Manajemen Kebersihan Menstruasi Jadi PR Buat Sekolah

tim, CNN Indonesia | Selasa, 28/05/2019 19:41 WIB
Manajemen Kebersihan Menstruasi Jadi PR Buat Sekolah ilustrasi ( DieterRobbins/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanggal 28 Mei resmi diperingati sebagai hari kebersihan menstruasi sedunia. Perlu ada kesadaran untuk menerapkan manajemen kebersihan menstruasi (MKM) di mana pun termasuk di sekolah. Namun pada kenyataannya, sebagian sekolah masih terbilang 'kurang' dalam menerapkan MKM. 

Dari riset terbaru yang dilakukan Yayasan Plan International Indonesia bekerjasama dengan The SMERU Research Institute, ditemukan penerapan MKM di sekolah masih buruk. Silvia Devina, Water, Sanitation, Hygiene & Early Childhood Development Advisor, Yayasan Plan International Indonesia mengatakan riset dilakukan di 9 sekolah di tiga provinsi yakni, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. 

Dari riset ditemukan sebanyak 33 persen sekolah tidak menyediakan toilet terpisah untuk anak perempuan dan anak laki-laki. 



"Anak menghabiskan sebagian waktunya di sekolah. Saat menstruasi, dia enggan ke toilet karena tidak nyaman. Kami menemukan ada anak perempuan yang tidak nyaman menggunakan toilet saat menstruasi sehingga ganti pembalut kalau sudah di rumah. Setelah 8 jam dia tidak ganti pembalut. Tentu ini bisa menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang," kata Silvia dalam gelaran Menstruation Hygiene Day 2019 di Kantorkuu Coworking Space, Agro Plaza, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (28/5). 

Selain itu, sebanyak 21 persen siswi hanya mencuci tangan dengan sabun sesudah ganti pembalut. Padahal sebaiknya cuci tangan dengan sabun dilakukan sebelum dan sesudah ganti pembalut demi menjaga kebersihan organ reproduksi. 

Tim riset menilai, buruknya MKM ini disebabkan oleh tiga hal yaitu, keterbatasan sarana, norma budaya yang tidak mendukung, dan pengetahuan tentang menstruasi dan MKM minim.

Hal ini diperkuat dengan temuan sebanyak 63 persen orang tua siswi tidak memberikan pengetahuan tentang menstruasi yang cukup buat anak perempuannya. Di samping itu, pengetahuan tentang menstruasi pun tidak diberikan oleh 45 persen orang tua terhadap anak laki-lakinya. Alasannya, pengetahuan dianggap tidak perlu dan tidak pantas. 

Silvia menuturkan temuan yang cukup menjadi perhatian ialah di NTB. Jika di kota persoalannya membuang pembalut masih di toilet, maka di sana pembalut bekas akan dikubur di belakang rumah.

"Ini bahaya kalau dekat dengan sumber air karena bisa mencemari," katanya. 

Menstruasi masih tabu dibicarakan apalagi soal pembalut. Di NTT, lanjut Silvia, ada seorang ibu yang memasang pembalut secara terbalik. Praktik yang salah ini bisa saja diturunkan ke anak-anak mereka. 


"Intervensi dilakukan di usia 9 tahun (saat) anak-anak mulai pertama mendapatkan menstruasinya. Kami melihat kalau di kota rata-rata kelas 5 SD, sedangkan di pedesaan di usia SMP," imbuhnya. 

Dia pun berkata sekolah perlu memaksimalkan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) demi memaksimalkan literasi mengenai menstruasi dan MKM.  (els/chs)