisa menikmati minum teh. 

Studi pun menemukan sebanyak 42 persen pria secara bertahap benar-benar tidak menambahkan gula pada teh mereka. Sementara sebanyak 36 persen kelompok yang benar-benar tidak menambahkan gula melakukan hal serupa. 

"Kelebihan asupan gula bisa menimbulkan masalah kesehatan publik dan gula dalam minuman berkontribusi pada asupan total gula dalam tubuh. Mengurangi asupan gula dari minuman bisa membantu mengurangi konsumsi gula secara keseluruhan," tulis peneliti dalam kesimpulan riset dikutip dari Independent.  

Penelitian ini pun dipresentasikan di European Congress on Obesity di Glasgow pada Minggu (28/4) lalu. 

Tam Fry, kepala National Obesity Forum mengatakan mengurangi asupan gula merupakan ide yang sangat menarik. Menurutnya, tubuh sudah memperoleh asupan gula dari sumber makanan lain. Temuan dari para peneliti ini seharusnya tidak begitu mengejutkan. 


"Mengurangi gula secara bertahap membuat indera pengecap beradaptasi dengan formula baru asupan, sehingga tidak tiba-tiba mengejutkan sistem, seperti yang dilaporkan studi, hasil akhirnya sama," kata dia. 

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan memberikan petunjuk asupan gula sebanyak 50 gram atau empat sendok makan per orang per hari. Tak hanya gula, pemerintah pun memberikan anjuran konsumsi natrium (garam) sebanyak lima gram atau satu sendok teh dan lemak hanya 67 gram atau lima sendok makan minyak. 

Mengonsumsi terlalu banyak gula akan berakibat pada peningkatan risiko obesitas dan juga kerusakan gigi. (els/chs)