Mengenali Diri Sendiri Jadi 'Gerbang' Memahami Menstruasi

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 29/05/2019 10:02 WIB
Mengenali Diri Sendiri Jadi 'Gerbang' Memahami Menstruasi Ilustrasi. (Istockphoto/South_agency)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menstruasi tak ubahnya proses tumbuh kembang anak. Fase memasuki masa pubertas itu layak menjadi perhatian orang tua.

Namun, belum semua orang tua sadar untuk membicarakan masa menstruasi pada si buah hati. Padahal edukasi kesehatan reproduksi dimulai dari rumah, sebagai lingkungan terkecil si anak.

Sebanyak 63 persen orang tua mengaku tak pernah menjelaskan ihwal menstruasi pada anak perempuannya. Sedangkan sebanyak 45 persen orang tua merasa tak perlu menjelaskan hal tersebut pada anak laki-lakinya lantaran dianggap tak pantas. Angka ini didapat dari hasil riset Yayasan Plan International Indonesia dan The SMERU Research Institute.


Orang tua disebut kerap kebingungan untuk memulai obrolan tentang menstruasi pada anak. Hal itu wajar, sebab umumnya anak akan merasa takut.

"Jika obrolan langsung dimulai dengan menstruasi, anak bisa merasa takut," ujar ahli kandungan, dr Dyana Safitri Velies, saat ditemui di sela-sela gelaran Menstrual Hygiene Day 2019 di Kantorkuu Coworking Space, Jakarta Selatan, Selasa (28/5).

Pubertas, kata Dyana, tak sebatas menstruasi. Mengenali diri sendiri termasuk ke dalam salah satu rangkaian masa pubertas.

"Kenapa ada jenggot, payudara membesar. Biasanya ini [mengenali diri sendiri] dulu [sebelum masuk ke obrolan soal menstruasi]," kata Dyana.

Dyana menyarankan orang tua untuk memulai edukasi dengan mengajak anak mengenali diri terlebih dahulu. Kesehatan reproduksi seperti organ intim perempuan dan laki-laki bisa menjadi pilihan topik pertama.

Selanjutnya anak bisa diajari tentang ranah privasi dari organ intim. Orang tua, kata Dyana, perlu memberi tahu bahwa ada bagian-bagian tertentu pada tubuh yang tak boleh disentuh sembarang orang.

Cara tersebut, lanjut Dyana, bisa ditanam sejak dini melalui kebiasaan anak kecil mengganti baju atau mengganti popok di ruang tertutup. Namun, menurut pengamatannya, orang tua justru kerap melakukan hal sebaliknya. Mengganti baju anak di ruang publik dianggap hal yang lumrah.

"Banyak anak digantikan baju di tempat umum, popok juga. Itu biasa aja. Nah, itu kan bentuk orang tua tidak menghargai privasi anak," jelas Dyana.

Saat anak tahu apa yang menjadi privasinya, orang tua bisa maju ke topik obrolan berikutnya untuk kemudian memberi pemahaman ihwal menstruasi. Misalnya, perubahan fisik seperti pertumbuhan payudara pada perempuan dan kumis serta jenggot pada laki-laki.

"Kalau orang tua sama anak, kan, punya waktu banyak, jadi bisa bertahap," kata Dyana.

Edukasi tentang kesehatan reproduksi, khususnya menstruasi, tak cuma berlaku bagi anak perempuan. Anak laki-laki juga perlu tahu bahwa menstruasi merupakan salah satu fase dalam masa pubertas remaja.

Pengetahuan soal menstruasi dapat mengurangi potensi perundungan yang terjadi pada remaja perempuan saat datang bulan. Dalam riset yang sama, disebutkan bahwa sebanyak 39 persen remaja perempuan Indonesia mengalami perundungan saat datang bulan.

"Bully terjadi karena ketidaktahuan. Remaja laki-laki sebaiknya diberitahu bahwa ini adalah proses normal yang membuat perempuan bisa melahirkan. Kita semua lahir dari rahim ibu [perempuan]," ujar perwakilan Yayasan Plan International Indonesia, Silvia Devina, dalam kesempatan yang sama.

Pemahaman diperlukan agar anak laki-laki mulai peduli. "Supaya enggak ngejek," tegas Silvia.

Untuk itu, diperlukan adanya kerja sama dari berbagai pihak. Selain edukasi menstruasi sejak dini dari orang tua, pihak-pihak terkait lainnya seperti staf pengajar di sekolah juga dianjurkan untuk memberikan pemahaman serupa.

[Gambas:Video CNN] (els/asr)