Mengolah Emosi Negatif Agar Ibadah Puasa Tak Terganggu

Tim, CNN Indonesia | Senin, 03/06/2019 13:25 WIB
Mengolah Emosi Negatif Agar Ibadah Puasa Tak Terganggu Ilustrasi. (Istockphoto/kate_sept2004)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berpuasa tak hanya mewajibkan umat Islam untuk menahan lapar dan dahaga, tapi juga mengendalikan emosi negatif pada diri. Perasaan negatif hanya akan membuat ibadah puasa tak afdal.

Manusia memiliki beragam emosi. Cemas, marah, cemburu, dan bersedih hati adalah sederet emosi negatif yang hampir selalu tak diinginkan dan membuat seseorang merasa buruk akan dirinya sendiri.

Sebagian orang merasa bahwa mereka tak mampu mengendalikan emosi negatif. Padahal, tidak. Seseorang mampu dan bahkan cenderung mencoba untuk berpikir lebih rasional lantaran tak ingin emosi mengambil alih semuanya.


Artinya, emosi negatif dapat diolah dan dinikmati selayaknya emosi positif mengutip Insider. Beberapa tips dapat Anda ikuti untuk meredam emosi negatif saat berpuasa.

1. Marah
Sering kali kemarahan timbul karena ketidakadilan. Neo menyarankan Anda untuk memahami sumber kemarahan yang dialami.

"Jika ini [kemarahan] benar-benar [disebabkan oleh] ketidakadilan, apa yang bisa Anda lakukan?" ujar Neo.

Saat sumber kemarahan dipahami, selanjutnya adalah tugas Anda untuk menemukan apa yang seharusnya dilakukan.

2. Cemas
Rasa cemas muncul sebagai reaksi alami tubuh yang mengingatkan akan adanya potensi bahaya.

Saat kecemasan melanda pikiran, Anda disarankan untuk memikirkan tentang apa yang kira-kira akan datang dan bisa mengubah hidup.

"Jika merasa cemas, artinya tubuh meminta pemiliknya untuk meninggalkan situasi tersebut," kata Neo.

3. Cemburu
Cemburu adalah emosi yang rumit. Bukan cuma soal cemburu dalam hal hubungan romantis tetapi juga relasi dengan teman atau bahkan orang yang sama sekali tak dikenal. Merasa cemburu bisa menimbulkan kebencian.

Cara terbaik untuk mengolah cemburu adalah dengan kejujuran. Tanya pada diri sendiri tentang bagaimana cara untuk mencapai apa yang diinginkan.

4. Rasa bersalah
Rasa bersalah berhubungan erat dengan empati. Ada tekanan untuk melakukan sesuatu yang terkait dengan tanggung jawab.

Jika rasa bersalah terus muncul, cukup tanyakan 'mengapa' pada diri Anda sendiri. Seseorang tak bisa selalu tampil sempurna dan bisa membuat orang lain bahagia.

5. Malu
Rasa malu menjadi sinyal bahwa seseorang perlu memeriksa hidup dan caranya memandang diri sendiri. Memeriksa rasa malu bisa membuat seseorang sadar bahwa perasaan itu hanya muncul dari seseorang di masa lalu.

Rasa malu, kata Neo, merupakan 'undangan' untuk pengampunan. "Sering kali kita tidak pernah memaafkan diri sendiri," katanya.

[Gambas:Video CNN] (els/asr)