Surat Dari Rantau

Ramadan Terakhir di Karachi

Alfaruq Reza Basuki, CNN Indonesia | Senin, 03/06/2019 07:20 WIB
Ramadan Terakhir di Karachi Solat Idul Fitri di Karachi. (Foto: REUTERS/Akhtar Soomro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pakistan, tepatnya di Karachi, menjadi tempat pilihan saya untuk memperdalam ilmu Islam khususnya tentang tafsir Hadist. Berbekal informasi dari beberapa kawan jamaah Tabligh serta doa dari orang tua, saya akhirnya berangkat ke Karachi meninggalkan kampung halaman di Malang.

Karachi dulunya merupakan ibukota Pakistan. Kota terbesar di Pakistan ini menjadi pusat ekonomi dan komersial negara dengan tiga pelabuhan terbesar di dalamnya.

Sayangnya Karachi menjadi sedikit amburadul karena kurangnya perhatian dari pemerintah setempat.


Satu hal yang mengingatkan suasana Karachi dengan ibukota Jakarta, yakni ramainya populasi warga serta kemacetan yang tak pernah absen terjadi.

Tidak ada hambatan berarti selama saya tinggal disini. Hal ini karena saya bukanlah satu-satunya pelajar Indonesia yang melanjutkan studi di Karachi. Setidaknya ada 250 WNI berdomisili di Karachi, yang 50 persen diantaranya merupakan pelajar Indonesia.

Hanya butuh waktu empat bulan hingga saya akhirnya bisa berbaur dan berkomunikasi dengan masyarakat setempat.

Saya juga memanfaatkan kurun waktu itu untuk belajar bahasa Urdu, bahasa asli Pakistan. Bisa dibilang bahasa Urdu mirip dengan Hindi, hanya saja alfabet yang digunakan lebih mirip bahasa Arab dengan logat tersendiri.

Jujur, saya sempat mengalami culture shock saat pertama kali menjejakkan kaki di Karachi. Perbedaan yang paling menonjol adalah perangai orang Pakistan dan Indonesia yang cukup bertolak belakang.

Orang-orang disini berwatak keras dan tidak mau mengalah. Mereka juga agak kurang toleran dengan kami yang berbeda bahasa. Namun, seiring berjalannya waktu, saya akhirnya bisa berbaur dengan mereka. Saya malahan ikut terbawa sifat tidak mau mengalah mereka.

Namun, ada satu hal yang saya kagumi dari kebiasaan orang Pakistan. Meskipun mereka berwatak keras, mereka tak pernah tanggung-tanggung ketika menjamu tamu yang berkunjung ke rumahnya. Hampir semua yang mereka punya akan disajikan kepada para tamu.

Kalau urusan keagamaan, orang Pakistan tak perlu diragukan lagi. Karena mayoritas disini adalah Muslim, mereka selalu bagi-bagi takjil gratis di bulan suci Ramadan. Mereka bahkan berlomba-lomba melakukan kebaikan guna menabung banyak pahala.

Tahun ini adalah tahun kelima saya tinggal di Pakistan sejak memutuskan meninggalkan tanah air pada 2014 lalu.

Bicara soal Ramadan dan puasa di Pakistan, tidak ada tantangan besar yang saya alami. Hanya saja, karena bulan puasa bertepatan dengan musim panas yang bisa mencapai suhu 40 derajat, siang hari jadi lebih panjang dan waktu puasa otomatis menjadi lebih lama.

Saya biasanya sahur pukul 03:30 dan berbuka pukul 19:30 waktu setempat. Di Pakistan, orang-orang juga ngabuburit yang biasa dilakukan 30 menit sebelum adzan. Mereka akan meramaikan jalan raya sambil menyediakan takjil gratis seperti gorengan, buah, dan menu lainnya.

Samosa dan segelas sirup Surbat beraroma melati menjadi menu wajib saat berbuka puasa di Pakistan.

Selain itu, mengkhatamkan Alquran sebelum hari ke-27 Ramadan menjadi satu lagi kebiasaan orang Pakistan selama Ramadan. Banyak masjid akan dipenuhi anak-anak dan orang dewasa yang melakukan pembacaan surat sebanyak satu juz dalam rangkaian salat Tarawih 23 rakaat.

KBRI dan KJRI Pakistan juga selalu mengadakan buka bersama dengan para WNI dan pelajar Indonesia di setiap akhir pekan selama Ramadan. Rangkaian acaranya mencakup salat ashar, ceramah, kemudian buka bersama yang dilanjutkan dengan salat isya dan Tarawih bersama.

Menjelang sepuluh hari terakhir puasa, KBRI Pakistan akan melakukan itikaf bersama dengan WNI lainnya.

Meskipun banyak berita mengatakan Pakistan itu tidak aman, faktanya, selama empat tahun tinggal di Karachi, saya belum pernah mengalami kejadian tak mengenakkan.

Pakistan memang sempat mengalami huru-hara dan konflik, tapi itu dulu. Sekarang, negara ini telah memperketat keamanan dan memberikan perlindungan bagi warganya.

Tak heran jika berkunjung ke sini, kita akan melihat banyak sekali polisi dan tentara di jalan raya lengkap dengan senjata dan laras panjang ditangannya.

Namun, saya juga sempat mendengar segelintir cerita dari teman kelas yang pernah mengalami pembegalan. Bedanya, orang disini membegal dengan senjata api bukan menggunakan pisau atau celurit seperti di Indonesia.

Saat ini saya tengah mempersiapkan kepulangan ke tanah air. Saya hanya tinggal menunggu penyetaraan ijazah yang sedang di proses. Alhamdulilah, saya mampu menyelesaikan studi magister dalam kurun 5 tahun, satu tahun lebih cepat dari yang ditargetkan.

Untuk teman-teman yang hendak melanjutkan studi di Pakistan, saya sarankan untuk menguatkan mental. Hal ini sangat diperlukan mengingat kultur, makanan, juga tabiat orang Pakistan yang bertolak belakang dengan Indonesia, mungkin akan menjadi tantangan tersendiri bagi para WNI.

Minimal kita harus 'siap tempur' saat sudah tiba di sini.

Sedangkan, bagi yang ingin berwisata ke Pakistan, saya merekomendasikan agar berkunjung ke wilayah utara, di ibukota Islamabad. Banyak sekali wisata alam seperti Danau Saiful Muluk serta pegunungan indah di Pakistan, khususnya ketika winter pada bulan Desember hingga Februari.

[Gambas:Video CNN] (agr)