Alasan Drone Tak Boleh Terbang di Sekitar Bandara

CNN Indonesia | Jumat, 03/05/2019 20:12 WIB
Alasan Drone Tak Boleh Terbang di Sekitar Bandara Ilustrasi drone. (Jewel SAMAD / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penerbangan Natal di Bandara Internasional Gatwick, London, pada 2018 terganggu selama 36 jam. Sebanyak 140 ribu penumpang dari 1.000 penerbangan harus gagal mendarat dan terbang karena petugas keamanan menemukan pesawat tanpa awak (drone) yang tengah melintas di area penerbangan.

Walau ukurannya lebih kecil dibandingkan pesawat terbang, namun keberadaan drone di area bandara sangatlah terlarang. Pengintaian untuk aksi terorisme sampai kecelakaan pesawat bisa menjadi akibat yang paling fatal. 


"Sebagian besar orang yang menerbangkan drone dekat bandara atau kawasan ramai saya sebut idiot," kata Andrew McQuillan, pemilik dan direktur Crowded Space, perusahaan drone yang fokus pada keamanan, seperti yang dikutip dari CNN Travel pada Jumat (3/5).


"Itu berdasarkan statistik yang kami buat, kondisi yang kami temui di lapangan, dan wawancara dengan pelaku yang kami tangkap. Kami memiliki semua buktinya untuk membuktikan pernyataan tersebut. Mereka yang menerbangkan drone di bandara tidak mengerti aturan dan bahaya yang bisa ditimbulkan," lanjutnya.

Selain menerbangkan drone di area bandara, pelaku yang ditangkap juga karena tak mengantungi izin menerbangkan drone. Ya, beberapa negara memang mulai menetapkan aturan tersebut.

Bagi yang sudah mengantongi izin menerbangkan drone biasanya tahu bahwa ada area yang tak boleh diterbangi, seperti bandara, bangunan tertutup, sampai keramaian publik.

Gatwick dan Heathrow dilaporkan membeli sistem pencegahan drone tak berizin seharga US$6 juta.

Sistem mahal tersebut setingkat militer, karena tidak hanya untuk mengusir drone biasa namun juga drone yang kemungkinan bersenjata.

Penyelidikan terhadap insiden Gatwick sedang berlangsung dan bulan lalu dilaporkan oleh Kepolisian Sussex Inggris bahwa itu mungkin merupakan pekerjaan orang dalam.

Dalam sebuah pernyataan disebutkan bahwa berdasarkan perilaku drone, mungkin pilot memiliki pengetahuan langsung tentang "lingkungan operasi bandara," atau akses ke informasi itu.

McQuillan memperingatkan bahwa kemungkinan ada kelompok lain yang mulai menggunakan drone untuk memperlancar kegiatannya.

"Selama beberapa tahun ISIS telah mengeksplorasi pengetahuan tentang bagaimana menggunakan drone berbahaya untuk terorisme, di luar Irak dan Suriah. Seperti halnya segala sesuatu di dunia, selalu ada cara untuk menyebabkan kerusakan dan kehancuran, "katanya.



DJI Technologies yang berbasis di Shenzhen, merupakan perusahaan dengan 74 persen pangsa pasar drone.

Dan dengan pangsa yang begitu besar, DJI tahu bahwa mereka memainkan peran kunci dalam menjaga langit tetap aman.

"Sebagai pionir di lapangan kami merasa bahwa kami memang memiliki tanggung jawab khusus untuk memberikan tindakan pencegahan keselamatan dan keamanan," kata juru bicara DJI, Adam Lisberg.

"Sebagian besar dari mereka ingin menerbangkannya dengan aman, hanya sebagian kecil yang acuh dengan peraturan."

Lisberg menjelaskan bahwa DJI menanamkan edukasi agar pelanggan menjadi pilot drone yang bertanggungjawab.

Menggunakan GPS, perangkat lunak drone dapat memberikan panduan khusus tentang area terbatas.

Sistem Aeroscope DJI mampu menganalisis telemetri drone, mengidentifikasi tidak hanya informasi udara drone, tetapi juga lokasi GPS pilot.

Pendidikan pilot drone juga sama pentingnya.

"Anda harus ikut tes. Anda perlu membiasakan diri dengan aturan menerbangkan drone. Anda perlu memperhatikan saran yang muncul melalui sistem geo-fencing kami. Ada aturan yang harus diikuti, meski tidak rumit. Tujuannya adalah keamanan sambil tetap bersenang-senang," kata Lisberg.

Inggris telah memperkenalkan undang-undang baru pada bulan Maret, yakni memperpanjang larangan penggunaan drone di sekitar bandara dari jarak satu kilometer menjadi lima kilometer.

"Kami hanya bisa berharap bahwa akal sehat berlaku di langit di sekitar bandara," kata McQuillan.

"Dua hari setelah insiden drone di Gatwick, seorang pria didakwa menerbangkan drone di dekat Heathrow. Penuntutan hukum atas aksi tersebut akan menjadi cara terbaik untuk mengatasi masalah ini."


[Gambas:Video CNN]

(ard)