Kehidupan Malam di Kolombo Lesu Setelah Pengeboman

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 07/05/2019 20:02 WIB
Kehidupan Malam di Kolombo Lesu Setelah Pengeboman Park Street Mews di Kolombo, Sri Lanka. (LAKRUWAN WANNIARACHCHI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebelum kelompok teroris meledakkan gereja yang sedang menggelar perayaan Paskah di Sri Lanka, Rangana Wijesuriya biasa berpesta sampai dini hari di bar dan kelab malam di Kolombo.

Saat ini, setelah serangan pada 21 April yang menewaskan 257 orang itu, keramaian pesta seakan hilang. Para DJ tampil di lantai dansa yang kosong. Pelayan bar dan kelab malam hanya duduk-duduk di pinggir meja.

Wijesuriya datang bersama satu orang temannya. Hanya mereka berdua pengunjung dalam bar malam itu.



"Biasanya sangat ramai dan sangat bising di sini. Kami terkejut melihat sekarang benar-benar kosong," kata Wijesuriya (26), seperti yang dikutip dari AFP pada Selasa (7/5).

Sri Lanka masih berstatus waspada setelah tiga hotel dan gereja dibom dalam serangan yang diklaim oleh ISIS.

Park Street Mews, jalanan penuh bar, kelab malam, dan restoran, terlihat sepi pada Jumat malam pukul 20.00. Wijesuriya mengatakan mungkin dirinya akan segera pulang ke rumah.

Selain Wijesuriya dan beberapa pengunjung yang terlihat melintas, sepertinya sebagian besar penduduk dan turis di Sri Lanka masih merasa trauma dengan kejadian pengeboman tersebut.

Harpo Gooneratne, salah satu pemilik bar dan restoran, mengatakan kalau kehidupan malam di Kolombo sangatlah sibuk.

"Kehidupan malam Colombo, selama beberapa tahun terakhir, telah meningkat karena kunjungan turis semakin meningkat," kata Gooneratne kepada AFP.

"Ada lebih banyak bar, lebih banyak restoran yang buka, kehidupan malam Kolombo mengalami perubahan besar. Kehidupan malam Kolombo sedang bergairah," katanya.

Dan dia berharap segalanya akan segera pulih.

"Saat ini suasana sedang sepi tapi kami akan akan segera pulih. Penduduk lokal akan segera meramaikan jalanan," ia memperkirakan.


Di pintu masuk Park Street Mews, penjaga keamanan memeriksa tas pengunjung untuk mencari bahan peledak, dan blok beton telah dipasang untuk mencegah serangan dengan kendaraan.

Cafe Francais, salah satu restoran terkenal di jalanan itu, biasanya menolak reservasi setelah pukul 22.00. Untuk bisa mendapatkan meja di sana, biasanya para tamu mengirimkan supirnya.

Namun kini restoran Prancis itu terlihat sepi. Sang manajer, Jean-Charles Toussaint, mengatakan kalau ruangan hanya terisi setengahnya.

"Situasi kurang baik. Tapi itu bisa dimengerti, karena saat ini kurang dari dua minggu sejak serangan. Segalanya harus berjalan kembali perlahan," kata Toussaint kepada AFP.

Natalie Jayasuria, pemilik gedung Flamingo House, tempat sejumlah bar, kelab malam, dan restoran berada, setuju dengan hal tersebut.

"Sri Lanka adalah negara yang ulet. Kami berperang selama 30 tahun, kami selamat dari itu. Saya percaya kami bisa selamat dari apa pun," katanya.


[Gambas:Video CNN]

(ard)