Mencegah Naiknya Asam Lambung saat Bulan Ramadan

Tim, CNN Indonesia | Senin, 27/05/2019 13:54 WIB
Mencegah Naiknya Asam Lambung saat Bulan Ramadan Ilustrasi. (Thinkstock/Piotr Marcinski)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bulan Ramadan kerap menantang para penderita asam lambung. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang kerap muncul di bulan puasa. Penyakit ditandai dengan naiknya asam lambung ke bagian kerongkongan.

Puasa yang mewajibkan umat Islam untuk menahan hawa nafsu termasuk makan dan minum selama 12-13 jam ini dapat memicu timbulnya GERD. Utamanya jika tidak diikuti oleh pola makan dan gaya hidup sehat.

GERD menimbulkan beberapa gejala. Yang paling kentara adalah sensasi terbakar atau nyeri pada bagian atas perut atau dada yang dikenal dengan istilah heartburn. Gejala lain yang mungkin timbul di antaranya mual, kembung, sakit saat menelan, mulut terasa asam, dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan.


"Penderita asam lambung yang berpuasa dapat menurunkan gejala GERD selama [puasa] dilakukan dengan benar dan tidak makan berlebihan saat berbuka," ujar ahli gizi, dr Rita Ramayulis, berdasarkan keterangan resmi Philips Indonesia berbagi tips puasa yang diterima CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Makanan yang dikonsumsi penderita asam lambung, lanjut Rita, harus mengandung gizi yang dibutuhkan olah tubuh dan tidak menstimulasi naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Pemilik asam lambung disarankan untuk mengonsumsi makanan yang mudah dicerna, tidak mengandung gas, atau tinggi kadar lemak. Pengolahan makanan juga diutamakan dilakukan dengan cara merebus, kukus, tumis, dan menggunakan santan encer.

Jenis makanan tertentu diketahui dapat meningkatkan jumlah asam dalam lambung. Anda juga disarankan untuk mengurangi makanan tinggi serat, lemak, dan makanan yang sulit dicerna karena dapat membuat kerja lambung lebih berat.

Pemilik asam lambung juga tak disarankan mengonsumsi makanan sekaligus dalam jumlah besar. Selama berpuasa, bagi konsumsi makanan menjadi empat kali waktu makan di antaranya saat sahur, berbuka, makan malam, dan camilan malam.

"Sebelum makan sahur, konsumsi segelas air putih hangat dengan camilan ringan bersumber karbohidrat," kata Rita.

Ambil porsi kecil sajian santap sahur. Konsumsi sembari duduk santai dan tidak terburu-buru.

Jangan langsung terbaring setelahnya. Anda justru disarankan untuk melakukan aktivitas ringan. Jika ingin berbaring, lakukan tiga jam setelah santap sahur.

Sementara untuk berbuka puasa, Anda disarankan untuk mengonsumsi minuman hangat. Anda tak dianjurkan untuk mengonsumsi minuman dingin karena akan merangsang asam lambung.

Sebagai makanan pembuka, Anda bisa memilih camilan bersumber karbohidrat yang mudah dicerna seperti lontong isi, roti bakar, kurma, puding, dan kentang rebus.

"Sementara makan malam dapat dilakukan setelah salat Magrib dengan porsi kecil yang komposisinya menyerupai sajian santap sahur," ujar Rita.

Anda tak disarankan untuk langsung berbaring setelah makan malam. Anda dapat mengonsumsi camilan ringan yang terdiri dari sumber protein dan buah menjelang tidur.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)